The Betrayal

The Betrayal
Dalam jutaan keraguan


Rumah sakit xxxxxxx


Pusat kota.


Jessica mengikuti langkah Yavuz secara perlahan, dia Cukup ragu-ragu mengikuti langkah laki-laki tersebut, karena pandangan beberapa orang tertuju kepada mereka. Mencoba tahu diri mungkin orang-orang mengenali Yavuz dan berpikir jika laki-laki tersebut membawa Perempuan hamil ke sana. Tatapan orang-orang penuh keingintahuan seolah-olah mengintimidasi Yavuz yang menghamili seseorang tanpa menikahi nya.


Jessica seketika merasa bersalah.


Laki-laki tanpa dosa tersebut seolah-olah sedang memikul beban berat atas kesalahan dari orang lain.


"Mister...."


Jessica bicara pelan, mencoba menghentikan langkah kakinya saat mereka masuk pada bagian lorong rumah sakit yang sepi, dia menatap punggung laki-laki dihadapan nya untuk beberapa waktu.


Yavuz yang mendengar Jessica memanggil nya langsung menghentikan langkah kaki nya, dia menoleh dan menatap ke arah perempuan tersebut dengan penuh tanda tanya.


"Aku bisa pergi sendiri, mister bisa meninggalkan aku sendiri di sini"


Pada akhirnya Jessica bicara pelan, menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah, dia menautkan kedua belah tangannya dengan perasaan cemas.


"Aku merasa bersalah menyeret mister pada persoalan hidup ku, biar aku mengatasi semua nya sendiri, selama ini aku juga ..."


"Bukankah aku sudah bilang mari tidak membahas soal ini lagi?"


Tiba-tiba Yavuz memotong kata-kata nya, menatap sosok Jessica yang terus menundukkan kepalanya dengan jutaan rasa bersalah.


Mendengar ucapan Yavuz seketika membuat Jessica perlahan menaikkan kepalanya. Kini laki-laki tersebut melangkah merapat kan dirinya,. kemudian menatap dalam wajah Jessica.


"Mari tidak lagi bicara soal kata bersalah, mulai kemarin bukankah aku sudah bilang aku akan mempertanggung jawabkan semua nya? kita Cukup melangkah ke depan dan tidak usah pedulikan soal apapun, kau dan anak ini akan menjadi tanggung jawab ku hingga akhir"


Laki-laki itu bicara, sedikit lebih banyak dari biasanya, ekspresi yang di keluarkan Yavuz terlihat Cukup aneh, seperti nya dia agak keberatan mendengar apa yang Jessica katakan tadi.


"Tapi kami..."


Dia ingin bilang mereka berdua tidak seharusnya menjadi tanggung jawab penuh laki-laki tersebut yang tidak tahu apa-apa dan lagi dia masih meragukan soal pernikahan yang di tawarkan oleh Yavuz.


Pernikahan itu hanya akan menjadi beban untuk Yavuz, seorang laki-laki single yang belum menikah harus membinasakan masa depan nya hanya karena seseorang seperti dia dan anak yang di kandung nya.


"Bukankah kita saling membutuhkan antara satu dan yang lainnya? kamu membutuhkan suami, anak ini membutuhkan ayah nya dan aku butuh pernikahan dan juga...."


Yavuz menyela, bicara kembali ke arah Jessica sembari menatap kearah perut Jessica.


Dan juga aku butuh anak ini untuk menjadi bagian dari pada penerus Yavuz Futtaim Group.


Dia butuh penerus bukan pernikahan untuk diri nya.


Namun realita dia tidak tahu kenapa segala sesuatu yang direncanakan dengan matang oleh manusia bisa berubah dalam sekejap atas keinginan tuhan.


Kenapa semua jadi se kacau ini?!.


Dan Yavuz juga tidak tahu kemana hubungan mereka akan berjalan ke depan nya setelah anak itu lahir.


Jessica terlihat diam mendengar ucapan Yavuz, lagi kata penikahan membebani diri nya.


"Pernikahan tidak se simple yang kamu bayangkan mister, dan aku gagal dalam waktu singkat karena sebuah permainan"


Pada akhirnya Jessica membuka suaranya, memperingati Yavuz soal masa lalu nya dan pernikahan nya.


"Terkadang kita berpikir menikah untuk mencoba melindungi seseorang atau mungkin untuk meraih keuntungan, nyata nya kita terikat pada beban besar yang merantai kaki kita seperti belenggu penjara paling mematikan di dunia, bahkan pernikahan itu mencekik kita dan siap membunuh kita dalam banyak situasi didalam hidup kita"


Jessica bicara, mendongakkan sedikit kepalanya, menatap Yavuz yang berdiri dihadapan nya.


"Dan aku tidak siap tidur dengan laki-laki yang berbeda mister, yang bukan ayah dari anak ku, bagaimana bisa aku mengotori janin yang tidak berdosa atas banyak dosa-dosa ku?"


Lanjut Jessica lagi.


"Dan aku terlalu sulit untuk memastikan mister adalah laki-laki baik yang tidak ubahnya sosok iblis yang bertopeng kan dewa untuk mencintai seseorang dengan kepura-puraan"


Setelah berkata begitu Jessica menggelengkan kepalanya secara perlahan, satu ingatan Menghantam nya.


"Jadi dia bukan anak ku bukan?"


Wajah Sean kala itu persis seperti setan yang begitu mengerikan, menampilkan kemarahan dengan bola mata merah yang begitu menakutkan, laki-laki itu mencengkram wajah nya dengan tangan kirinya dan tangan kanan Sean siap menghancurkan kehidupan lain diperut nya kapan saja.


Dia berbaring di atas kasur dengan posisi Sean menindih nya, tidak membiarkan dia bernafas dengan baik bahkan siap membekap mulut nya kapan saja dengan bantal yang ada di sisi kanan nya.


Air mata Jessica mengalir perlahan sembari dia menahan sakit di rahang nya, mencoba memohon untuk melindungi perut milik nya.


"Kau membohongi ku soal anak haram ini, bahkan kau menipu Tiffany agar membenci ku, berani sekali kau melakukan itu pada ku jala.ng sialan"


"Bagaimana caranya malam itu kau bisa menipu ku dan menggagalkan rencana ku untuk menjebak Tiffany, sialan"


Dan Jessica memilih membungkam mulutnya dan tidak pernah mau mengatakan apa soal apa yang terjadi pada malam itu kepada mereka bertiga.