The Betrayal

The Betrayal
Malam yang begitu manis


Dru benar-benar membeku, tidak habis pikir gadis tersebut akan menerjang bibir nya dengan ciuman manis, begitu lembut dan hangat membuat Dru seketika kehilangan kata-kata nya.


"Aku suka mendengar nya"


Bisik Tiffany nakal setelah gadis tersebut melepaskan ciuman nya, dia mengembangkan senyuman terbaik nya dan berniat melepaskan diri dari Dru. Begitu lilitan tangan nya terlepas hal tidak terduga terjadi, Tiffany seketika terkejut karena tiba-tiba saja Dru menahan dirinya, laki-laki tersebut seketika langsung meraih tengkuk Tiffany dan kali ini dengan perlahan dia menggenggam erat pinggang Tiffany dan didetik berikut nya laki-laki tersebut langsung melesatkan ciuman pada Tiffany.


Membuat gadis tersebut mengedipkan bola mata nya berkali-kali.


Dru kali ini lebih nekat dan nakal dari nya.


Ciuman mereka terjadi cukup lama, awal nya hanya bibir saling menyatu antara satu dengan yang lainnya, di detik berikutnya permainan laki-laki tersebut lebih nakal dari sebelumnya, bergerak membawa Tiffany melayang-layang ke udara dimana kini ciuman tersebut semakin bergerak kedalam menjelajahi tiap rongga mulut gadis tersebut.


Bahkan tangan nakal Dru mulai berselancar menuju pada kain handuk mendominasi berwarna putih, bergerak lembut menjelajahi kulit seindah giok China, seputih salju di musim dingin juga semulus sutra paling terindah dan termahal di dunia. Merangkak naik menuju ke gunung Himalaya, membiarkan Cengkraman kokoh tersebut meraup perlahan bagian yang mencuat sempurna.


Sentuhan Dru membuat sang empunya Seketika memejamkan bola matanya, merasakan satu sensasi yang nyaris memporak-porandakan seluruh isi perutnya, tiba-tiba ada yang berdenyut-denyut, menciptakan satu adrenalin yang membuat dia merasa ada yang membuat nya basah.


Apalagi saat laki-laki tersebut dengan nakal menyentuh puncak gunung Himalaya, membiarkan Jemari menjelajahi bagian kecil yang mampu membuat aliran listrik naik seketika hingga ke atas kepala, tanpa sadar bibir indah sang empunya mengeluarkan suara paling memalukan nya.


"Akhhhh kak..."


Demi apapun rasanya terlalu manis dan nikmat, pertama kali dia merasakan nya dan ini terasa siap untuk membunuhnya dengan suka cita hingga membelenggu nya dalam gelombang hasrat berbeda dimana Tiffany Seolah-olah pasrah dengan segala keadaan yang ada.


Mendengar deru suara mendayu nan menggoda, jelas saja membuat Dru semakin bersemangat di buatnya, tidak pernah menyangka malam ini mereka bisa sampai pada titik yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Terlalu serakah, Dru enggan melepaskan ciuman nya, menenggelamkan Tiffany pada bawah kungkungan nya, mereka tenggelam bersama didalam kasur mendominasi berwarna putih tersebut, siap mengarungi malam untuk menuntaskan hasrat yang tertunda dibawah gelap nya langit dan udara AC kamar yang terus menyala berganti pada rasa panas membara atas persembahan perpaduan dua anak manusia didalam kamar berukuran cukup besar tersebut.


Dru terus menjelajahi rongga mulut istrinya, menjelajah disana dan mengajarkan Tiffany bagaimana cara berperang lidah antara satu dengan yang lainnya, suara perpaduan dalam perang yang di ciptakan menimbulkan bunyi-bunyian sesapan yang memenuhi ruangan, hingga akhirnya sang empunya lidah mulai melepaskan diri dari sisi tersebut dan menjelajahi bagian dagu, leher hingga ke arah bawah sana.


Meskipun tidak dipungkiri Dru telah sampai pada puncak keinginan terbesar nya, dia mencoba melepas kan keadaan dan menatap dalam wajah Tiffany yang terlihat begitu pasrah.


Keringat membasahi wajah cantik tersebut, rambut basah Tiffany terlihat sedikit acak-acakan, menampilkan sisi eksotis dan menggoda tersendiri yang membuat Dru semakin gelisah dan panas di buatnya.


Kini netra mereka bertemu ketika Tiffany berusaha menarik kesadaran nya, menatap balik Dru dengan pandangan sayu dan pasrah nya.


"Tiff .."


Suara Dru terdengar serak, Seolah-olah menahan satu hasrat yang siap tumpah kapan saja.


"Bolehkah?"


Dia bertanya, menahan akal waras untuk mendapat kan izin dari istri nya, tidak ingin tergesa-gesa dan serakah, melakukan hal pertama tanpa izin dari sang empunya tubuh dihadapan nya.


Mendengar pertanyaan Dru, wajah Tiffany seketika memerah, dia malu tapi berusaha menahan rona malu di wajah nya, dengan perlahan menganggukkan kepalanya, kemudian berusaha masuk kedalam pelukan Dru karena malu atas jawabannya.