The Betrayal

The Betrayal
Membawa nya bermain


Kembali ke masa kini


Mansion utama keluarga Xavier.


Saat semua orang telah selesai menikmati makan malam bersama, mommy Lana lan berkata.


"Menginap disini kan? kebetulan Keluarga besar berkumpul bersama"


Wanita itu bicara dengan penuh semangat menatap Dru dan Tiffany secara bergantian.


mendengar pertanyaan mommy nya Dru berniat untuk bicara dan menolak mengingat seperti nya Tiffany terlihat enggan untuk menginap.


"Mom aku pikir.."


"He em kami akan menginap, mom"


Tiffany buru-buru bicara, menyela ucapan Dru dengan cepat. Hal tersebut membuat Dru langsung menoleh ke arah Tiffany, dia menatap wajah gadis tersebut dengan ekspresi cukup terkejut, dia ingin bicara tapi mengurungkan niatnya.


Entahlah mungkin karena sudah sifat nya irit bicara dan cukup sulit berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya dia tidak pernah ingin bicara banyak atau berinteraksi terlalu banyak terhadap orang banyak disekitar nya.


"Itu bagus, kita bisa bermain tebak kata bersama, kebetulan semua sepupu ada di sini bukan? kami sering memutar botol bersama, membuat sebuah pertanyaan dan harus menjawab dengan jujur setiap pertanyaan dengan kejujuran"


Kak Xia langsung menatap antusias ke arah Tiffany dan Dru, dia melirik pada beberapa anggota sepupu keluarga, lantas menaik turunkan alisnya.


"Boleh, Tiffany selalu sanggup begadang dan bermain ucap jujur setiap kali kami berkemah di sekolah dulu"


Dan seorang perempuan bicara dengan cepat, dia sepupu Dru dan Xia, Defina teman sekolah sejak SMP hingga kuliah Tiffany.


Mendapatkan tantangan seperti itu Tiffany langsung mengembang kan senyuman nya, dia kemudian menoleh kearah Dru dengan cepat.


"Apa aku di izinkan bergabung dan bermain?"


Dan demi apapun senyuman seperti itu yang dirindukan Dru dari Tiffany, dia baru melihat nya selama pernikahan mereka. Dan senyuman itu juga yang membuat dia marah dan berkata dengan ketus pada gadis tersebut beberapa kali di masa lalu.


"Berhenti melebarkan senyuman mu, itu terlihat tidak menyenangkan"


"Katakan pada gadis itu, berhenti mengumbar senyuman pada laki-laki, dia terlihat seperti perempuan penggoda"


Oh...jika ingat dia mengatakan nya kala itu, Dru cukup malu sekarang. Hal itu dilakukan karena senyuman Tiffany terlalu menggoda dan meresahkan untuk nya, dia tidak bisa bernafas dengan baik setiap kali melihat gadis tersebut tersenyum selebar itu terhadap laki-laki lain.


"Gadis disamping Xia cantik, kau lihat senyuman nya sangat menggoda dan menggemaskan, siapa nama nya?"


"Aku akan minta nomor handphone nya pada Xia"


"Aku bertaruh akan mendapatkan nya tidak lebih dari 2 x 24 jam"


Dia langsung menatap wajah gadis yang dimaksud dan mengerutkan keningnya.


"Aku akan turun dan menggoda nya"


Salah satu teman nya mencoba beranjak, ingin turun ke bawah dimana gadis tersebut bergerak dari halaman depan rumah bersama Xia dan mereka ada di lantai atas di teras kamar nya.


"Jangan coba-coba mengganggu nya"


Dru langsung mengeluarkan suara bariton nya, dia sama sekali tidak menatap satu persatu teman nya, lebih memilih meraih gelas minuman nya dan menyesap nya dengan santai.


Mendengar peringatan Dru, semua orang seketika terdiam. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara mereka lagi kemudian.


"Dru?"


Satu suara mengejutkan dirinya diiringi sentuhan di bahunya, laki-laki tersebut langsung menoleh.


"Istri mu meminta izin pada mu"


Itu adalah mommy nya, bicara cepat pada Dru karena tidak menyahut pertanyaan Tiffany.


Dia lupa Tiffany bertanya pada nya apakah dia diizinkan bergabung dan ikut bermain.


Bisa dia lihat senyuman Tiffany memudar, gadis tersebut menundukkan kepalanya dengan ekspresi wajah sedih, Seolah-olah tahu Dru tidak mengizinkan dia untuk ikut bermain dan begadang malam.


Dru langsung berdiri dengan cepat, kemudian menyentuh lembut puncak kepala Tiffany yang menunduk.


"Mari pergi bersama"


Ucap laki-laki itu pelan membuat Tiffany mendongakkan kepalanya, dia menatap Dru untuk beberapa waktu, senyum memudar tadi kembali merekah dengan indah.


"Boleh? benarkah?"


Setidaknya dia butuh izin dari seorang suami untuk melakukan banyak hal, dia sadar diri jika dia bukan lagi gadis single yang bebas melakukan apapun tanpa pengawasan dan izin seseorang.


Alih-alih menjawab, Dru mengulurkan tangannya, menunggu Tiffany menerima telapak tangan kokoh nya dan membawa nya ke mana permainan akan di mulai.


"Kami akan menunggu di atas"


Dru bicara pada semua orang yang akan bermain dengan mereka.


Mendengar hal tersebut secara perlahan Tiffany mengulur kan tangan nya, membiarkan laki-laki tersebut membawa dirinya pergi dari sana.