The Betrayal

The Betrayal
Ibadah terlama


Setelah melewati malam hangat penuh peluh dan membaringkan tubuh untuk beberapa waktu, melepaskan lelah luar biasa yang meremukkan seluruh tubuh pada akhirnya mereka memilih membersihkan diri bersama.


Sudah sifat manusiawi, kewajaran hakiki seorang perempuan masih terlalu malu untuk berada di kamar mandi yang sama dengan sosok halal yang disebut suami oleh kaum hawa, padahal nyatanya melewati sesi percintaan bersama jauh lebih besar tapi perihal mandi bersama terasa jauh lebih besar dan memalukan.


Tiffany berulang kali berkata,


"Jangan menatap ku seperti itu, kak. Aku malu"


Suara nya terdengar begitu rendah penuh malu, wajah merona dengan tatapan yang terus turun karena gugup, keberanian sebelum melewati sesi hangat telah menghilang, dia yang bicara menantang karena gelisah ingin tahu laki-laki dihadapan nya tersebut mencintai dia atau tidak kini kehilangan kata-kata nya, terlalu malu jika ingat mereka melewati sesuatu yang..


Ohhhhh.


Tiffany membalikkan tubuhnya, memejamkan sejenak bola mata sembari menepuk-nepuk lembut kedua belah pipi nya. Baru tahu setelah melewati ronde hangat bersama, menatap kekasih halal terasa begitu memalukan, dia kehilangan keberanian.


Dru terlihat mengulum senyuman, kini terlihat lebih berani setelah mendapat kan hak halal nya, sudah tahu jika cinta nya tidak bertepuk sebelah tangan dan dia merasa terlalu bahagia dengan keadaan.


Lebih berani mengeksplorasi perasaan nya, memanjakan Tiffany dengan tindakan nya tanpa harus terlalu banyak mengeluarkan suara nya.


"Duduk lah didalam bath tub, aku akan membantu memandikan kamu"


Laki-laki tersebut bicara setelah berada tepat dibelakang Tiffany, berbisik lembut dibalik telinga istrinya membuat Tiffany seketika meremang di buat nya.


"Kak...aku..."


Perempuan tersebut sedikit gugup, panik dan bingung tapi Dru membalikkan tubuh sang istri lantas secara perlahan menuntun istri nya agar masuk kedalam bath tub disisi kanan mereka.


Tanpa banyak bicara, laki-laki tersebut menyabuni tubuh istri nya, membersihkan diri bersama dalam bath tub mendominasi berwarna putih, ditemani sabun aroma terapi sembari bercerita soal beberapa hal.


Dru berusaha memangkas jarak, mengakrabkan diri dan menghilangkan kebiasaan diri enggan bicara dan menjadi kaku dalam berbagai situasi.


Baru tahu, bicara dengan istri nya begitu menyenangkan, perempuan tersebut memiliki banyak sisi unik dan ceria, ada bagian menarik yang membuat dia tidak menyesali pernah jatuh cinta dan tergila-gila pada Tiffany untuk waktu yang cukup lama bahkan hingga hari ini.


"Kamu tahu Tiff?"


Dru pada akhirnya melesat kan kata, bicara sambil menggosok pelan punggung istrinya.


"Hmmm?"


Tiffany pada akhirnya bertanya, membiarkan tangan Kokoh tersebut menggosok bagian punggung belakang nya secara perlahan.


Dan Dru bicara dengan begitu serius tapi tidak menekan kalimat nya agar tidak terdengar tidak menyenangkan.


" Setelah menikah tentu saja pada akhirnya kita tak sebebas dulu, pergaulan dengan para teman berkurang, menikmati masa sendiri tidak mungkin lagi terjadi"


Lanjut laki-laki tersebut lagi.


Tiffany terlihat menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan Dru.


"Ketika kita membangun hidup bersama bukankah akan ada hal-hal yang ingin kita bagi berdua, ada tujuan berdua dan ada yang terkadang harus kita bicarakan bersama untuk mengokohkan hubungan rumah tangga bukan?"


lagi Dru bicara, kali ini dia membalikkan tubuhnya, memilih duduk tepat dihadapan Tiffany. Kini bola mata mereka saling bertemu antara satu dengan yang lainnya.


"Oleh karena itu, Ketika kita memiliki banyak waktu luang mari bicarakan mengenai keluarga yang kita impikan, seperti apapun itu misalkan apa yang kamu inginkan atau apa yang aku inginkan, ingin dirumah atau bekerja, ingin memiliki satu tujuan untuk tercapai bersama, ingin melewatkan quality time bersama, membagi peran dan lain sebagainya"


Mendengar ucapan Dru, sejenak membuat Tiffany menelisik bola mata suaminya.


"Mungkin hal di atas terdengar sangat formal tapi sebagai pasangan suami istri, tak ada salahnya mengevaluasi apa yang ingin kita lakukan dengan pasangan bukan?, memikirkan goal yang belum atau sudah kita dapat, apa yang belum tercapai dan sudah tercapai, masalah apa yang akan datang dan persoalan apa yang masih belum terselesaikan dan saat ada masalah saling mengingatkan untuk jangan saling menyalahkan, karena pada dasarnya nya keluarga ini bukan impian sendiri dan rumah tangga dirintis bersama, jika satu hari ada kegagalan atau sandungan, itulah yang harus kita hadapi dan selesaikan bersama."


Ucap Dru sembari terus menatap Tiffany, mencoba menjabarkan keinginan diri bagaimana menjalani rumah tangga, saling bicara dan tidak berdiam diri karena dia type pasif yang dia takut Tiffany akan sedikit kesulitan menghadapi dirinya.


"Dan jangan takut bicara saat aku banyak diam dan lupa mengingatkan atau berbuat salah"


Lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.


"Perjalanan kita baru di mulai Tiff, dan aku ingin ada keterbukaan serta ajak aku berkomunikasi secara aktif, agar tidak timbul komunikasi satu arah yang membuat kehidupan pernikahan kita menjadi datar dan pelik hingga membuat kamu jenuh bersama ku"


Dia terus bicara, menatap istrinya dengan pandangan cemas dan penuh harap.


Mendengar ucapan Dru seketika membuat Tiffany mengembang kan senyuman nya, dia kemudian menyentuh lembut punggung tangan Dru, kemudian perempuan tersebut berkata.


"He em dan Mari bicara jujur soal banyak hal, jangan ada rahasia di antara kita, hingga satu hari saat ujian pernikahan datang kita saling memahami dan tetap saling berpegang teguh antara satu dengan yang lainnya"


Tiffany menambah kan, membiarkan telapak tangan Dru beralih pada pipi kanan nya secara perlahan.


Ini adalah jalan awal pernikahan mereka, tidak tahu bagaimana kedepan nya, asalkan komunikasi berjalan lancar, kejujuran terus diterapkan, tidak ada dusta di antara mereka dan terus bersikap terbuka, ujian hanya bagian dari bumbu dalam berumah tangga.


Dan percayalah rumah tangga itu adalah ibadah paling terlama dari seluruh ibadah yang ada.