The Betrayal

The Betrayal
Terintimidasi


Dru masih menatap dalam bola mata Tiffany, ucapan gadis tersebut membuat dia cukup mati kutu.


"Begitu pintar dan pandai mengatur siasat hingga membuat aku mati kutu" Laki-laki tersebut membatin, mencoba mengulum senyumannya, hanya senyuman tertahan tanpa mau menampilkan nya didepan khalayak ramai.


"Aku cuma butuh Jawaban, ya atau tidak"


Kali ini suara Tiffany terdengar begitu rendah, nyaris tidak bisa di dengar siapapun, jika tidak memiliki pendengaran yang tajam dipastikan tidak ada yang bisa menembus ucapan tersebut kedalam Indra pendengaran mereka.


Dru bisa membaca gerakan bibir istri nya, menatap bibir merah muda yang hanya di polesi lip bam tanpa sentuhan lipstik, bibir pink alami yang memang enggan di sentuh oleh pewarna yang akan menghilang kan warna asli nya dan Dru menyukai nya, terkadang akal nya melemah ingin sekali menyambar bibir indah dihadapan nya dan menikmati rasa manis disana, bahkan berpikir ingin menyentuh nya dengan jemari-jemari kokoh nya namun apalah daya laki-laki seperti dia tidak memiliki keberanian seperti itu, bagi nya bisa menikahi Tiffany sudah merupakan satu pencapaian luar biasa.


Dan dia tidak pernah berani mengungkap kan isi hati nya, karena realita nya laki-laki pendiam sangat sulit mengekspresikan perasaan mereka, takut jika perasaannya tidak terbalas dan takut kehilangan membuat tipe orang-orang seperti mereka memilih diam tanpa mengekspresikan perasaan, lebih suka melakukan tindakan-tindakan yang menyatakan dia mencintai pasangan mereka dari hal paling kecil hingga paling besar sekali pun.


Sayang nya tipe laki-laki seperti mereka tidak sadar jika perempuan terkadang ingin mendapatkan sebuah ungkapan, meskipun hanya sekedar kata.


"Sayang" atau


"Terima kasih"


Dua hal itu mampu membuat seorang perempuan merasa jika mereka dihargai dan di cintai.


"Jawaban nya tidak?"


Tiffany menoleh ke sisi kanan nya dimana Dru berusaha pura-pura memungut sesuatu disamping nya.


Orang-orang pada akhirnya mengalihkan pandangan karena botol kembali berputar dimana mereka menunggu siapa yang dapat giliran.


Mendengar pertanyaan Tiffany yang memojokkan diri nya membuat Dru seketika membenahi diri, dia menatap kembali netra indah yang membuat dia bertahun-tahun jatuh cinta tersebut, ah tidak tepat nya puluhan tahun, itu benar-benar gila.


Dia jatuh cinta sejak Tiffany mulai hadir dihadapan nya, kala itu usia nya mungkin baru menginjak angka 8 atau 9 tahun, dia lupa, tapi waktu itu bukan cinta, Tiffany seperti gadis kecil yang begitu cantik dengan bola mata indah nya.


Jawaban dokter nya benar-benar luar biasa.


"itu bukan penyakit, tapi itu adalah satu bentuk cinta"


Dru mulai semakin gelisah dan gila, menjadi sahabat pena Tiffany dan berulang kali ingin bilang jika Hades adalah Dru dan dia mencintai gadis tersebut, berkali-kali janji bertemu tapi terus gagal hingga Sean memanfaatkan situasi.


"Apakah jawaban dari pertanyaan seperti itu penting untuk seorang perempuan?"


Alih-alih menjawab laki-laki tersebut malah balik bertanya.


Tiffany terlihat diam mendengar ucapan Dru, dia tidak mengeluarkan suaranya untuk beberapa waktu membiarkan tatapan mereka terus saling bertemu.


"Pernah dengar istri berpaling karena suami tidak pernah menyatakan cinta?"


Tiba-tiba gadis tersebut balik bertanya, membuat Dru seketika mengerutkan keningnya.


"Seperti itu bayangan nya jika pasangan tidak pernah memberi dan menerima"


Setelah berkata begitu Tiffany membuang pandangannya.


"Itu hanya sekedar cerita"


Dan gadis tersebut bicara sambil mengembangkan senyuman nya, menatap kearah semua orang dihadapan Tiffany tanpa menoleh kearah Dru sama sekali, membuat laki-laki tersebut seketika menelan salivanya.


Dia merasa terintimidasi.