
Catatan \= ada tipo Lunara mak yah, maafkan lah diri q update banyak kisah barengan jadi tipo namaππ»ππ»ππ»ππ»ππ».
****
Mansion Utama Dru dan Tiffany
Kamar tidur utama Dru dan Tiff.
"Kak...."
Satu suara menggema di sepanjang ruangan, itu adalah suara Tiffany yang baru saja mendapatkan mimpi buruk nya, Perempuan tersebut seketika bangun dari posisi tidurnya, Mencoba menetralisir detak jantung nya untuk beberapa waktu.
"Ada apa?"
Dru ikut terbangun, menatap istrinya dengan perasaan gelisah, mencari gelas air minum dengan cepat dan memberikannya kepada sang istri.
"Mimpi buruk?"
Tanya laki-laki tersebut setelah memastikan Tiffany telah menghabiskan air minum nya.
"Sedikit buruk"
Tiffany bicara,. menatap bola mata suami nya untuk beberapa waktu, membiarkan netra mereka bertemu sembari Tiffany mencoba mengatur detak jantung nya yang tidak baik-baik saja.
"Mau bercerita?"
Tanya Dru pelan.
Tiffany memilih diam untuk beberapa waktu.
"Aku melihat sekumpulan orang menangkap kakak"
Dan Tiffany membuka suaranya perlahan.
Dru tampak diam, menatap istrinya untuk beberapa waktu kemudian dia mengembangkan senyuman nya.
"Hingga se khawatir itu pada ku? keringat dingin dengan detak jantung tidak baik-baik saja hmmm?"
Bisik Dru pelan, membenahi anak rambut istri nya yang berantakan, menyelipkan beberapa sisa poni yang juga kacau balau entah kemana.
mendengar ucapan suaminya, membuat wajah Tiffany sedikit memerah,dia mencubit lengan suami nya dengan ekspresi malu.
"Seorang istri memang seperti itu"
Dia cemberut, sedikit memunyungkan bibirnya sembari menatap dalam bola mata suaminya.
Dru mengulum senyuman nya, dia kemudian membaringkan tubuhnya lantas menepuk-nepuk bantal Tiffany dan berkata.
"Jangan khawatir soal apapun, itu hanya mimpi, kemarilah"
Ucap nya pelan, menunggu Tiffany berbaring dan masuk kedalam dekapan nya.
Sang istri menurut, membenahi posisi nya, kembali berbaring kemudian masuk ke dalam pelukan sang suami.
"Sudah membaca doa untuk mimpi buruk? mimpi yang mengganggu seseorang dan membuatnya tetap terjaga realita nya datang dari gangguan syaitan."
Dru kali ini meletakkan dagu nya di atas kepala Tiffany, membiarkan diri mencium aroma lembut dari kepala sang istri.
Perempuan tersebut mengangguk, dia lupa.
"Huwallahu, allahu rabbi, la syarika lahΓ». Aβudzu bikalimatillahit tammati min ghadhabihi wa min syarri ibadihi wamin hamazatis syayatini wa an yahdhuruni."
Artinya, "Dialah Allah. Allah Tuhanku. Tiada sekutu bagi-Nya. Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan para hamba-Nya, dan godaan setan. Aku pun berlindung kepada-Nya dari kepungan setan itu."
"Cukup mengganggu?"
Dru lagi-lagi bertanya, kali ini dia bertanya serius, tahu bagaimana rasanya setelah bermimpi buruk, ingin kembali tidur rasa nya begitu rumit.
"Hmmmmm rasa nya nyaman"
"Kalau begitu tidur lah diperlukan ku setiap malam"
Dru menggoda, membiarkan Tiffany terus tenggelam di dalam pelukan nya, mencoba mengalihkan perasaan istri nya agar melupakan soal mimpi buruk nya.
"Itu membuat ku takut tidur dan bangun hingga kesiangan, aku mungkin akan mengabaikan tugas sebagai seorang istri"
Tiffany bicara, sedikit terkekeh, mendongakkan kepalanya dan mencoba menatap wajah suaminya.
Dru membenahi posisi, agar sang istri dan dia saling mensejajarkan diri.
Kini bola mata mereka saling menatap antara satu dengan yang lainnya, mereka memilih tidak bicara beberapa waktu, menikmati keindahan momen bersama, saling memuji pemandangan yang ada di depan mata.
Dru sejenak mengulum senyuman nya, dia merapatkan hidung mereka untuk beberapa waktu, membuat sang istri memejamkan bola matanya refleks atas tindakan sang suami.
"Aku pikir tidak mungkin bisa sampai sejauh ini, kamu dan aku menjadi kita, mengikat janji dan tidur di kasur yang sama, saling menatap dan berbagi kisah"
Dia bicara pelan, mengingat bagaimana moment mereka bertemu sejak awal hingga Tiffany dewasa, bahkan kenangan-kenangan menyebalkan mungkin yang paling banyak terjadi di antara mereka.
"Dia benar-benar gadis yang cengeng, mom"
Dia ingat bagaimana dia mengumpat kesal menatap Tiffany kecil menangis di halaman rumah keluarga Cullen, itu sebenarnya pertemuan ke berapa? ah dia lupa.
Gadis tersebut menangis saat dia tidak sengaja melempar nya dengan bola basket dalam permainan nya bersama beberapa teman-teman nya, harga diri nya terlalu tinggi untuk berkata maaf, Tiffany yang merasa kepala nya sakit jelas saja menangis kesal.
Ingat bagaimana kejadian bola basket pada masa itu?"
Dru bertanya, menatap dalam bola mata istri nya.
Tiffany langsung mengembang kan senyuman nya, dia ingat soal itu.
"Kamu menangis dan terlihat sangat cengeng karena sebuah bola"
bisik Dru pelan.
"Tidak, hari itu aku menangis bukan karena bola basket nya"
Jawab Tiffany tiba-tiba.
mendengar jawaban perempuan tersebut seketika membuat Dru mengerut kan kening nya.
"Bukan?"
Tanya nya cepat.
"Aku menangis karena gadis yang ada di lantai atas kediaman Cullen"
Jawab Tiffany cepat.
"Ya?"
Dru jelas saja terkejut.
"Aku benci tatapan nya terus terarah kepada kakak dimana dia berdiri di antara teman-teman kakak yang menonton permainan kakak"
Dan rahasia itu baru berani dia buka setelah bertahun-tahun lama nya.
Dan Dru seketika terkejut di buat nya.
"Aku terkejut mendengar nya, Tiff. bagaimana..?"
Alih-alih menjawab ucapan Dru yang terlihat bingung, perempuan tersebut tiba-tiba menyentuh lembut wajah suami nya, kemudian dia secara perlahan melesat kan satu ciuman manis di sana.
Tidak perlu memberikan penjelasan panjang lebar bukan? karena cinta terkadang berlaku didalam diam.
Banyak orang yang mencintai seseorang tanpa berani mengekspresikan perasaan mereka yang sesungguhnya.
Diam terkadang menjadi pilihan paling bijaksana untuk semua orang.