
Masih dalam posisi mengantuk Tiffany memaksakan diri untuk bangun, bersandar di pinggiran kepala ranjang dan menatap Dru yang mulai menyuapi dirinya secara perlahan. Bola mata perempuan tersebut menatap ke arah suaminya untuk waktu yang cukup lama, menikmati suapan demi suapan yang diberikan oleh sang suaminya. Seulas senyuman terus mengembang di balik wajahnya di mana dia merasa dia selalu diperlakukan istimewa oleh laki-laki tersebut.
"Katakan pada ku ingin pergi kemana saja besok?," Dru bertanya kepada istrinya dengan tatapan hangatnya, sembari tangan kanannya terus menyuapi sang istri secara perlahan.
Mendengar pertanyaan Dru, Tiffany terlihat berpikir dengan keras, dia menaikkan bola matanya ke atas dan menatap ke arah langit-langit kamar.
"Hmmmm aku belum bener-bener memikirkannya sebenarnya aku cukup malas pergi berkeliling atau jalan-jalan ke manapun, kamu tahu saya aku cukup mager dan lebih suka untuk tiduran saja," dia pada akhirnya menjawab dengan cepat sebenarnya cukup malas untuk pergi jalan-jalan.
Tidak tahu kenapa Tiffany merasa sedikit lebih nyaman jika di rumah atau di hotel, karena baginya dia benar-benar malas untuk melangkahkan kakinya kemanapun. Biasanya dia paling semangat jika diajak berlibur tapi kali ini sepertinya Tiffany harus mengesampingkan rasa semangatnya karena malas untuk pergi kemana-mana.
Tidak tahu kenapa, tapi mungkin kah itu efek karena hamil? hingga menciptakan rasa malas yang luar biasa pada dirinya, apalagi di musim salju seperti ini pasti membuatnya berpikir di dalam ruangan adalah pilihan paling terbaik untuk dirinya.
"Itu terdengar sedikit buruk sayang, padahal aku membawamu kemari untuk menikmati bulan madu kita," Dru mengeluarkan ekspresi sedikit ilmu dalam protes'annya, laki-laki itu terlihat menghela nafasya beberapa waktu sembari menatap dalam bola mata istrinya.
"Padahal Ada banyak tempat yang bisa kita kunjungi ketika kita mendapatkan liburan seperti ini." dia kembali bicara sembari menaikkan ujung alisnya.
"Hmmmm," Tiffany terlihat memutar bola matanya sejenak, sepertinya sengaja ingin menggoda suaminya.
"bagaimana jika kita membaginya secara fifty-fifty, kak?," pada akhirnya dia mencoba untuk menawar kesepakatan.
Hal tersebut seketika membuat Dru langsung terkekeh kecil, dia kembali menyuapi istrinya secara perlahan di mana Tiffany membuka mulutnya dan mulai kembali melahap makanannya. Perlahan dia mengunyah makanannya di mana jari-jari tangan kanan Dru secara perlahan membersihkan sisa makanan di pinggir bibir bagian kirinya.
"Fifty-fifty terdengar seperti sebuah tawaran kerjasama yang harus mendatangkan keuntungan di antara kedua belah pihak." Dru bicara sembari mengulum senyumannya dia kemudian meletakkan piring makanan yang ada di tangan kirinya secara perlahan ke atas meja nakas.
Sang istri telah menyelesaikan sesi makan nya setelah perjuangan panjang membujuk perempuan tersebut dan mengikutinya secara perlahan.
"terkadang kita juga membutuhkan nya ketika berada di dalam posisi seperti ini, come on, fifty-fifty tidak terdengar buruk kak, dan itu sangat menguntungkan," sang istri merengek dengan membujuk suaminya sembari meraih lengan laki-laki yang ada di hadapannya tersebut, dia mengedipkan bola matanya berkali-kali dan mencoba untuk merayu.
"kita bagi menjadi dua beberapa hari kita tetap berada di hotel beberapa hari berikutnya kita keluar untuk menikmati destinasi perjalanan wisata?." dan akhirnya sang istri memberikan penawaran yang begitu manis untuk dirinya.
Dru terlihat menimbang untuk beberapa waktu kemudian dia berkata.
"ini seperti penawaran terbatas dan apakah aku akan mendapatkan diskon besar atas tawaran tersebut?," percayalah laki-laki itu kini mencoba untuk menggoda istrinya.
Mendengar kata penawaran dan juga diskon besar membuat Tiffany langsung menaikkan ujung alisnya dan menetap curiga ke arah suaminya.
"Diskon?," dia menggantung pertanyaannya.
"Iya diskon bulan madu di dalam kamar hotel, membuatku tidak berkeinginan untuk keluar karena menikmati indahnya istriku seharian." dan demi apapun sebenarnya kalimat itu tertuju pada hal yang menjurus pada bulan madu yang sesungguhnya.
"Issshhhh kakak-." Seolah-olah menyadari apa yang dimaksud oleh suaminya dia langsung mengeluarkan rona merah disekitar pipinya, menggigit lengan suaminya dengan cara yang begitu manja.
Dru terkekeh kemudian langsung berteriak kecil karena gigitan yang diberikan istrinya, secepat gila laki-laki tersebut langsung menjatuhkan istrinya ke atas ranjang karena Tiffany lagi-lagi mencoba untuk menggigitnya.
"Sayang ini sakit."
"Ahhhhh otak kakak terkontaminasi sesuatu,"
"Bukan masalah, suami suka bicara yang seperti itu pada istrinya,sayang bolehkah aku minta jatah malam ini...?."
"Akhhhhhh no, aku mau tidur."
Suara candaan mereka terdengar memenuhi kamar hotel tersebut, aroma kebahagiaan tercium di sepanjang ruangan di mana mereka berdua terus saling bercanda antara satu dengan yang lainnya tanpa rasa canggung sama sekali seperti awal pernikahan mereka.