
Kembali ke masa kini
Mansion utama keluarga Xavier.
Defina masih menatap penasaran ke arah Tiffany, ingin tahu siapa cinta pertama sahabat baik nya tersebut.
"Katakan pada ku siapa? Oh ya ampun kamu begitu curang, bagaimana bisa aku tidak tahu sama sekali?"
Gadis tersebut jelas saja begitu antusias, bertanya dengan jutaan rasa penasar nya.
"Siapa Tiff? teman sekolah kita?"
Tiffany terlihat mengulang senyumannya dia lantas menggelengkan kepalanya kemudian berkata.
"bukankah jawabannya hanya ya atau tidak betul atau salah? aku tidak punya alasan untuk bicara lebih detail tentangnya"
Gadis tersebut bicara sambil mengedipkan bola mata nya, dia melirik kearah Dru yang terlihat diam mematung untuk beberapa waktu dalam posisi berdiri nya.
"Dru, mau kemana?"
Xia bertanya pada adik nya yang berdiri dan siap menjauh dari posisi nya.
"Mengambil minuman"
"Biar aku yang ambilkan"
Seorang laki-laki bicara, dia adalah suami dari Xia.
"Duduk lah, istri mu mungkin membutuhkan mu, Dru"
Laki-laki tersebut kembali bicara, melarang adik ipar nya kemana-mana, dia berdiri dan bergerak lebih cepat, menghalangi Dru agar tidak beranjak menjauh dari semua orang.
"Berikan sedikit bocoran, aku penasaran siapa cinta pertama mu"
Defina masih mendesak, sengaja melakukan nya karena cukup penasaran dengan cinta pertama Tiffany, dia cukup tidak menyangka sahabat baiknya tersebut sangat pandai menutupi hati nya soal siapa yang di sukai nya selama ini.
Bayangkan bagaimana terkejutnya dia tadi saat Tiffany mengatakan soal kenyataan tadi.
Dru pada akhirnya kembali duduk di samping Tiffany, memilih diam dengan caranya meskipun sebenarnya tiba-tiba dia merasa sedikit serba salah karena agak risih saat Defina mendesak Tiffany untuk bicara dan mengatakan siapa cinta pertama nya tapi realita nya Dru cukup penasaran siapa cinta pertama gadis tersebut.
Laki-laki tersebut begitu duduk seketika tanpa sengaja menyentuh lembut punggung tangan istrinya, niat hati membenahi posisi siapa tahu tangan beradu dan saling menyentuh, membuat Tiffany langsung menoleh karena refleks terkejut.
Dru sendiri terlihat sedikit gugup, mencoba menyingkirkan telapak tangan nya karena malu.
"Mari lanjut kan permainan nya"
Wajah Tiffany sedikit memerah,. mencoba untuk menggenggam telapak tangan nya dengan gugup ketika mereka kini benar-benar duduk tanpa jarak sama sekali.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku Tiff, apa dia teman satu SMP atau bahkan satu SMA kita? kapan pertama kali kamu jatuh cinta? jangan membuat ku penasaran, sumpah kamu terlalu pandai menutupi perasaan kamu, aku pikir Sean cinta pertama kamu"
Defina terus mendesak, dia benar-benar penasaran dibuat nya. Xia terlihat menggulum senyumannya, di menoleh kearah salah satu laki-laki dan meminta laki-laki tersebut memutar botol permainan.
"Pertama kali saat SMP, bukan salah satu teman kita"
Cukup lama hingga akhirnya botol berhenti tepat.....
"Ommo.... Tiffany"
Defina kembali heboh, dia menoleh kearah sisi kanan nya.
"Aku lagi?"
Tiffany mengerutkan keningnya.
"Berikan pertanyaan manohok"
Perintah Defina, itu adalah kekasihnya yang mengarahkan botol tepat pada Tiffany.
"Sayang aku belum tahu harus memberikan pertanyaan apa"
Kekasih nya bicara cepat.
"Aku yang memberikan pertanyaan, apa aku mengenal baik laki-laki tersebut?"
Tiba-tiba dia penasaran, ingin tahu se asing apa laki-laki yang di cintai sahabat nya.
Tiffany terlihat mengembangkan senyuman nya, dia merasa dijebak oleh permainan Defina.
"Aku merasa sedang di jebak"
Protes Tiffany.
"Tentu saja tidak, ayo jawab iya atau tidak"
Defina terus mendesak.
"Def pertanyaan mu membuat ipar mu tidak nyaman"
Dru tiba-tiba menyela, dia menatap dingin kearah sepupu nya, menaikkan ujung alisnya sambil meminta gadis tersebut mengubah pertanyaan nya.
Tiffany buru-buru menoleh kearah Dru, menatap laki-laki tersebut yang menatap tidak nyaman kearah Defina.
"Ya....kau mengenal nya dengan sangat baik"
Tiffany menjawab dengan cepat, masih membiarkan bola matanya menatap kearah Dru dengan lekat, membuat laki-laki tersebut langsung menoleh kearah Tiffany.
"Bahkan semua orang disini begitu mengenal laki-laki itu dengan baik"
Lagi Tiffany bicara, menambah jawaban nya dengan sejelas mungkin, dia masih membiarkan bola matanya menatap Dru, melihat laki-laki tersebut yang kini balik menatap kearah dirinya.
Netra mereka bertemu lama, membuat Dru yang mendengar jawaban Tiffany sedikit mengerutkan keningnya, entah apa yang dipikirkan Dru yang jelas laki-laki tersebut terlihat cukup gelisah atas jawaban yang dilontarkan oleh istri nya itu.
"Kakak belum mau memberikan jawaban yang tadi? aku sudah melewati 2 sesi pertanyaan tanpa jawaban yang ragu"
Ucap Tiffany lagi kemudian sambil terus menatap dalam bola mata laki-laki yang ada dihadapan nya, sengaja mendesak Dru atas jawaban yang di tunda nya tadi.