The Betrayal

The Betrayal
Bukan cinta pertama nya


"Apa itu boleh?"


Tiffany bertanya cepat ke arah semua orang tapi bola mata nya enggan beranjak dari Dru, dia sengaja menatap muncul laki-laki dia mengharapkan cinta dengan perasaan berdebar-debar.


"Boleh saja, kami terkadang melakukan hal tersebut saat bermain"


Dan Defina berkata cepat, dia melirik kearah kakak sepupu nya untuk beberapa waktu.


Mendengar jawaban gadis tersebut seketika Tiffany menoleh kearah Defina.


"kita tidak pernah menggunakan peraturan seperti itu saat sekolah"


tiba-tiba dia protes sambil memunyungkan bibirnya berpikir kenapa ada peraturan baru sedangkan dia tidak pernah tahu permainan itu memiliki peraturan yang berbeda.


"Dalam keluarga kami peraturan itu di wajibkan"


Defina menjawab tidak enak.


Tiffany kemudian menoleh kembali kearah Dru.


"Itu terdengar curang, kak"


seolah-olah tidak puas mendapat kan jawaban dari Defina, dia protes pada Dru yang menunda apa yang dia tanyakan.


Dia hanya butuh jawaban ya atau tidak, bukankah tidak sulit?!.


Alih-alih menjawab Dru hanya berusaha mengulum senyuman nya.


"Putar lagi botol nya"


Bisa-bisa nya Dru memberikan perintah, semua orang agak serba salah mana berani membantah ucapan laki-laki tersebut. Memutar botol dengan cepat dan kembali memainkan permainan nya.


"Ini untuk ku, aku akan bertanya pada orang yang menerima botol nya"


Defina bicara cepat, menunggu botolnya berputar dan berhenti entah ke arah mana.



"Kena kau"


Dan Defina tertawa bahagia saat botol tersebut mengarah pada seorang gadis dihadapannya.


"Ohhhh aku tahu apa yang Kan kamu tanyakan"


Gadis tersebut terlihat memegang kepalanya, Seolah-olah tahu apa yang akan ditanyakan adik ipar nya tersebut.


"Kamu tahu?"


Defina langsung menaikkan ujung alisnya.


"Tentu saja, memang nya apa lagi yang akan kamu tanyakan jika bukan soal gosip terkini tentang..."


Dan perdebatan lucu terjadi, entah apa yang terus di perdebatkan karena fokus Tiffany hanya pada Dru, dia pikir mendapatkan jackpot untuk bertanya pada laki-laki tersebut tidak memuaskan nya sama sekali, bagaimana bisa laki-laki itu dengan pandainya menunda jawaban yang sangat ingin dia ketahui sejak beberapa hari ini.


gadis tersebut memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu sembari mencoba untuk menetralisir perasaan nya.


di sepanjang ruangan terdengar candaan demi candaan yang terjadi diantara semua orang, pertanyaan demi pertanyaan dan juga beberapa jawaban terkadang membuat dia harus tertawa mendengarnya.


beberapa kali putaran botol terjadi tapi tidak juga mengarah kepadanya atau Dru, sepertinya belum ada keberuntungan untuk dirinya kembali bertanya pada laki-laki itu.


dia pikir jika dia diizinkan kembali bertanya ada satu hal yang ingin dia tanyakan kembali tapi sepertinya kartu jackpot sedang tidak berpihak padanya lagi.


Dru terlihat santai menghabiskan minuman soda kaleng yang ada di hadapannya, bisa dilihat kegelisahan yang tercermin di wajah istrinya, disengaja tidak memberikan jawabannya sekarang karena menurutnya ini bukan waktu yang tepat untuk dia memberikan jawaban atas pertanyaan Tiffany.


bisa dia lihat botol kembali berputar di mana sang pemberitanya adalah Xia kakak perempuannya, siapa sangka botol berhenti tepat di hadapan Tiffany yang membuat Dru langsung menaikkan ujung alisnya.


"Tiffany"


seolah dia sedang menunggu kesempatan untuk bertanya pada gadis di hadapannya tersebut.


Tiffany cukup terkejut karena botol mengarah kepadanya, dan kakak iparnya itu bersiap untuk memberikan barisan pertanyaan pada dirinya.


"Ohhh itu aku"


gadis itu langsung bicara sembari menyentuh kedua belah pipinya dengan kedua belah telapak tangannya.


"jangan berikan pertanyaan yang sulit kak"


dia bicara sembari mengembangkan senyuman terbaiknya.


"aku tidak memberikan pertanyaan sulit hanya penasaran saja"


Xia bicara dengan cepat sembari melirik ke arah Dru kemudian menoleh ke arah Tiffany.


"apa Sean adalah cinta pertamamu?"


dan pertanyaan Xia cukup mengejutkan untuk semua orang termasuk Dru.


mendapatkan pertanyaan dari kakak iparnya seketika membuat Tiffany terdiam.


"Benarkah Sean cinta pertama mu?"


Xia kembali melesatkan tanya, jawaban Tiffany pada akhirnya tetap akan menghasilkan kata yang sama bagi nya.


bola mata semua orang langsung menoleh ke arah gadis tersebut, mereka jelas saja menebak Ya. Sebab Tiffany memang tidak pernah berkencan dengan siapapun, satu-satunya laki-laki yang pernah dekat dengan Tiffany hanya Sean dan kekasih pertama Tiffany jelas adalah Sean.


Dru enggan menatap kearah Tiffany, dia membuang pandangannya, mencoba beranjak untuk mencari minuman baru mengingat minuman nya telah habis di nikmati oleh nya.


"Ya atau tidak, benar atau salah?"


Xia bertanya tidak sabaran, cukup penasaran dengan jawaban Tiffany, dia sengaja menyiapkan pertanyaan tersebut sebelum permainan di mulai.


Sejenak bola mata Tiffany menatap ke arah Dru, dia melihat Dru membuang pandangannya, baru akan beranjak dari posisi nya Seolah-olah sengaja menghindari pendengaran nya atas jawaban dari Tiffany.


begitu Laki-laki tersebut bangkit tiba-tiba saja Tiffany berkata.


"Tidak, lebih tepatnya salah"


Dia membuang pandangannya, menoleh kearah kakak ipar nya dengan cepat.


"Apa?"


Dan seketika semua orang terkejut, jawaban Tiffany diluar ekspektasi mereka.


Dru langsung menghentikan langkah kakinya.


"Apa kau bercanda?"


Defina jelas menganga tidak percaya.


Dia begitu dekat dengan Tiffany tapi tidak pernah menyangka jika Sean bukan cinta pertama sahabat baik nya tersebut.


Alih-alih menjawab, Tiffany hanya mengembangkan senyuman nya.


"Lalu siapa?"


Dia jelas bertanya dengan nada penasaran.