The Betrayal

The Betrayal
panik-panik manis menerjang


Di sisi lain


Mansion utama Yavuz.


Jessica terlihat mendongakkan kepalanya sejak tadi, berusaha untuk mencari sesuatu di atas walk in closet, dia pikir seperti nya dia meletakkan beberapa barang-barang miliknya disana, oleh karena itu dia mencoba untuk mencari tas miliknya yang kemungkinan diletakkan di atas sana karena dia telah mencari kebahagiaan Walk in closet yang ada di sekitarnya nyatanya dia sama sekali tidak menemukan tas berisi barang yang ingin dia cari sejak tadi


"Dimana?" Jessica berguman sendiri, mencoba sedikit menjinjit kan kakinya, menatap sesuatu yang terlalu rumit diatas sana, maklum dia tidak terlalu tinggi tapi juga bukan berarti dia pendek bukan?.


Sedikit dia dia mencoba untuk memicingkan bola matanya hingga pada akhirnya dia menemukan apa yang dia cari dengan perasaan bahagia.


"Aku menemukan mu sayang" gadis itu melonjak kegirangan


Dengan terburu-buru dia langsung cepat-cepat berusaha untuk mencoba meraihnya dengan tangannya, nyatanya tangannya sama sekali tidak berhasil untuk mencapai pas yang dia inginkan hingga pada akhirnya bola mata gadis tersebut mencoba untuk menelisik ke bagian sekitar kamarnya. seketika senyuman mereka di balik bibir Jessica saat dia ingat ada sebuah kursi yang terletak di sudut kamar, dengan gerakan buru-buru dan juga penuh semangat gadis tersebut mencoba untuk menarik kursinya dan meletakkannya di depan lemari Walk in closet di mana dia ingin meraih tas miliknya tersebut di atas sana.


Gadis itu memilih untuk memanjat kursi dan mencoba untuk mengambilnya dengan gerakan yang sedikit sulit karena nyatanya tetap saja kursi tersebut tidak cukup tinggi untuk menopang tubuhnya. dengan sedikit bersusah payah gadis tersebut mencoba untuk kembali menjijikkan kakinya dengan cepat ke atas kursi tersebut, di mana tangan kirinya mencoba untuk meraba-raba pada bagian atas lemari walk in closet tanpa sungkan-sungkan.


laki-laki tersebut baru saja membalikkan tubuhnya, bergerak menuju ke kamar Jessica dan dengan buru-buru memutar kenop pintu kamar tersebut. Tatapan mata nya awal nya terlihat biasa-biasa saja tampak datar dan dingin tapi begitu dia masuk kedalam kamar tersebut seketika ekspresi wajah laki-laki tersebut berubah.


"Oh god, Issi....." Seperti seseorang yang kebakaran jenggot nya Yavuz langsung berlarian panik menuju ke arah dalam, menyambar tubuh Jessica yang berasal di atas kursi dengan posisi yang cukup menyeramkan.


Siapa yang tidak panik melihat perempuan hamil yang sibuk naik ke atas kursi sambil menjinjitkan kaki nya, terlihat begitu ekstrim dan mampu membuat jantung jedag-jedug tidak menentu jadinya.


Jessica yang masih berusaha meraih tasnya jelas terkejut mendengar teriakan Yavuz, belum lagi ketika tubuh nya disambar dengan tiba-tiba oleh Yavuz tanpa aba-aba.


"Hahhhh?" Jessica seketika kehilangan cara bernafas nya, ketika dia masuk kedalam pelukan Yavuz secara refleks, bola matanya membulat diiringi dengan kedua tangan nya yang ikut refleks melingkar di leher laki-laki tersebut.


Begitu dramatis dan manis, sungguh, membuat jantung terasa tidak baik-baik saja melihat adegan mereka berdua.