
Disisi lain
Swiss
Mini market xxxxxxx
hampir tengah malam.
Jessica terlihat menghela nafas nya untuk beberapa waktu setelah perjuangan panjang nya seharian berdiri melayani para pelanggan, dia menikmati pekerjaan nya sebagai kasir di mini market tersebut, meski tidak dipungkiri rasanya begitu lelah ditambah kondisinya saat ini yang jelas tidak begitu terlalu baik karena kehamilan nya yang mulai membesar, tapi dia terus bersyukur dan menikmati kebebasan nya saat ini.
Tidak mudah untuk sampai pada titik hari ini, dia berjuang seorang diri tanpa pernah membuka suaranya ada siapapun atas apa sebenarnya yang terjadi.
"Duduk lah"
Suara seorang laki-laki terdengar memecah keadaan, usia nya lebih tua 1-2 tahun dari Jessica, dia mengembangkan senyuman nya sembari meletakkan sebuah kursi tepat di belakang Jessica.
"Kamu cukup lelah berdiri seharian, aku khawatir kandungan mu tidak baik-baik saja, Jess"
laki-laki itu bicara sembari menatap perut Jessica yang mulai membesar.
Jessica terlihat mengembangkan senyuman nya, memilih duduk dan men selonjor kan kaki nya secara perlahan, seharian berdiri dengan sedikit istirahat dan beberapa kali keluar masuk kamar mandi jelas cukup membuat dia lelah.
"Masih terlalu dini, baru melewati trimester pertama, cukup rentan untuk mengalami keguguran, ada baiknya kamu mengambil waktu istirahat dan aku akan membantu mu mencari pekerjaan yang jauh lebih mudah untuk mu, Jess"
Lagi laki-laki tersebut bicara, dia menatap dalam wajah teman baik nya itu.
Mendengar ucapan Laki-laki tersebut Jessica masih mengembang kan senyuman nya, dia memilih untuk menatap kearah depan.
"Aku cukup nyaman dengan pekerjaan ini, Zaki"
dia bicara sembari terus menatap lurus ke arah depan, pandangan nya menembus kearah pintu kaca yang menembus ke luar sana. Suasana sepi terasa, di jam segini pengunjung dan pembeli jelas sepi.
"Tapi aku mengkhawatirkan keadaan mu dan anak mu"
Laki-laki yang dipanggil Zaki kembali bicara.
Jessica terlihat diam, dia pada akhirnya membiarkan tangan nya menyentuh permukaan perut nya secara perlahan yang ditutupi pakaian kerja nya, bisa dia rasakan perbedaan perut itu beberapa bulan belakangan, baru sadar jika ada nyawa yang tinggal di rahim nya sebelum pernikahan Tiffany, menggunakan kesempatan tersebut untuk menggagalkan pernikahan Tiffany.
"Kenapa kamu benar-benar menggagalkan pernikahan Tiffany?"
Kala itu seseorang pernah bertanya dengan nya, menatap kearah Jessica dengan bola mata berkaca-kaca.
"Sean bukan laki-laki yang baik, dia menyimpan sebuah rahasia besar yang terbungkus oleh kemasan Indah dibalik nama keluarga yang mengambil nya menjadi anak, aku pernah melihat wujud aslinya bertahun-tahun tidak sebentar"
"Kenapa kamu tidak memberitahukan soal itu pada keluarga Hillatop?"
Dan Jessica tidak pernah memberikan alasannya.
"Aku khawatir Sean menemukan kamu di sini"
Tiba-tiba Zaki kembali bicara, memilih duduk di lantai secara perlahan, membiarkan rasa lelah sedikit berkurang karena keadaan. ingin sekali rasanya tidur sejenak untuk beristirahat, tapi jadwal kerja masih cukup lama hingga pergantian ship mereka.
"Selama aku tidak menggunakan akses apapun, dia tidak akan menemukan ku"
Jessica menjawab pelan.
"Lalu apa kamu sudah tahu siapa yang menanamkan benih didalam rahim mu?"
Dan Zaki bertanya sambil berusaha menyandarkan kepala serta tubuh nya ke lemari yang berisi berbagai macam barang mini market, dia memejamkan sejenak bola mata karena rasa lelah.
Jessica memilih tidak menjawab, masih mengelus lembut perut nya secara perlahan.
Aku tidak tahu.
Dia membatin pelan, mencoba mengehela nafasnya seiring suara....
Ting....
Pintu mini market terbuka.
Jessica langsung berdiri dari posisi nya,
"Selamat datang di mini market kami, selamat malam..."
Dia menundukkan kepalanya dimana Zaki tanpa sadar terlelap.
Seorang laki-laki dewasa berusia lebih dari 32 tahunan masuk kedalam sana, dia berdiri menatap Jessica untuk beberapa waktu di ambang pintu masuk mini market, penampilan maskulin dengan jas rapi dan sepatu mengkilap ditambah wajah tampan mendominasi namun sedikit kurang ramah menatap tajam kearah Jessica sembari mengernyit kan kening nya.
Laki-laki tersebut melangkah maju, mencoba memastikan apakah mungkin gadis itu yang dia cari selama berbulan-bulan ini.
Jessica terlihat mengembangkan senyuman nya, dia pikir biasanya pelanggan yang bergerak ke meja kasir mencari rokok atau sekotak Kon..dom untuk acara bercinta dengan perempuan pilihan mereka malam ini.
Hal lazim yang sudah tidak asing untuk dirinya, dimana dia masih mengembangkan senyumannya saat laki-laki tersebut kian mendekat ke arah dirinya.