
Dan setelah berkata seperti itu, Rayyana terlihat mulai menyalakan mesin mobilnya secara perlahan, dia mulai membawa mobilnya untuk keluar dari tempat tersebut secara perlahan tanpa banyak bicara.
pada akhirnya saya lebih cepat untuk kembali meraih handphonenya dan berusaha untuk menghubungi seseorang dari sana. Cukup lama dia menunggu panggilan nya tersambung dengan seseorang di seberang sana, dan dalam beberapa waktu kemudian panggilan tersebut tersambung dan seseorang menyahut dengan cepat.
"Halo?." bisa jadi dengar suara seseorang di seberang sana.
"katakan padaku apakah dia sudah ada di tempat yang seharusnya?." Rayyana bicara dengan cepat melalui headset bluetooth nya, pandangannya meratap lurus ke arah depan juga tatapan penuh kesenangan.
"tentu saja sudah nona," dan suara di seberang sana meyakinkan dirinya jika apa yang diharapkan oleh Rayyana terlaksana dan tereksekusi sesuai dengan harapan wanita tersebut.
"kalau begitu jika dia telah dimasukkan ke tempat yang seharusnya, maka bergerak untuk menghancurkan Sean dan Heidi." Lanjut wanita itu lagi kemudian.
"seperti apa yang anda harapkan nyonya, semua orang siap bergerak untuk melakukan apa yang Anda perintahkan." jawab orang yang ada di seberang sana dengan cepat.
Rayyana seketika menaikkan ujung bibirnya kemudian wanita tersebut berkata.
"Eksekusi dan lakukan sekarang juga." Ucap nya dengan cepat.
Setelah berkata seperti itu wanita tersebut langsung menutup panggilannya, dia terus melajukan mobilnya ke arah depan dengan perasaan bahagia. Tapi satu hal tidak terduga terjadi saat tiba-tiba saja dari arah belakangnya sebuah pistol mengacung tepi di pelipis kanannya.
"Hallo Rayyana." Satu suara mengejutkan dirinya.
Rayyana seketika tercekat dan langsung mengerem mobilnya secara mendadak.
*********
Disisi lain,
Beberapa waktu sebelumnya,
Charles de Gaulle,
Paris.
"Bisa kita mengambil tempat yang sedikit tenang dan bicara sejenak 4 mata?." Salah satu polisi bicara dengan cepat ke arah Dru, dia bertanya sembari melirik ke arah Tiffany.
Tiffany jelas saja mengerutkan keningnya saat ia melihat dua polisi mencegah langkah mereka berdua, perempuan itu melirik ke arah suaminya di mana Dru mencoba untuk menyentuh lembut punggung istrinya.
"Tentu saja kita bisa menepi, mungkin ke tempat makan yang terlihat tenang dan tidak terlalu banyak antrian." Dru menjawab dengan cepat ucapan dari laki-laki di hadapannya tersebut kemudian dia menggenggam erat telapak tangan istrinya dan bergerak menuju ke sisi kanan mereka di mana terdapat cafe di sana.
Dua polisi tadi menganggukan kepala mereka dan bergerak menuju ke arah tempat yang dimaksud oleh Dru tanpa banyak bicara.
begitu tiba ke salah satu sebuah kafe yang ada di, mereka duduk saling berhadapan antara satu dengan yang lainnya namun sebelumnya memastikan untuk memesan minuman dan membiarkan para pelayan menyuguhkan minuman tersebut di hadapan mereka setelah itu berharap tidak ada gangguan yang akan datang di tengah obrolan mereka berempat.
Setelah memastikan minuman yang mereka pesan telah tiba di atas meja dan pelayan sudah menyingkir dari hadapan mereka Dru menetap ke arah dua polisi dihadapannya tersebut.
"So, katakan padaku ada masalah apa?." tanya dia dengan cepat.
Satu polisi terlihat menggeser sebuah map mendominasi berwarna coklat, memberikannya kepada Dru kemudian dia berkata.
"Mungkin ini akan cukup menyita waktu anda dalam beberapa hari ini, tapi kami berharap Anda bisa menjadi saksi atas beberapa kasus pembunuhan yang terjadi, tuan Gustave." Ucap salah satu polisi tersebut sembari mengembangkan senyumannya.
"ini sedikit melibatkan anda karena awalnya tersangka berusaha untuk membuat anda menjadi tersangka utamanya, tapi beberapa bukti tidak bisa mengarah ke diri Anda, tuan." lanjut laki-laki tersebut kemudian.
Dru mengganggukan kepalanya dengan cepat.
"Tentu saja, sir."