
Hotel xxxxxxx
Jerman.
"Lelah?." Dru bertanya pada istrinya sembari menatap dalam wajah Tiffany di mana mereka baru saja tiba di kamar hotel dan perempuan itu langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur mendominasi berwarna putih yang ada di hadapan mereka.
Tiffany langsung menganggukkan kepalanya dengan perlahan sembari dia membiarkan tubuhnya berbaring di atas kasur di mana dia membentangkan tangan serta kakinya untuk mendapatkan kenyamanan atas rasa lelah mereka yang berjalan ke sana kemari entah sejak pukul berapa.
'"biasanya tidak sepegal ini tapi sekali ini rasanya sungguh luar biasa, aku paling kuat berjalan dan berlari kemanapun kak, tapi sejak hamil aku jadi begitu buruk jika diajak kemana-mana." perempuan itu bicara seperti tengah curhat dimana dia mulai mengeluh jika kondisi tubuhnya belakangan sangat tidak stabil jika diajak pergi jalan-jalan ke sana kemarin meskipun tidak seberapa jauh.
Mendengar curhatan dari istrinya seketika membuat Dru langsung mengulum senyumannya, dia langsung duduk tepat di samping kaki istrinya kemudian secara perlahan laki-laki tersebut meraih satu kaki Tiffany dan meletakkannya ke atas pahanya.
"Aihhh?." Tiffany jelas sedikit terkejut dia yang ingin memejamkan bola matanya langsung membuka bola matanya kembali dan melihat ke arah suaminya.
"Aku akan bantu memijatnya, katakan padaku jika pijatannya terlalu keras atau terlalu lembek." Ucap laki-laki tersebut kemudian sembari secara perlahan dia mulai memijat kaki istrinya sedikit demi sedikit.
"Ohhhh ini begitu nyaman kak." Tiffany seketika mengembangkan senyumannya, dia menikmati pijatan dari sang suami sembari berusaha untuk memejamkan bola matanya menikmati rasa nyaman yang diberikan oleh sang suaminya.
Dia pikir Tiffany memang tidak kuat untuk berjalan-jalan saat ini mengingat kehamilannya, kemarin dia masih sempat berpikir jika Tiffany hanya bercanda jika perempuan tersebut enggan untuk pergi ke mana-mana karena baginya lebih baik tinggal di hotel dan menikmati bulan madu di sana tapi hari ini dia baru tahu apa yang diucapkan istrinya benar-benar tidak bohong, perempuan itu mungkin tidak nyaman dalam kehamilan trimester pertama nya. Dia tidak ingin mengganggu kesehatan tubuh atau fisik istrinya, karena itu berpikir lebih baik tidak menekan egonya untuk membawa Tiffany pergi berjalan-jalan di beberapa tempat, mungkin sebaiknya mereka hanya keluar untuk sekedar mencari makan sejenak dan itu merupakan pilihan yang paling bijak dalam kondisi mereka berdua saat ini.
"Tapi aku cukup takut kakak bosan tinggal di hotel berhari-hari hingga liburan kita usai." perempuan tersebut pada akhirnya bicara sembari dia menatap ke arah Dru yang terus memfokuskan tangannya dan juga pandangannya ke kaki Tiffany.
"tentu saja tidak sayang bagaimana mungkin aku merasa bosan sedangkan ada kamu dan juga calon bayi kita di sini." Dan laki-laki itu menjawab dengan cepat sembari melirik ke arah perut Tiffany, dia mengelus lembut perut tersebut secara perlahan kemudian menatap ke arah istrinya.
"Bagi ku kesehatan kalian jelas jauh lebih penting daripada mengejar keinginan untuk pergi jalan-jalan, sedangkan kondisimu jelas tidak dalam keadaan memungkinkan untuk berjalan ke sana kemari." Tentu saja Dru tidak mau memaksakan diri karena yang dia tahu dokter berkata, terlalu memaksakan aktivitas pada ibu hamil muda atau pada kehamilan trimester pertama akan cukup memiliki risiko besar, dia tentu saja tidak mau mengambil resiko seperti itu ada kehamilan pertama istrinya.
mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya seketika membuat Tiffany langsung mengembangkan senyumannya, kemudian perempuan itu mengangguk kan kepala nya.
"terima kasih kak." Ucap Tiffany kemudian.
Dru terkekeh.
"You're welcome, baby." dan bisa-bisanya laki-laki tersebut menggoda istrinya.