The Betrayal

The Betrayal
Sedikit kejutan


Mansion Utama Yavuz.


"Kita mau kemana?" Tiffany terlihat gelisah saat matanya di tutup dengan kain oleh mommy nya dan Jessica, mereka bilang ada yang ingin diberikan tapi.....


"Kenapa harus pakai tutup mata segala?" Dia bertanya agak gelisah.


"Ssttttt pelan-pelan bergerak nya, ada sesuatu untuk kamu" Mommy Ayana bicara, meminta Tiffany bersikap tenang.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan " lanjut wanita itu lagi kemudian.


Baiklah Tiffany berusaha untuk tenang, dia membiarkan mommy Ayana memapah tangan nya sambil dibantu oleh Jessica. Agaknya Jessica cukup kesulitan berjalan, maklum kehamilan yang mulai membesar membuat dia sedikit sulit bergerak dengan bebas saat ini.


"Kamu yang harus hati-hati juga Jess, kehamilan seperti kamu jangan sampai salah menginjak tangga atau sesuatu" Dia bicara pada Jessica dengan cepat, menggenggam erat lengan gadis tersebut secara perlahan.


"He em aku hati-hati" Jessica menyakinkan diri, mengulum senyuman menatap kearah Tiffany yang begitu mengkhawatirkan soal dirinya.


Ada kelegaan didalam hati nya saat ini mengingat bagaimana Tiffany bersikap, kesalahpahaman kemarin di tuntaskan dengan cepat dan membuat mereka tidak lagi menjadi salah paham, bayangan bagaimana bahagianya Jessica, bahkan hingga saat ini dia masih berpikir apakah ini mimpi atau kenyataan karena rasanya sangat tidak mungkin dia bertemu dengan ke dua orang yang begitu dia cintai tersebut.


"Sedikit lagi, perhatikan langkah mu sayang" Mommy Ayana berbisik pada putrinya, kemudian dia melirik kearah Jessica.


"Jangan sampai tersandung" kalimat tersebut tertuju pada dua putri nya, Jessica dan Tiffany.


Mengingat kehamilan besar Jessica menurut mitos tidak boleh menabrak sesuatu jari-jari kaki mereka karena itu tidak baik dan takut membengkak, untuk Tiffany dia juga takut, kehamilan muda akan membuat putri nya jatuh tersungkur.


"He em, yes mom"


"He em, yes mom"


Kesalahpahaman kemarin dianggap sebagai bumbu persaudaraan antara kakak dan adik meskipun tidak saudara, hubungan kakak dan adik saudara pun sering mendapatkan konflik apalagi tidak saudara pasti akan ada saja batu sandungan yang membuat mereka terkadang bertengkar atau salah paham namun hal seperti itulah yang akan semakin memperkokoh semua persaudaraan untuk orang-orang yang mengambil sifat positif dalam setiap kejadian. Tapi untuk para saudara yang tidak pernah mengambil makna positif dari sebuah pertengkaran atau sebuah peristiwa dan memilih untuk saling bermusuhan sungguh sangat mengerikan mereka tidak pernah menjadi bijaksana dalam memahami sesuatu hingga membuat mereka terkadang saling menggibah atau iri antara satu dengan yang lainnya, Wallahualam.


"Apakah masih lama?" pada akhirnya Tiffany bertanya dengan tidak sabaran ingin tahu apakah masih lama dan dia pikir ke mana sebenarnya mommy dan Jessica akan membawa nya, dari lantai atas menuju ke lantai bawah kemudian berjalan lagi entah kemana.


"Kita sudah tiba" Jessica berbisik, secara perlahan gadis tersebut mulai bergerak meraih penutup mata Tiffany.


"Dalam hitungan ke tiga, baru boleh buka mata" Bisik Jessica lagi kemudian.


Tiffany terlihat patuh.


"Satu..."


Jantung Tiffany tidak baik-baik saja, dia sedang menebak-nebak apakah ini ulang tahun nya? aishhh tentu saja masih lama.


"Dua..."


Dia terus menebak, sebenarnya kejutan apa.


"Tiga...."


saat kata 3 terucapkan oleh Jessica dan mommy Ayana secara bersamaan membuat perempuan tersebut secara perlahan membuka bola matanya, awalnya sedikit terlihat gelap dan juga berbayang-bayang karena efek dia menutup matanya untuk waktunya agak lama, senyuman penuh penasaran menghiasi wajah nya hingga pada akhirnya ketika dia telah membiasakan bola matanya menetap ke arah depan seketika ekspresi perempuan tersebut langsung berubah dan terkejut.


"Hahhhh?" demi apapun Tiffany langsung menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangan, bola mata perempuan tersebut seketika berkaca-kaca.