
Kembali ke sisi Dru dan Tiffany,
Masih di kamar hotel xxxxxxx,
Jerman.
Sejenak Tiffany menatap kearah pintu kamar hotel, suaminya pergi sejak sore tadi dan belum kembali, katanya ada yang harus dikerjakan oleh laki-laki tersebut saat ini.
"Kebetulan bertemu relasi bisnis di bawah, ingin mengajakku untuk bicara soal bisnis terbaru dan juga dunia ini mengajak ku untuk keluar sebentar menunjukkan aku soal sesuatu." itu yang dikatakan suaminya pada dirinya.
Tiffany menganggukan kepalanya dengan cepat tanda mengerti. Dan pada akhirnya sang suami beranjak pergi dari hadapan nya, menemui relasi bisnis nya sejak sore tadi. Namun nyatanya laki-laki tersebut belum pula kembali sejak tadi padahal hari sudah cukup larut malam.
Rasanya menunggu merupakan pekerjaan yang paling berat dan membosankan untuk dirinya, hingga pada akhirnya di tengah rasa bosan yang dirasakan oleh Tiffany, perempuan itu memiliki inisiatif mencoba untuk menghubungi seseorang di seberang sana beberapa waktu. sebenarnya dia dam Khan telah sepakat untuk tidak menggunakan handphone sama sekali selama liburan bulan madu, dia terpaksa melanggarnya sedikit kali ini karena rasa kesepiannya meminta kartu baru pada petugas agar dia membelikannya dan Tiffany tidak menggunakan kartu lamanya sama sekali untuk menghubungi seseorang di seberang sana.
Hal itu dilakukan untuk mengurangi resiko panggilan-panggilan yang mengapung atau bahkan pesan masuk yang mungkin menggudang di dalam nomor lamanya. dia hanya sedikit berdusta soal menggunakan handphone tapi dia benar-benar tidak menggunakan kartu lamanya sama sekali untuk mengurangi resiko-resiko yang akan terjadi dalam mendapatkan berita-berita dari luar sana selama liburan bulan madu mereka.
Awalnya cukup lama panggilannya tersambung dan Tiffany pikir apakah mungkin sosok yang ingin dia hubungi telah terlelap dalam tidurnya. Hingga pada akhirnya setelah beberapa kali panggilan Vidio call terjadi teleponnya tersambung juga pada seseorang di ujung sana.
"Akhhhhhh assalamualaikum." bisa dia dengar sahutan di ujung sana di mana sebuah wajah tampil dari balik layar handphonenya, video call-nya benar-benar tersambung pada Jessica di seberang sana.
dia jelas begitu antusias dan menjawab salam, merindukan sosok di ujung sana dengan bola mata berkaca-kaca.
"Aku merindukan mu." Alih-alih dia sempat berkata rindu lebih dulu Jessica malah berkata rindu terlebih dahulu kepada dirinya sembari gadis tersebut meneteskan air matanya.
"Oh come, jangan berikan tangisanmu padaku itu terlihat sangat buruk." Tiffany jelas saja protes saat dia melihat Jessica menangis di ujung sana.
"Kamu benar-benar merindukanku atau ada hal buruk yang terjadi?," dia buru-buru bertanya dari ingin tahu apa kamu mungkin ada hal buruk yang terjadi yang tidak dia ketahui.
"Tentu saja aku menangis karena merindukanmu, dia begitu baik padaku, jangan khawatir soal apapun tentangnya, Yavuz tidak pernah sekalipun memperlakukanku dengan buruk, dia sangat baik dan bahkan memanjakanku juga anak ku Meksipun dia bukan ayah biologis putra ku." Ucap Jessica penuh dengan semangat, gadis itu menghapus air matanya dengan cepat.
Mendengar ucapan Jessica, Tiffany pikir itu artinya laki-laki tersebut belum juga membuka dan membongkar identitasnya.
"Aku senang mendengarnya, dia memperlakukanmu dengan baik, jika dia memperlakukanmu dengan buruk akan aku pastikan akan menghajar nya dan membuatnya babak belur." Oceh Tiffany kemudian.
Mendengar ucapan Tiffany, Jessica terlihat terkekeh pelan.
Mereka melewati obrolan bersama berdua dan menghabiskan waktu bercerita tentang banyak hal sembari Tiffany menunggu suaminya yang tak kunjung pulang sejak tadi. Ditengah obrolan mereka bisa Tiffany lihat Yavuz datang dari arah belakang dan mendekati Jessica.
"Aku pikir suamimu baru saja datang." Tiffany bicara dengan cepat dan memberitahukannya pada Jessica jika laki-laki yang menikahi saudaranya itu baru saja datang dari arah belakang sana.
"Oh kakak ipar menghubungi mu rupanya?." Terdengar suara Yavuz di belakang sana.
Laki-laki itu menyentuh lembut puncak kepala Jessica, mencium nya lembut kemudian meletakkan sebuah paper bag di sisi kanan Jessica, bisa dia lihat rona wajah Jessica berubah, agak malu sambil memunyungkan bibirnya.
"Kamu suka mencium ku tiba-tiba." Oceh Jessica kemudian.
"Aku suka aroma shampoo mu baby." Ucap Yavuz kemudian.
"Ishhhh."
Ada satu kelegaan melihat hubungan kedua orang tersebut, meskipun penuh candaan dimana karakter Jessica yang terlalu polos dan tidak paham jika seseorang menyukai atau membenci dirinya, melihat perlakuan Yavuz pada Jessica saat ini jelas membuat dia senang, dia pikir itu artinya laki-laki tersebut memperlakukan saudaranya diseberang sana dengan sangat baik dan penuh kasih sayang.