
Mansion Utama Heidi
Ruang utama Keluarga.
Bibi pelayan terlihat menatap nona muda nya untuk beberapa waktu, bisa dia lihat Heidi terlihat memainkan tiap-tiap tuts piano yang ada di hadapannya, membiarkan jemari-jemari indahnya terus bermain pada tuts-tuts piano yang ada di hadapan tersebut.
meskipun sang nona muda buta tapi itu tidak membuat gadis tersebut kehilangan kemampuan dalam beberapa hal yang dimilikinya, pada awal kecelakaan di mana Heidi sangat kesulitan untuk melakukan berbagai macam hal sendiri, gadis itu sempat ingin memilih untuk bunuh diri dan menyelesaikan semua urusan hidupnya dengan berbagai macam cara ntar ada kehilangan berbagai macam kemampuan yang mampu dia lakukan.
namun pada akhirnya seiring berjalannya waktu gadis tersebut mulai terbiasa dan perlahan-lahan kembali mencoba untuk melakukan kebiasaan demi kebiasaan yang bisa dia lakukan, dijaga ditanya bagaimana awalnya jelas aja sangat sulit sekali namun lama kelamaan seiring berjalannya waktu dan tahun berganti gadis tersebut telah terbiasa dengan apa yang dilakukan.
dan gadis itu mampu melakukan apapun yang dia inginkan meskipun mata dan kaki gadis tersebut tidak baik-baik saja.
suara piano terus melantunkan nada lagunya, dimana jemari indah Heidi tidak berhenti bergerak memainkan tiap tuts piano milik nya, sang bibi pelayan nya yang mencoba untuk bicara pada akhirnya berusaha untuk menahan keinginan nya, membiarkan gadis tersebut memainkan pianonya hingga pada akhir lagu.
Heidi tidak menghiraukan sama sekali orang-orang yang ada di sekitarnya, dia membiarkan jemari-jemari indahnya terus bergerak sesuai kemauannya, lagu tersebut terdengar seperti sebuah lagu elegi.
Dimana elegi merupakan istilah umum dalam kesusastraan yang merujuk kepada syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita, khususnya pada peristiwa kematian. Namun tak hanya kematian, penggunaan kata "elegi" dalam syair atau lirik lagu juga dapat ditujukan untuk menggambarkan perasaan kehilangan.
Dia seolah-olah mengingat berbagai macam kenangan di masa lalu, semua bayangan pada masa demi masa terus bergerak dalam ingatan nya diiringi lagu penuh ratapan yang menyayat hati, ada berbagai macam luka yang menyeruak masuk didalam hati nya, dimana kenangan demi kenangan yang terus menerbitkan duka didalam perjalanan hidup nya.
Heidi semakin mempercepat permainan nya, seiring dengan bola mata nya yang terlihat mulai berkaca-kaca, dia memainkan tuts piano nya dalam tekanan emosi yang membuncah dan seolah-olah siap untuk tumpah.
Dimana disisi lain dalam permainan nya terlihat sebuah mobil melaju dengan kecepatan penuh menembus jalanan malam yang dingin dan berkabut diiringi rinai hujan yang mulai membasahi bumi.
Seorang laki-laki terlihat tidak berdaya, dimana dia duduk dalam posisi sulit untuk menggerakkan kaki tangan nya, dia membawa mobil mendominasi berwarna hitam pekat tersebut, kepanikan terlihat jelas di balik wajah laki-laki paruh baya itu tapi dia tidak kuasa untuk bergerak atau membuat tangan-tangan nya mampu untuk melakukan apapun, dalam sisa tenaga tidak seberapa nya dia masih berusaha untuk menghubungi seseorang dalam keputusasaan nya, terus berharap panggilannya terhubung pada seseorang di seberang sana.
Waktu bagaikan jam pasir yang bergerak dengan cara yang cukup cepat, ditengah kepanikan yang melanda di iringi cuaca luar biasa yang begitu mendukung, laki-laki tersebut terlihat mulai panik karena tidak bisa mengendalikan mobil tersebut.
Hingga tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah mobil tronton besar menampilkan lampu silau nya, melesat melewati jalanan hutan dimana sang sopir sibuk mendengar kan musik yang terus berputar.
Wiper kaca mobil bergerak ke kiri dan ke kanan mencoba membuat kaca bagian depan truk agar tidak berkabut dan kabur karena terkena rinai hujan dan kabut asap yang menebal.
Didetik berikutnya sang sopir mobil tronton besar melihat mobil kecil di arah berlawanan bergerak dengan kencang, membuat sopir cukup terkejut dan berusaha untuk menyalakan klakson terbaiknya.
Tootttttt.
tootttttt.
tootttttt.
Sang pemilik mobil kecil terkejut setengah mati, sejujurnya dia panik saat melihat mobil tronton melaju tepat kearah nya sembari menyalakan klakson terbaik nya, silau lampu dari mobil tronton seketika semakin mengejutkan laki-laki itu yang membulatkan bola matanya karena terkejut, dia tahu panggilan nya baru saja terhubung saat dia berada pada detik-detik kematian nya.
"Dru....apa kau disana... Heidi..."
Dan laki-laki tersebut menghentikan kata-kata nya, dia memejamkan bola matanya secara perlahan sambil kembali berkata.
Dan diiringi ucapan terakhir nya bagaikan sebuah pecahan waktu di mana pada akhirnya dua mobil tersebut yang tidak dalam keadaan seimbang saling menghantam antara satu dengan yang lain.
Brakkkkkkk.
Kiitttttttttt.
Doorrrrrrrr.
Semua terjadi bagaikan gerakan kilat yang menyambar, begitu cepat hingga mobil tronton menghantam mobil kecil dan membuat mobil tersebut terpelanting ke sisi kirinya, berkali-kali terguling bagaikan sebuah bola yang menggelinding kemana-mana membawa sang empunya mobil yang tidak lain ayah Heidi berguncang dahsyat didalam sana.
Darah segar mengalir di tiap bagian tubuh laki-laki tersebut dimana pada akhirnya posisi mobil tersebut telah berputar arah, bagian roda di atas dan atap mobil dibawah.
Ayah Heidi terlihat tidak berdaya diiringi tubuhnya yang jelas kini semakin mati rasa.
Minyak mobil terlihat berceceran keluar dari tanki nya, secara perlahan mengalir ke arah sisi kanan nya, dimana terlihat percikan api mulai terlihat ingin menyambar ke arah minyak mobil tersebut dengan cara yang begitu tak terduga, siap menyambar minyak menjadi api dan membuat ledakan besar hanya dalam hitungan detik.
Laki-laki tersebut menatap nanar ke sisi kanan nya, darah segar keluar dari dalam mulutnya, dia tahu malam ini benar-benar akan menjadi malam terakhir nya, lalu dia pikir apa yang akan terjadi pada putri nya?!.
Heidi?!.
Adakah Dru mendengar apa yang diucapkan nya, adakah laki-laki satu nya juga mendengar apa yang dikatakan nya?!.
Disisi lain pada bagian kediaman Heidi, permainan piano nya semakin terdengar memecah keadaan, dia semakin mempercepat jemari-jemari nya bermain di sana, terus membawa lagu elegi yang menjadi duka paling terdalam nya, diiringi semakin cepat jemari nya bergerak disisi ayah nya api mulai menyambar dengan sempurna terus melaju menuju ke arah mobil tersebut.
Dan
Tangggggg.
Begitu dentingan piano terakhir berbunyi.
Dorrrrrrrrrrr
Ledakan dahsyat ikut menggelegar memecah keheningan malam.
"Kau butuh bahu untuk bersandar, Heidi?"
Satu suara terdengar tepat di belakang punggung Heidi.
*****
Catatan \=
Jantung aman Mak? sebab jantung Mak author pas ngetik ini novel lagi ga aman-aman saja wkwkwkwk, rasanya kek berpacu dengan waktu, adrenalin tiba-tiba ikut naik turun, kok seram dan tegang yah? 🤭🤧😀.