The Betrayal

The Betrayal
Lelap dalam obrolan panjang


Entahlah berapa lama mereka mengobrol bersama, menghabisi waktu membicarakan soal banyak hal soal masa lalu dan membicarakan soal masa depan, dimana Dru terus memeluk Tiffany, membiarkan Perempuan tersebut masuk kedalam dekapan nya, menenggelamkan diri hingga rasa kantuk menjalar.


telapak tangan kanan Dru secara perlahan mengelus lembut punggung Tiffany, membiarkan diri terus membuat nyaman sang istri, mereka masih bicara soal beberapa hal hingga akhirnya bisa dia lihat bola mata sang istri perlahan mulai meredup terbawa oleh waktu.


"Yakin aku hanya jadi ibu rumah tangga dan tidak ikut pergi ke perusahaan?"


Saat Tiffany menanyakan hal tersebut, Dru bisa melihat bola mata Tiffany mulai meredup, seperti bohlam lampu yang hanya tersisa 5 Watt saja.


"He em, cukup fokus dirumah, duduk manis dan melayani aku serta anak-anak InsyaAllah jika memang sudah datang rejeki nya"


Dru bicara pelan, menatap kearah Tiffany yang mulai menggerakkan pipinya ke dada Dru, dia menggeliat seperti anak kucing yang telah menemukan rumah ternyaman nya.


"Hmmm begitu juga... bagus"


Saat Tiffany mengatakan hal tersebut, sejujurnya dia sudah berada di antara alam sadar dan tidak nya, sudah tidak konsentrasi lagi dengan percakapan mereka, mata nya mengantuk parah saat Dru terus memijat-mijat lembut punggung nya sambil menggosok nya seperti seorang ibu yang menggosok punggung anak-anak mereka saat ingin tidur.


Laki-laki tersebut mampu membuat nya tenggelam begitu dalam, melupakan mimpi buruk nya yang mengganggu diri nya tadi dan kini secara perlahan kembali ingin terlelap begitu saja setelah obrolan panjang yang terjadi di antara mereka.


berkali-kali menguap akhirnya mampu menghantarkan nya pada dunia mimpi nya sekali lagi.


Dru yang melihat istrinya mulai memejamkan bola mata nya seketika mengulum senyuman nya, menatap ekspresi Tiffany yang kini semakin tenggelam dalam tidur nya.


Dia membiarkan istri nya benar-benar tenggelam di dalam tidur nya, cukup lama menunggu dan memastikan jika Tiffany benar-benar telah masuk ke dalam alam mimpi nya


"Tiff?"


Satu panggilan tanpa ada respon sama sekali.


"Tiff?"


Kedua kali nya dia berusaha untuk membangun kan perempuan tersebut, dan Tiffany sana sekali tidak merespon, membuat Dru yakin jika sang istri benar-benar telah tenggelam ke dalam tidurnya dan mungkin telah masuk ke dalam alam mimpi paling indahnya.


Laki-laki tersebut secara perlahan membenahi posisi istri nya, membiarkan Tiffany berbaring di atas bantal empuk miliknya di mana Dru mulai menggeser lengan dan juga dada nya.


setelah memastikan jika Tiffany telah tenggelam di atas bantal empuknya yang mendominasi berwarna putih, laki-laki tersebut secara perlahan mencium lembut kening dan bibir istrinya secara bergantian, cukup lama hingga akhirnya dia melepaskan ciuman tersebut, kemudian secara perlahan dengan gerakan yang begitu hati-hati Dru memilih turun dari atas kasurnya dan beringsut dari sana.


Dia bergerak meraih handphone nya secara perlahan, bergerak menuju kearah beranda kamar, mencoba untuk menghubungi seseorang yang ada di ujung sana.


Cukup lama panggilan terjadi, hingga akhirnya panggilan nya tersambung dan suara seseorang terdengar di seberang sana.


"Halo?"


Dru bicara sambil menutup pintu teras kamar nya.


"Katakan pada ku, bagaimana keadaan Jessica?"


Dan dia mulai bicara langsung pada intinya.