
Disisi yang berbeda.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Dru seketika membuat Tiffany membulatkan bola matanya, Dia yang awalnya berpikir jika laki-laki tersebut hanya main-main dan mencoba untuk menghiburnya seketika langsung terdiam untuk beberapa waktu. Dan di detik berikutnya pada akhirnya Dru berkata.
"aku akan mempertemukan mu dengan Jessica jika kamu benar-benar merindukannya" Dan Dru bicara secara perlahan kepada istrinya tersebut.
"apa kakak sedang bermain-main denganku? jangan bercanda denganku ini membuat ku begitu terluka dan juga sakit" perempuan itu bicara dengan cepat kemudian dia berusaha untuk membuang pandangannya.
tapi seketika Dru langsung meraih wajah nya, menyentuh kedua belah pipi nya lantas laki-laki tersebut berkata.
"Mari bertemu dengannya sekarang juga" lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.
dan seketika apa yang diucapkan oleh Dru membuat Tiffany membeku. Tapi Dru secara perlahan melepaskan kedua tangan nya dari pipi Tiffany,dia meraih telapak tangannya dan menggenggam tangan istrinya tersebut berikut nya dengan gerakan perlahan dia membawa perempuan itu menuju ke arah sisi kirinya.
Tiffany memilih untuk tidak bicara sama sekali di mana dia diam dan membiarkan laki-laki tersebut membawanya secara perlahan.
tidak tahu kemana suami nya akan membawanya melangkah yang jelas Perempuan tersebut hanya mengikuti langkah Dru tanpa mengeluarkan sedikitpun suaranya, bola mata Tiffany menatap ke arah jalanan diiringi dengan detak jantungnya yang jelas tidak baik-baik saja, sejuta pertanyaan menghantam dirinya apa mungkin yang diucapkan oleh suaminya benar adanya untuk membawanya menemui Jessica saat ini juga.
"Dru?" pada akhirnya perempuan tersebut mengeluarkan suaranya secara perlahan, satu kegelisahan mengantar dirinya.
"kita mau ke mana?" dia mulai bertanya kepada laki-laki tersebut dengan perasaan gelisah.
Dru menggenggam arah telapak tangan tanpa ingin melepaskan sedikitpun genggaman nya tersebut dimana dia terus membawa langkah istrinya menuju ke arah depan pada pusat perbelanjaan dan makanan yang ada di hadapan mereka.
"Bukankah aku telah berjanji untuk membawamu pada Jessica?"laki-laki itu pada akhirnya bicara dan menghentikan langkah kakinya, memilih berbalik dan menatap istrinya tersebut untuk beberapa waktu.
"Kakak benar-benar serius?" Tiffany bertanya dengan degub jantung yang tidak baik-baik saja.
Alih-alih menjawab, Dru lebih memilih untuk menganggukkan kepalanya secara perlahan kemudian dia menyentuh lembut puncak kepala istrinya.
"Sepertinya hari akan hujan deras, mari masuk ke bagian dalam pusat perbelanjaan dan makanan xxxxxxx, lalu Mari kita bertemu dengan Jessica di sana" dan ketika Dru berkata seperti itu Tiffany yakin suaminya tidak dalam kondisi main-main.
dia mencoba untuk meneliti bola mata suaminya beberapa waktu hingga pada akhirnya dia meyakinkan diri jika laki-laki tersebut bersungguh-sungguh dengan ucapannya saat ini.
begitu mereka masuk ke dalam sana sejenak Tiffany membiarkan pandangan yang menelisik ke arah disekitarnya beberapa waktu, percayalah saat ini jangan ditanya bagaimana perasaannya, dia hanya berharap apa yang dikatakan oleh Dru saat ini juga.
dan setelah mereka jauh melangkah pada akhirnya membawa dirinya pada satu outlet aksesoris di sisi kiri mereka, laki-laki tersebut kini menggenggam kembali telapak tangannya di mana dia membawa Tiffany menuju ke arah outlet tersebut secara perlahan.
Awalnya Tiffany hanya berpikir mungkin Dru ingin membawanya untuk membeli beberapa aksesoris pernik atau oleh-oleh namun saat mereka melangkahkan kaki mereka menuju ke sana dan masuk ke tempat tersebut tiba-tiba saja bola mata Tiffany yang awalnya mengitari tempat tersebut seketika terhenti pada satu sisi di mana bisa dia lihat ada sosok yang sangat ia kenali saat ini di ujung sana dan hal tersebut membuat bola mata Tiffany langsung membulat dengan sempurna.
Dia langsung menaikkan kedua belah tangannya, menutup mulut nya dengan perasaan tidak percaya atas apa yang dilihat nya saat ini.
"Tidak mungkin" Tiffany membatin.
Perempuan tersebut menoleh kearah suaminya dengan cepat.
"Pergilah" Dru bicara sambil mengembangkan senyuman nya.
Itu adalah Jessica, dan Dru benar-benar menepati janji nya untuk membawa diri nya menemui gadis tersebut saat ini dan hal lain yang mengajarkan dirinya adalah satu sosok wanita ada di hadapan gadis yang sudah dia anggap seperti saudara kandungnya sendiri tersebut.
Mommy Ayana, tampak menangis dengan tubuh bergetar, baru saja mendekati gadis tersebut saat ini Hal itu membuat Tiffany jelas saja sangat kehilangan kata-katanya, bisa dia lihat perut Jessica yang telah membesar tidak seperti pertama kali dia melihat perut Jessica dulu, di mana pada masa itu perutnya baru menampakkan sedikit bagian yang menonjol kini dia menebak kehamilan Jessica pasti sudah memasuki trimester kedua jelang ke tiga.
Entahlah secara refleks Tiffany melangkah kan kakinya secara perlahan ke arah depan dengan perasaan ragu-ragu, memperhatikan dua sosok yang ada di hadapannya tersebut dimana bisa dilihat Jessica terlihat menangis menatap Mommy Ayana, air mata gadis tersebut tumpah dan di titik berikutnya bisa dia lihat, kedua orang tersebut saling berpelukan antara satu dengan yang lainnya dan keharuan jelas terjadi hingga hal tersebut membuat Tiffany semakin berusaha untuk mendekatkan diri pada salah satu dua orang tersebut.
sisa jutaan kerinduan yang menggebu setelah mengkonsumsi es krim masih terus membuat jantungnya berdebar-debar di mana dia merasa kerinduan itu masih meluap dengan sempurna, dia terus bergerak mendekati Jessica dan mommy nya, hingga pada akhirnya dalam beberapa langkah lagi dia mendekati kedua orang tersebut saat ini.
perempuan itu jelas tidak mampu lagi menghindari air matanya yang tumpah, dan dengan bibir yang gemetaran juga tubuh yang bergetar Tiffany menghentikan langkah kaki sejenak dan menatap kedua orang yang kini berada di hadapan nya tersebut untuk beberapa waktu.
seperti adegan film dalam pertemuan yang mengharu biru gimana bisa dilihat ibu dan anak masih terus berpelukan terasa dengan yang lainnya, melepaskan jutaan kerinduan yang menggebu selama berbulan-bulan di mana pada akhirnya setelah pelukan terjadi untuk waktu yang cukup lama secara perlahan kedua orang tersebut melepaskan pelukannya dan berulang kali mommy Ayana mencium pipi Jessica, memangkas kerinduan yang tidak bisa diungkapkan satu persatu saat ini.
"Mom...?" dan pada akhirnya secara refleks Tiffany bicara.
hal itu santai saja obat kedua orang di hadapannya seketika langsung menoleh ke arah dirinya.
dan bayangkan bagaimana ekspresi daripada Jessica yang menyadari kehadiran dirinya saat ini. bola mata gadis tersebut jelas saja terbelalak kaget dan membulat dan sempurna.