
Disisi lain
Kediaman Heidi
Jelang musim salju.
Brakkkkkkk.
Pelayan kepercayaan Heidi terlihat bergetar, melepaskan telepon yang ada ditangan nya tanpa sadar, bola mata wanita tersebut terlihat berkaca-kaca, wanita tersebut berusaha untuk mencari pegangan pada area sekitar nya.
Apa yang barusan dia dengar di balik panggilan tadi jelas membuat dia cukup terkejut, wanita tersebut tidak menyangka atas apa yang dia dengar barusan.
Tuan besar nya mengalami kecelakaan tragis, ayah Heidi dia.....
"Oh...."
Wanita tersebut menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangan nya.
"Bi..."
Tiba-tiba dari atas sana suara seseorang mengejutkan dirinya, Heidi memanggil nya dengan sedikit tidak sabaran.
"Ya, nona"
Dan wanita tersebut menjawab dengan tubuh bergetar, berusaha bangun dari posisi nya dan menghapus air mata nya yang mulai tumpah.
Tidak berani membayangkan bagaimana kehidupan nona muda nya setelah ini, bisa dia pastikan ibu tiri Heidi akan bertindak semena-mena, wanita ular itu pasti semakin cepat bergerak untuk menyingkirkan Heidi yang tidak memiliki pelindung untuk dirinya.
Dia tidak bisa membiarkan Heidi tahu lebih dulu soal ayah nya, takut jika ini akan semakin mengganggu kesehatan dan juga emosional Heidi, gadis tersebut rapuh tapi pura-pura kuat, masih bisa bertahan karena ada Dru yang melindungi nya dan ayah nya yang diam-diam mengawasi nya, jika Dru pergi berbulan madu dan ayah nya mengalami tragedi kecelakaan yang sama seperti ibu nya, maka itu artinya Heidi harus berjuang dengan kekuatan nya sendiri.
Wanita tersebut tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada nona muda nya.
Wanita tersebut berusaha untuk tidak bicara dalam keadaan panik atau gugup, tidak ingin menampilkan kesedihan nya atau membuat Heidi curiga dengan tindak tanduk nya.
"Aku akan turun ke bawah untuk mendapatkan makan pagi nya, bibi tidak harus membawa nya ke atas"
Heidi terlihat duduk di atas kursi rodanya, Mencoba mengeluarkan tongkat nya secara perlahan dan menghafal jalan di hadapannya, dia bergerak menuju ke arah pintu elevator secara perlahan.
wanita tersebut terlihat cemas, dia berusaha untuk meraih handphonenya yang jatuh ke lantai, mengantongi nya kembali dengan cepat kemudian berusaha untuk berdiri dengan tenang di posisi nya, wanita itu berusaha untuk beranjak dari posisi nya dan berpikir untuk menyambut Heidi didepan pintu elevator namun satu suara cukup mengejutkan dirinya membuat wanita tersebut langsung menghentikan langkahnya.
"Apa gadis cacat itu sudah bangun?"
Dan wanita tersebut jelas langsung mengernyitkan dahi nya dipenuhi oleh rasa terkejut nya yang cukup dalam, dia menoleh ke arah belakang dan berusaha untuk tidak menampilkan ekspresi wajah rumitnya.
Itu adalah putri tiri dari tuan nya, anak dari wanita ular yang menginginkan harta keluarga besar Heidi Jourdan.
"Dia terlalu di manja oleh daddy, seharusnya Gadis cacat itu bangun di waktu yang baik dan melakukan banyak aktifitas di luar"
dia adalah Jenna Jourdan, begitu angkuh dan sombong dengan karir model nya, dia tidak pernah menyukai Heidi sejak gadis tersebut anak-anak, ada alasan khusus dia tidak menyukai Heidi, karena kakak kandung Heidi membenci diri nya sedang kan dia mencintai laki-laki tersebut hingga hari ini.
Gadis tersebut mencoba bergerak menuju ke arah pintu elevator, menabrak bahu sang pelayan dengan cara yang kasar, dia berniat untuk menyeret haidi keluar dari kamar yang menuju ke lantai bawah karena dia sangat tidak suka terhadap gadis sialan tersebut tapi tiba-tiba dia langsung menghentikan langkah kakinya ketika tahu-tahu dari arah sisi kanan seseorang melangkah dan bergerak tepat menuju ke arah diri nya.
sosok laki-laki tersebut kini berdiri tepat dihadapan Jenna, membuat gadis tersebut langsung membulatkan bola matanya karena terkejut.
"Kau....!"
dia jelas tercekat diiringi dengan pintu elevator terbuka secara perlahan, menampilkan sosok Heidi di dalam sana.
Bagaimana.... kapan dia pulang..?!.