The Betrayal

The Betrayal
Serindu Coklat Vanila


Beberapa waktu sebelumnya.


"Aku pikir tempat ini juga bagus, beberapa makanan disini enak bukan?" Tiffany bertanya pada Dru, menatap barisan makanan kaki 5 disisi kiri nya.


mereka masih berada di dalam mobil di mana Dru masih fokus pada setir mobilnya, bola mata nya menatap lurus kearah depan.


"Berhenti disini atau masih ingin cari tempat yang lainnya?" laki-laki tersebut bertanya sembari menoleh ke arah Tiffany sejenak.


"di sini juga boleh" Ucap Tiffany cepat, bola mata nya melirik ke beberapa macam aneka makanan yang ada di sekitar mereka.


percayalah rasanya tiba-tiba dia menginginkan beberapa macam makanan untuk dilahap olehnya saat ini, apalagi membayangkan makanan yang cukup segar-segar membuat dia berpikir dia benar-benar lapar saat ini.


"Mungkin aku ingin membeli beberapa macam makanan untuk dibawa ke penthouse" lanjut perempuan itu lagi kemudian.


Dru terlihat diam, sebenarnya dia malah senang jika istrinya mau membeli apapun yang diinginkan tapi ketakutannya adalah bagaimana jika Tiffany memuntahkan makanan yang dia konsumsi, itu cukup membuat dia khawatir dan takut. tapi mengingat apa yang diucapkan oleh dokter tadinya yang mengatakan dia telah merasakan obat anti mual dan juga vitamin untuk sang istri membuat dia sedikit menghela pelan nafasnya.


"kamu sudah mengkonsumsi obatnya sayang?" laki-laki itu bertanya dengan tatapan serius dia mulai menepikan mobilnya dan mencari area parkiran yang terbaik.


"He em aku sudah memakan nya"perempuan itu menjawab cepat tanpa menoleh ke arah Dru, dia masih memilih beberapa makanan yang dia lihat yang mungkin akan dia beli setelah ini.


begitu dru menepikan mobilnya dan mematikan mesin mobil tersebut, Tiffany dengan tidak sabaran turun dengan cepat tapi Dru buru-buru menahan tangan Tiffany.


"Tiff?"


Hal itu membuat Tiffany cukup terkejut.


"Ya?"


"Yakin tidak mual? aku cukup takut jika kamu mual saat mencium beberapa aroma makanan" Ucap Dru cepat.


Mendengar pertanyaan suaminya sejenak membuat gadis tersebut diam, dia melirik kearah Dru.


"Seperti nya tidak, aku pikir hanya di pagi hari saat aku bangun tidur atau hanya malam ketika aku ingin pergi tidur, kenapa memang nya? aku tidak mual untuk makan, aku pikir aku baik-baik saja" Tiffany jelas saja menjawab pertanyaan suaminya dengan cepat, jelas saja terdengar aneh saat bro bertanya apakah dia tidak merasa mual saat berhadapan dengan makanan.


dia pikir tidak ada masalah dengan perutnya soal makanan dan pertanyaan sang suaminya sedikit membuat dia menjadi curiga.


"apa dokter bilang sesuatu tentang sakit ku? misalnya aku harus menghindari beberapa makanan dan lain sebagainya?" dia bertanya kembali.


sebenarnya pertanyaannya juga tidak masuk akal tapi pembicaraannya disampaikan oleh Dru lebih membuatnya merasa tidak masuk akal.


"Bukan begitu, aku hanya merasa.... lupakan saja sayang, mungkin aku yang terlalu berpikir berlebihan, maafkan aku Tiff" dan pada akhirnya drum mencoba untuk menetralisir perasaannya juga berusaha untuk bersikap senormal mungkin.


dia pikir sepertinya dia berlebihan dan itu jelas saja membuat Tiffany merasa curiga, seharusnya Dru pikir dia tidak seperti itu, karena dia harus membuat kejutan pada sang istrinya malam nanti dan dia tidak ingin Tiffany tahu soal kehamilannya hingga dia memberikan kejutan kepada perempuan tersebut nanti.


"Maafkan aku karena terlalu over berpikir" lanjut laki-laki itu lagi kemudian.


Tiffany terlihat mengembangkan senyuman dia kemudian berkata.


"Itu bukan masalah, Mari kita pergi ke makanan yang ada di ujung sana, aku pikir mereka terlihat sedap dan nikmat, kemudian Mari kita mencoba untuk membeli es cream" dan perempuan itu bicara dengan cepat mencoba untuk memberikan rekomendasi kemudian dia berharap mereka membeli beberapa makanan juga menikmati es krim bersama.


Dru tidak banyak protes dia hanya menganggukkan kepalanya dan berkata.


"Apapun yang kamu sukai, aku pastikan aku juga menyukainya" ucap laki-laki tersebut dengan cepat.


Dru sebenarnya bukan tipe laki-laki yang suka pergi mencari makan di tempat makan seperti itu, dia biasanya suka pada hal-hal yang cepat, lebih memilih makanan pesan antar saat dia terlalu sibuk dengan urusannya. Tapi bukan berarti dia tidak suka makan ditempat seperti itu, sesekali dia akan datang ke tempat seperti itu untuk menikmati beberapa macam makanan yang dia sukai dengan beberapa temannya.


tapi pergi bersama seorang perempuan yang dia cintai jelas baru kali ini.


mereka bergerak ke arah beberapa macam gerobak makanan di mana Tiffany mencoba untuk memesan dan mencicipinya, sesekali sang istri menyuapi dirinya dan membiarkan dia menikmati makanan yang dipilihkan oleh perempuan tersebut.


"Suka?" Tiffany beberapa kali melesatkan tanya nya pada Dru.


"Hmm aku cukup menyukainya"


"Coba yang ini. .aaaaa..." dan perempuan itu beberapa kali bicara sembari menyuapi nya.


Dru hanya menurut dan menikmati berbagai macam hidangan makanan yang dipesan oleh sang istrinya.


"coba kita lihat apakah kita bisa mendapatkan menu es krim kesukaanku disini" pada akhirnya sang istri berkata seperti itu di mana bola mata Tiffany mencoba untuk menatap pembagian sisi kiri dan kanannya secara bergantian.


"Es krim?" Dru bertanya sambil mengerutkan keningnya.


"aku menyukainya kita akan cari es krim dengan tampilan terbaiknya" kemudian dia menggenggam erat lengan Dru dan mencoba untuk membawa suaminya tersebut mengelilingi tempat itu.


"aku baru tahu istriku menyukai es krim di usianya yang tua ini" laki-laki itu menggoda Tiffany sembari memicingkan bola matanya.


"tentu saja aku menyukainya sejak anak-anak hingga sekarang"Tiffany jelas saja menjawab dengan antusias.


"Dulu aku biasa membelinya bersama Jessi...." dia bercerita namun tiba-tiba langsung menghentikan kata-katanya, saat menyebutkan nama Jessica seketika dia terdiam.


"Ada apa?" Dru bertanya pelan.


Tiffany tidak menjawab, tidak tahu kenapa tapi dia tiba-tiba merindukan gadis tersebut, sejak kecil hingga dewasa mereka selalu bersama, ada banyak sekali masa-masa yang mereka lewati, setiap kali salah satu diantara mereka bersedih atau dimarahi oleh orang tua mereka, es krim adalah makanan yang menjadi pelampiasan mereka.


bagi mereka es krim mampu menghilangkan rasa sedih di hati mereka di mana rasa dingin itu bisa mengalahkan satu rasa yang menghantam perasaan mereka.


Satu ingatan Tiffany tentang Jessica menghantam dirinya.


"Berikan aku rasa coklat vanila"


"Berikan aku coklat vanilla"


mereka menyebutkan rasa es krim yang paling mereka sukai secara bersamaan, usia mereka masih terlalu muda, baru menginjak bangku sekolah dasar, mereka menggunakan pakaian seperti saudara kembar, dengan rambut yang diikat ke belakang, sejenak bocah kecil tersebut saling menatap antara satu dengan yang lainnya kemudian tiba-tiba mereka berdua tertawa karena merasa mereka memiliki satu selera yang sama.



"Berjanjilah pada ku, saat kita jauh dan saling merindu, mari menikmati es krim yang sama dimana pun saat kamu mengingat ku"


Dan tidak tahu kenapa Tiffany merasa bola mata nya tiba-tiba memanas, dia terlihat bergerak, menatap Dru untuk beberapa waktu.


"Tiff?" Dru jelas mengerut kan keningnya, menatap kearah Tiffany dengan perasaan bingung dan takut.


Selang beberapa detik kemudian perempuan tersebut secara perlahan masuk kedalam pelukan nya, dan didetik berikut tangis Tiffany pecah.


Aku merindukan mu Jess, sungguh.