The Betrayal

The Betrayal
Dalam moment paling indah


Gadis tersebut sejenak berpikir, membiarkan diri menatap wajah tampan mendominasi tersebut yang berada di atas tubuh nya, mereka berada pada posisi terbaik saat ini, apapun bisa Dru lakukan sebagai seorang suami nyata nya laki-laki tersebut masih bertanya dengan lembut dan hangat, menunggu persetujuan dari nya tanpa mau menyakiti perasaan Tiffany.


Sejenak gadis tersebut berpikir kemudian dia bertanya pelan.


"Berikan aku sebuah pernyataan yang bisa membuat aku yakin dan menjawab iya"


Dia bicara menantang, menatap dalam bola mata suaminya tersebut, jelas saja Tiffany berusaha sedikit bermain licik, ingin tahu bagaimana cara suami nya mengambil hati nya, ingin lihat apakah laki-laki tersebut benar-benar mencintai nya, sebab sejatinya sedikit banyak dalam berumah tangga cinta diperlukan didalam nya dan perempuan itu sangat serakah dan manja, hanya butuh rayuan dan kata cinta sudah mampu membuat mereka menjadi berbunga-bunga.


Mendengar ucapan istrinya membuat Dru berpikir dengan keras.


"Misal nya?"


Dru akhirnya bertanya.


"Pikirkan lah dengan keras"


Tiffany menjawab sambil mengulum senyuman, sengaja menggeser sedikit posisi nya agar membuat Dru salah tingkah. Laki-laki tersebut sedikit beringsut, enggan beranjak tapi membiarkan Tiffany terus berada di bawah nya, mencoba mencari posisi terbaik hingga pada akhirnya dia mencoba bergeser, memiringkan sedikit tubuh nya dan membiarkan kepala nya bertumpu pada tangan kiri nya.


Netra mereka kembali bertemu dimana Dru pada akhirnya kembali bicara.


"Misalnya tentang sebuah perasaan yang tersimpan rapat bertahun-tahun?"


Saat Dru bicara sembari mengajukan tanya, membuat Tiffany sedikit memiringkan tubuhnya, dia menunggu laki-laki tersebut bicara hal selanjutnya sembari dia sedikit melesatkan tanya.


"Itu terdengar menarik, membuat pendengar seperti ku penasaran dengan cerita selanjutnya"


Gadis tersebut berucap, menunggu Dru bicara tentang hal selanjutnya.


Dru diam sejenak, berusaha merangkai kata paling pas untuk dia jabarkan dan ceritakan, ini tentang perasaannya yang dia simpan rapat bertahun-tahun tanpa ada seorang pun yang tahu meskipun itu adalah mommy nya sekalipun.


"Sifat ku mampu membuat orang-orang berpikir aku tidak pernah tertarik pada apapun atau kepada siapapun"


Dan dia kembali bicara, menjabarkan soal dirinya.


"Hingga saat aku tertarik pada seorang gadis yang sering hilir mudik ke kediaman Xavier, aku menutupi semua perasaan ku dengan sifat datar dan dingin ku"


Mendengar ucapan Dru, Tiffany terlihat mengembangkan senyuman nya, dia mengangguk-anggukkan kepalanya dan setuju atas apa yang di ucapkan Dru.


Dia memang datar dan dingin, itu yang membuat Tiffany begitu tertarik pada nya meskipun tidak dipungkiri Hal pertama yang membuat dia tertarik adalah wajah tampan serta tubuh yang menggoda, hal tersebut jelas lumrah yang bisa berlaku pada laki-laki maupun perempuan manapun yang ada di muka bumi ini.


"Apa dia cinta pertama?"


Gadis tersebut bertanya, belum ingin menebak jika gadis itu dirinya.


"Lebih dan kurang, itu untuk pertama kalinya aku tertarik dengan seorang gadis"


Laki-laki tersebut menjawab sedikit malu, terlalu malu karena dia jatuh cinta pada hal diluar kapasitas nya sebagai seorang Dru yang kata nya tidak memiliki hati.


"Kapan pertama kali jatuh cinta pada gadis itu?"


Tiffany bertanya, ingin tahu kapan Dru pertama kali tertarik pada seorang gadis.


Laki-laki tersebut sejenak berpikir, dia menaikkan bola matanya, mencoba menerka-nerka.


"Sebenarnya aku tidak tahu kapan tepatnya, saat kamu masih menggunakan dua ikat rambut di kepala mungkin dengan ingus yang masih menghiasi lubang hidu...."


"Kakkkkk"


Tiffany spontan memukul lengan Dru, dia malu saat Dru mengatakan soal itu.


"Awwww itu sakit Tiff"


Laki-laki tersebut meringis, tidak menyangka istri nya akan memukul nya dengan refleks soal candaan nya.


"Ishhh itu memalukan"


Wajah Tiffany memerah, ingat bagaimana masa anak-anak nya yang sering hilir mudik ke kediaman Xavier tiap kali mereka berkunjung ke Paris, mommy Lana lan yang kini menjadi mertua nya sering membawa nya dengan atau tanpa izin mommy Ayana nya.


"Aku tidak mengeluarkan ingus saat masih kecil kecuali dalam keadaan Flu"


Dia merengek manja, malu sekali rasanya jika ingat masa kecilnya, tapi benar dia tidak seburuk itu saat kecil.


"Masa? aku pikir..."


"Kak..."


Dru terkekeh geli, berusaha melepaskan diri dari gigitan sang istri. Baru tahu obrolan sederhana bisa menciptakan ke inti'man antar suami istri, tepat nya ini yang disebut Pillow talk mungkin pikir nya. Bersama, bicara, dalam posisi tenang dan nyaman, bercerita atau bahkan saling bercanda antara satu dengan yang lainnya.


"Aku benar-benar jatuh cinta pada mu untuk waktu yang cukup lama, Tiff"


Dan akhirnya Dru memberanikan diri bicara, menatap Tiffany yang berusaha kembali bicara karena malu. Gadis tersebut seketika diam, membiarkan netra mereka bertemu antara satu dengan yang lainnya.


Jangan ditanya bagaimana jantung Tiffany Ketika mendengar nya, berdegup kencang tanpa bisa dikendalikan, sedikit bicara tapi sekali nya bicara mampu membuat dia melayang-layang.


"Lalu kenapa selalu bersikap dingin dan buruk setiap kali kita bertemu?"


Dia bertanya, ingin tahu kenapa Dru tidak pernah bersikap manis tiap kali mereka bertemu sejak dia masih anak-anak.


Dru diam sejenak, mencoba menjabarkan alasan nya.


"Terkadang untuk menutupi perasaan dan takut ketahuan, orang-orang dengan tipe seperti ku suka menampilkan kebalikan sifat asli mereka untuk menutupi perasaan yang sebenarnya, alasan tepat nya selain karena malu juga takut perasaan itu tidak terbalas sebab beberapa alasan menjadi pemicu"


Dia pada akhirnya menjelaskan alasan nya.


"Padahal kakak bisa mencoba nya"


Tiffany bicara pelan.


Dru terlihat diam.


"Pernah, tapi belum itu terjadi kamu berkata pada Defina aku bukan type kamu"


Dan seketika ingatan pada masa Tiffany berkata Dru bukan type nya terngiang dalam ingatan Tiffany.


"Lalu saat Sean melangkah mendekati diri kamu dan menjadi aku, pada masa itu aku sudah mencoba untuk mencari kesempatan dan memberanikan diri untuk berkata Hades itu aku, tapi pada malam itu...."


Dru tidak melanjutkan kata-katanya.


Tiffany seketika mengerutkan keningnya.


Malam itu?.


Gadis tersebut bertanya-tanya didalam hati nya.


Kapan?!.


Tiffany berusaha menyusun ingatan lama nya.


Belum juga dia mendapatkan ingatan yang dimaksud tiba-tiba Dru berkata.


"Mau memulai semuanya dengan ku Tiff?"


Dan Seketika Tiffany membuyarkan pemikiran nya.


Dru bangun dari posisi nya, kali ini laki-laki tersebut turun dari atas kasur, membuat Tiffany mengernyit kan keningnya, gadis tersebut bangun dari posisi tidur nya dan dia duduk di tepian ranjang, menunggu apa yang akan di lakukan suami nya.


Dru menjongkok kan tubuh nya kemudian dia duduk dan menekukkan satu kaki nya, persis seperti seseorang yang siap melamar pasangan nya.


Dru meraih tangan Tiffany kemudian berkata.


"Mungkin aku tidak sempurna Tiff, bukan laki-laki impian mu atau pangeran berkuda, juga mungkin tidak seromantis laki-laki dalam film India, juga tidak semanis laki-laki di drama Korea, tapi aku berjanji akan menjadi laki-laki yang meng'imami mu baik di dunia dan di akhirat, membawa mu pada peraduan terbaik dunia dan menggenggam dan membawa mu pada hingga masa tua dan pulang bersama insya'Allah ke peraduan akhir menuju akhirat, merajut masa depan, membawa mu pada syukur nikmat yang tidak terhingga, dibalik Rizky yang di atur Allah SWT, anak-anak dan harta tidak menjadi prioritas utama karena mereka menjadi titipan untuk kita"


Laki-laki tersebut pada akhirnya bicara


"Mari memulai semua nya dari titik 0 dan paling terendah, merenda kasih sayang dan cinta, aku jelas memiliki banyak kekurangan Tiff, tidak ada pasangan yang menikah dan hidup bersama tanpa cacat celah, kekurangan dan kesulitan tanpa ujian, mari melewati semuanya bersama, saling menggenggam tangan dan menyakini diri masing-masing jika kita bisa menjadi satu dari dua orang dengan dua watak dan warna yang berbeda, mari menyatu menjadi satu antara kamu dan aku menjadi kita"


Demi apapun seketika bola Tiffany terlihat berkaca-kaca, dia seperti nya sedikit kehilangan kata-katanya, tidak mampu menjawab ucapan Dru karena rasa haru atas apa yang dilakukan Dru pada nya.


Meskipun sebenarnya kondisi nya kurang tepat karena dia tidak menggunakan pakaian lengkap melainkan hanya dililitkan oleh kain handuk saja, tapi moment nya benar-benar tepat dan terasa begitu berharga.


Tiffany mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh, dia terlalu terharu dengan apa yang di ucapkan oleh Dru, mencoba menahan tangis nya dimana air mata tidak bisa dia bendung lagi saat ini.


"Maukah kamu menjadi istri ku Tiff? menerima aku menjadi suami kamu?"


Dan Dru kembali bertanya, menatap wajah istri tersebut dengan bola mata yang juga berkaca-kaca.


Tiffany berusaha untuk menetralisir detak jantung nya, menahan perasaan yang menggebu-gebu menjadi satu ditengah air mata yang enggan berhenti dan terus turun tanpa henti.