The Betrayal

The Betrayal
Para tetua


Kepada pembaca baru yang ingin tahu kisah silsilah para pendahulu atau tetua bisa merapat disini ya makkkk.


...PUTRI PERAWAN MILIK DADDY...


...Ada 3 buku yang sudah ending...





******


"Daddy...."


Seketika bola mata indah itu terbuka saat sebuah teriakan panjang di pagi hari cukup membuat terkejut Aland, setelah hampir 4 tahun tidak kembali ke Indonesia, meninggalkan sang putri sendirian bersama pelayan wanita kepercayaan, akhirnya Aland kembali juga malam tadi.


Dia bahkan belum juga melihat wajah putri nya selama 4 tahun ini, bahkan enggan melihat foto apalagi melakukan Vidio panggilan bersama, mereka hanya melakukan panggilan melalui telpon biasa, memberikan semua kebutuhan sang putri tanpa kekurangan sedikit pun selama ini.


Sebab dendam dimasa lalu nya jelas masih membenam di hati nya, dia hanya enggan menambah dendam jika melihat wajah yang sama itu lagi nanti.


17 tahun bukan waktu sebentar untuk memendam dendam yang terus membara, bahkan harus merawat putri nya dengan rasa yang bercampur aduk menjadi satu. dia mengurus bocah itu sejak usia 5 tahun hingga 12 tahun dengan perasaan yang sulit dijelaskan, wajah sang ibu jelas mendominasi perasaan nya hingga acapkali dia berlaku kasar pada gadis itu dulu.


Karena itu ketakutan yang luar biasa dalam penyiksaan yang tidak masuk akal hingga membuat gadis itu acapkali menangis karena. mendapatkan pukulan dari nya, pindah dari Indonesia selama 4 tahun, menetap di Manhattan dan mengurus perusahaan disana adalah pilihan paling bijaksana menurut Aland.


Aland laki-laki dewasa berusia 37 tahun itu pada akhirnya lebih memilih tidak menikah dari pada kembali terluka seperti dimasa lalunya. Memilih hubungan percin..taan dengan perempuan bayaran ketimbang mengikat tali per..cintaan yang mengerikan.


Hati nya telah mati dan dipenuhi kebencian pada masa lalu nya, dan kegilaan yang terjadi kini, Aland berencana membalaskan dendam sang  ibu kepada putri kesayangannya setelah dia dewasa.


"Kau gila"


kalimat itu yang selalu di ucapkan Farhan pada nya.


"Yeah anggap saja aku sudah gila"


"Daddy .."


Tanpa mengetuk pintu, tiba-tiba seorang gadis berpakaian seragam SMA menyeruak masuk ke dalam kamar dan secepat kilat menyambar tubuh Aland.


"Daddy"


Tawa bahagia jelas terpancar diwajah gadis itu, Aland Seketika membeku, 4 tahun meninggal kan gadis itu, kini gadis itu benar-benar Tumbuh kembang secara luar biasa.


Wajah dewasa, indah, cantik, dengan tubuh penuh berisi dari atas hingga ke bawah.


Oh damn it, Seketika dibawah sana bergejolak  tidak karuan, meronta-ronta dalam keadaan tidak menentu, apalagi ketika gadis itu memeluknya dengan erat, mencium seluruh bagian wajahnya berkali-kali.


"Ailee"


teriak Aland kesal


"Daddy"


kali ini Ailee yang berteriak kesal.


"4 tahun begitu lama, membuat aku begitu merindukan Daddy"


seketika bola matanya berair dan sepersekian detik kemudian air mata itu tumpah tidak karuanan.


"Aku sangat merindukan mu Daddy, apa Daddy tidak merindukan ku sama sekali?"


tangis nya terus pecah, dia terisak di balik dada bidang Aland.


"Kenapa Daddy begitu jahat pada ku?"


oh tuhan.


Pada akhirnya gadis itu sama sekali tidak mau beranjak dari kamarnya, memilih tidak sekolah bahkan terus menempel di samping nya.


"Kau Kan kembali meninggalkan ku bukan?"


jelas saja Ailee menatap curiga ke arah Alan, dulu sejak kecil mulai usia 7 tahun hingga SMP kelas 1 Aland acapkali membohongi diri nya, berkata pergi sebentar rupa-rupa nya menghilang selama 6 bulan hingga 1 tahun, menitipkan dirinya pada bibi pelayan rumah dan mang Rahman,kembali ke rumah hanya beberapa Minggu saja.


Dan puncaknya jelas saja saat dia kelas 2 SMP Aland lagi-lagi membohongi dirinya, berkata pergi sebentar tahu-tahu menghilang selama 4 tahun, tidak ada kontak-kontak Vidio call, tidak pernah pulang, hanya telpon bik Sumi menanyakan keadaan nya,tiap dia ingin bicara Aland selalu langsung mematikan panggilan nya.


Kali ini dia tidak akan tertipu, dia harus memiliki sejuta trik untuk bisa membuat Daddy nya agar tetap tinggal di rumah.


Menyembunyikan Pasport nya dan...


"Mulai hari ini, aku akan tinggal di kamar Daddy"


seketika bola mata Aland membulat, dia jelas saja melotot kaget.


"Apa?"


Secepat kilat seluruh barang-barang milik Ailee benar-benar telah berpindah kekamar nya.


"Ailee.."


"Aku tidak akan tertipu lagi kali ini"


Ailee bicara sambil mengedipkan sebelah matanya.


Oh damn it


*******


"Apa yang kau lakukan di kamar ku, nona?"


"ha ah?"


aishe jelas tercengang.


"Kamar?"


buru-buru wajahnya menoleh kesisi kanan dan depan, menyembul dan mengintip melewati lengan Murat.


kasur dominan berwarna hitam, seluruh ruangan yang memang benar seperti kamar pribadi.



hotel model apa ini?


seketika dia tertawa


"Hahaha om aku fikir terjadi kesalahpahaman disini"


aishe bicara sambil menyentuh pelan dada Murat, menepuk-nepuk nya dengan lembut, jangan sampai menyinggung laki-laki itu.


"Aku terjebak di ruangan sebelah"


ucap nya cepat masih berusaha menyunggingkan senyuman paling manisnya.


"Kau tahu om? gadis seusia ku ini tidak mungkin sembarangan masuk ke kamar laki-laki tua..."


Murat melotot saat dibilang tua


aishe kembali menepuk-nepuk lembut dada Murat.


"Hahaha maksud ku laki-laki dewasa seperti anda om"


ralat nya cepat.


"Aku hanya berada didalam situasi terjepit, anda tahu istilah terjepit om? sangatttt tidak tahu jalan untuk keluar, pada akhirnya terpaksa untuk memintas ke pintu samping yang kebetulan terlihat"


aishe berusaha menjelaskan sambil berlahan mencoba mendorong tubuh Murat.


tapi yang didorong sama sekali tidak mau mundur.


aihhh kau ini menyebalkan sekali.


umpat aishe


"Om kau tahu ini nama nya pelanggaran hak asasi manusia, ini juga termasuk pelecehan seksualisme"


Murat menaikkan ujung bibirnya.


"kau tahu keponakan?"


"Hah?"


What? keponakan? yang benar saja.


"Gadis yang masuk kekamar ku biasa nya gadis-gadis bayaran yang sudah aku beli"


iwhhhh menjijikkan sekali.


aishe merinding mendengar nya.


"Dan karena kamu sudah masuk ke sini, maka kamu harus membayarnya dengan tidur di sini malam ini"


what?


aishe langsung menutup dadanya, melotot ke arah Murat.


"Wah begini yah om, anda tahu? anda lebih cocok jadi om ku atau bahkan menjadi daddy ku, usia anda sudah tidak muda lagi, aku masih 22 tahun dan anda..."


Seketika sifat asli aishe keluar, kecerewetan yang hakiki, dia bicara sambil mendorong-dorong dada Murat.


"Bisa jadi lebih dari 37 atau bahkan 38 tahun malah bisa jadi lebih, bagaimana aku bisa dibeli dan tidur dengan anda?"


"Coba bayangkan berapa selisih usia kita?"


aishe menghitung dalam hati


"16 tahun atau bahkan bisa jadi lebih, kalau anda menikah muda, aku benar-benar pantas memanggil mu DADDY"


Aishe melotot kesal.


yang benar saja, sejak kapan dia Sudi tidur dengan laki-laki setua ini? bahkan laki-laki ini bisa jadi lebih tua dari kakaknya Aland. dengan Aland saja kadang dia fikir laki-laki itu daddy nya, sebab sejak Daddy mereka tiada, Aland jelas-jelas menjadi kakak dan daddy didalam kehidupan nya.


Dilihat-lihat laki-laki dihadapan nya tampan sih, tampan...! tapi tetap saja tua, memangnya didalam sana bisa menjamin kuat sempurna??


ee... wait otak otak stop ...!!!


"Kamu benar-benar laki-laki tidak setia, padahal istri kamu tadi begitu cantik sekali"


protes nya kesal. Tapi tiba-tiba dia ingat soal sesuatu.


"Ahhh apa dia juga wanita satu malam anda om? iwwwhhh sangat tidak menyenangkan"


oceh aishe sambil menebar-nebak lantas berjalan menjauhi Murat.


Murat hanya berusaha mendengarkan dengan enggan ocehan gadis itu, dia baru tahu betapa cerewet nya anak kecil ini.


yeah memang lebih pantas jadi anak nya, dia bahkan tidak tertarik pada gadis kecil yang bisa jadi didalam sana tidak benar-benar sudah tumbuh sempurna, tapi ketika dia ingat Ailee nya jelas saja dia harus menghabisi gadis muda dihadapan nya ini.


seketika tangan aishe meraih gagang pintu kamar berniat untuk membukanya, tapi...


ommo ommo


tidak bisa


"Hehehe om, bisa aku keluar sekarang?"


yang ditanya tampak mengeluarkan ekspresi wajah yang begitu dingin dan datar, maju berlahan mendekati aishe, dia berdiri lantas menjongkok kan sedikit tubuhnya, karena jelas tubuh aishe begitu imut dari tubuh nya yang besar dan tinggi.


"Kau tahu? siapapun yang masuk kekamar ini akan sulit untuk keluar tanpa seizin dari ku"


Bisik Murat dibalik telinganya.


seketika aishe merinding.


oke aishe keluarkan jurus rayuan maut.


"Begini om oh tidak maksud ku Daddy yang tampan, bukan kah aku lebih cocok jadi Putri anda? sangatttt tidak pantas sekali jika seorang laki-laki seumuran anda mengunci seorang gadis seumuran anak anda didalam kamar anda, tahu apa kata orang? sangat memalukan"


ucap aishe sambil kembali mendorong dada Murat yang terus mencoba menempel ke tubuhnya.


hmm aroma laki-laki itu memang begitu menggoda,tapi bukan dengan laki-laki tua yah....!!!


pekik aishe dalam hati.


"anda tahu Daddy? gadis cantik ini harus segera ke atas"


ada yang lebih PD dari dirinya? yang dengan bangga berkata jika dia cantik?


Yeah aku memang cantik brengsek...!!


"Sebab ada urusan yang lebih penting dari pada tidur bersama, aku sedang mengejar eksistensi ke kariran ku yang jika sedikitttt saja terlambat untuk aku kejar maka akan menjadi kehancuran dihidup ku"


Lanjut aishe sambil menaikkan alisnya


"Karena jika aku terlambat mengejar nya, maka anda harus membayar mahal untuk kegagalan itu"


"Berapa besar?"


"Ya???"


jawaban laki-laki itu jelas diluar ekspektasi nya.


"A..pa?"


"Aku akan membayar kerugian nya"


"What?"


lah lah lah kok jadi seribet ini sihhh?????


pekik aishe dalam hati.


"Berapa?"


"Bu..bu..kan begitu maksud ku"


bagaimana cara nya keluar dari sini??


otak otak Mana otak????


mikirrrr Aishe...!!!!!


******


Seharusnya Bern meluncur pergi saat ini, tapi saat asisten pribadi nya menghubungi diri nya dan berkata orang yang akan ditemui Bern membatalkan janji nya hingga esok hari maka Bern Fikir sebaik nya dia tinggal di apartemen saja, menikmati waktu istirahat sejenak untuk beberapa waktu hingga jelang malam baru akan kembali meluncur ke markas.


Di sela lelapnya seketika Bern terbangun, laki-laki itu melirik ke arah jam di dinding lalu secepat kilat dia menyambar handuknya dan melesat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Membuka pintu kamarnya sepelan mungkin dan dengan siaga mencari tahu siapa yang berada di dalam apartemen nya itu.


Seketika dia menaikkan ujung alisnya saat mencium aroma wangi dari arah dapur, dengan gerakan perlahan dia berjalan menuju ke arah dapur.


Tampak seseorang sibuk berkutat di dapur miliknya, seorang gadis kecil yang tampak asik dengan kegiatan nya sambil terus bersenandung ceria. mata gadis kecil itu hanya fokus pada apa yang dia kerjakan, dengan sebuah earphone yang menempel di telinga nya.


Sejenak Bern mengerutkan keningnya, dia fikir dia pernah melihat gadis itu sebelum nya,Bern berusaha untuk mengingat-ingat.


Oh **** bocah di dalam lift.


ucap bern di dalam hati.


Laki-laki itu dengan cepat meletakkan pistolnya ke dalam nakas, kembali menoleh ke arah gadis itu beberapa waktu.


Tampak sebuah senyuman indah menghiasi wajah gadis itu,entah tengah berguman apa Bern tidak tahu, gadis itu menatap menu masakan nya yang sudah jadi sambil menepuk ke dua telapak tangan nya dengan penuh kebahagiaan. Lantas gadis kecil itu Meletakkan makanan nya ke dalam microwave, memastikan semua bersih, kemudian melepaskan earphone di Balik telinga nya secara perlahan selanjutnya gadis itu melepaskan afron yang digunakan nya.


Bern berjalan mendekati gadis itu, berdiri tepat di belakang tubuh kecil itu, dan seketika aroma wangi tubuh gadis itu sejenak membuat Bern memejamkan bola matanya.


Tidak lama kemudian bern berbisik pelan di balik telinga gadis itu.


"Ternyata kamu masih anak-anak"


**********


Seperti biasa Belle berkutat dengan kegiatan nya terhitung sejak mulai masuk ke apartemen tuan bule, membersihkan tiap sudut ruangan dari ujung hingga ke ujung, memastikan tidak ada 1 kotoran Pun yang tersisa.


Hingga berlanjut ke dapur berkutat dengan menu yang akan di masak nya, tapi sejenak Belle melebarkan senyumannya saat melihat sebuah memo kecil tergeletak di atas meja bersamaan dengan tumpukan uang.


"Banyak sekali?"


Gumam Belle menatap lembaran uang yang ada di tangan nya.


Lalu dia mencoba membaca catatan kecil itu.


Beef Bourguignon


Belle mengembangkan senyumannya.


Kemudian Belle dengan gerakan cepat mulai membuat menu yang di request sang tuan bule.


mencari bahan di lemari pendingin, mulai mengelola, membersihkan hingga masuk ke tahap memasak nya.


cukup lama Belle berkutat di dapur, seperti biasa di temani oleh earphone di telinga nya, hingga akhirnya menu Beef Bourguignon yang di request sang tuan bule telah siap di sajikan dengan indah.


"Hmmm delicious"


Guman Belle sambil melebarkan senyumannya, menepuk ke dua telapak tangan nya dengan perasaan bahagia.



Sesaat Belle langsung meletakkan menu itu kedalam microwave, melepaskan earphone miliknya disusul dengan melepaskan afron di tubuhnya, tapi tiba-tiba sebuah suara mengejutkan dirinya.


"Ternyata kamu masih anak-anak"


"Hahhh?"


Belle dengan gerakan cepat menoleh dengan penuh keterkejutan, karena bergerak terlalu cepat tanpa sadar hampir terjatuh ke belakang, tapi dengan gerakan cepat pula sang pemilik suara menahan tubuhnya, lengan kiri laki-laki itu dengan sigap menahan pinggang Belle, dan dalam hitungan detik seketika bola mata mereka saling bertemu antara satu dengan yang lainnya.


*******


Setelah proses berkumpul nya keluarga, Selena dan Bahrat di keesokan paginya langsung meluncur pulang dalam persiapan menuju ke Palembang bersama Edo dan sang kekasihnya vio.


"Kami hanya 2 hari disana, selama Kami pergi membawa untie malika untuk kembali, kalian bisa melacak keberadaan aries"


Ucap Bahrat cepat.


Abigail mengangguk cepat, dia fikir anak buah Bern bahkan sudah bergerak lebih dulu untuk mencari informasi.


3 pasang manusia itu bahkan masih terlelap didalam tenda saat bahrat dan Selena beranjak keluar dari mansion sekitar pukul 5 pagi. Masih terlalu dini membangunkan mereka fikir Abigail.


Aishe jelas meringkuk didalam pelukan Murat, cukup terlelap setelah begadang panjang semalam, Ailee baru saja bisa tidur setelah menumpahkan seluruh isi perutnya di kamar mandi hingga pukul 4 pagi dan yang membuat Abigail tidak habis fikir kenapa Belle bahkan semakin menempel pada Bern setelah kejadian malam itu, seolah-olah Bern adalah satu-satu orang yang menjadi pegangan gadis itu saat ini.


Dan abigail fikir 3 sosok manusia berwajah es itu kenapa bisa mendapatkan para bocah? itu sangat menyakiti perasaan diri nya.


Dia fikir apakah pesona nya telah menghilang? hingga jangankan bocah, orang dewasa pun dia tidak punya.


Hahahaha Abigail jelas ingin tertawa terbahak-bahak saat ini juga, bahkan ingin sekali dia memaki Bern, karena keberuntungan dirinya laki-laki itu mendapatkan seorang bocah kecil.


Tunggu dulu, apa mungkin bocah kecil itu menyukai Bern? belum tentu, dia kan hanya berfikir Bern adalah penyelamat hidup nya.


Oh **** ayolah Abigail kenapa fikiran mu menjadi begitu licik.


Umpat Abigail dalam hati.


"Oke sebaiknya aku mulai meminta para pelayan membuat kan kami sarapan"


omel Abigail dalam hati sambil berlalu dari susunan tenda Dengan masing-masing penghuninya.


Dia fikir terlalu lama melihat para pasangan pedofil itu, lama-lama dia bisa juga jadi seorang pedofil seperti ke tiga laki-laki itu.


Sangat mengerikan sekali, jatuh cinta pada anak-anak.


Batin Abigail.


lantas dia langsung melesat pergi dari sana.


********


"Selamat pagi tuan"


Beberapa pelayan rumah menyapa laki-laki itu sambil membungkukkan tubuh mereka, Abigail hanya mengibas-ngibaskan tangannya meminta agar semua pelayan tidak sungkan.


"Sudah mulai menyiapkan sarapan?"


Tanya Abigail cepat.


"Iya tuan"


Salah satu pelayan menjawab cepat.


"Buatkan jangan terlalu berlemak untuk 1 orang, Ailee tengah hamil muda, perut nya agak sulit menerima sesuatu yang terlalu berlemak"


Ucap Abigail Cepat.


Para pelayan mengangguk tanda mengerti.


"Di sini ada pelayan bagian dapur yang ikut Al Jaber selama lebih dari 28 tahun?"


Tiba-tiba Abigail bertanya pada semua orang.


"Bibi Amora"


"Dimana dia?"


"Disini tuan"


Seorang wanita paruh baya muncul dari arah belakang Abigail, membungkukkan tubuhnya secara perlahan.


"Masih ingat apa kesukaan Eden kecil?"


Tanya Abigail cepat.


Sejenak wanita itu berfikir, kemudian mengangguk cepat.


"Buatkan makanan kesukaan nya"


"Baik tuan"


Abigail langsung berbalik, dia fikir sebaiknya dia membersihkan diri karena aroma daging barbeque terasa memenuhi rongga hidungnya dari pakaian nya, namun rupanya tiba-tiba dari arah pintu depan terdengar keributan, saat Abigail menoleh Eden / Kevin Burja melesat masuk dengan penuh kemarahan,menatap Abigail dengan bola mata yang begitu mengerikan.


"Dimana adik ku, breng..sek?"


Eden fikir bagaimana bisa Keluarga Al Jaber sudah mengetahui semua soal siapa diri nya tapi masih tetap diam, bahkan tahu soal Belle kecil, juga dengan licik nya membawa gadis itu ke rumah Al Jaber.


Dia langsung lari menuju ke halaman belakang sesuai apa yang di beritahukan pelayanan didepan rumah, jika semua keluarga Al Jaber berada di taman belakang tidur didalam tenda.


Abigail jelas tercekat.


Oh ****.


umpat Abigail saat melihat Eden melesat lari menuju ke belakang, Abigail fikir Bern sedang tertidur lelap memeluk Belle, maka bencana apa yang akan terjadi setelah ini.


Abigail dengan cepat mengejar langkah Eden mencoba menghentikan nya tapi gagal.


Eden sudah berada tepat di salah satu tenda yang isi nya adalah Bern dan Belle,bola mata Eden jelas membulat luar biasa, rahangnya mengeras dan Gigi nya saling beradu sempurna saat melihat Belle masih tertidur pulas meringkuk didalam dada Bern.


Eden jelas ingin sekali menghajar laki-laki itu, tapi tanpa diduga Bern sudah membuka bola matanya sejak tadi, pandangan mereka beradu dan.


Kletekkk


Bern mengeluarkan senjata nya, bola matanya jelas menatap Eden dengan pandangan seolah-olah dia siap membunuh laki-laki itu kapan saja.


Oh God.


Abigail jelas tercekat.


Dia fikir setelah ini tragedi apa yang akan terjadi?.


*****


Bola mata Belle jelas terpaku saat menatap sebuah mobil melaju dengan kecepatan penuh berusaha menghantam tubuh Ailee.


Belle berusaha untuk berteriak sekuat tenaga tapi yang terjadi lidah nya menjadi kelu bahkan suara nya seolah tertahan tidak sanggup merangkak keluar dari tenggorokan nya.


Bola matanya menatap seorang perempuan dari sisi kirinya yang Mencoba berteriak lantang ke arah perempuan di sisi kanan nya. Posisi mereka jelas sama-sama jauh untuk menggapai tubuh Ailee


Tapi realita nya sepersekian detik kemudian Belle jelas menangkap sosok sang kakak Eden berlarian mencoba menangkap tubuh Ailee.


Sama seperti saat di masih anak-anak dulu, sang kakak pernah menangkap tubuh nya yang nyaris tertabrak sepeda, kali ini sang kakak "Eden" dengan segenap tenaga dan hati nya berusaha menangkap tubuh eilee.


Seketika kakak nya itu mendekap erat tubuh Ailee, membiarkan punggungnya di hantam bak kilatan petir, dalam hitungan detik berusaha memutar tubuhnya dan membiarkan tubuh Kokoh itu menghantam lantai lebih dulu, posisi Ailee jelas berada di atas Eden, tangan kiri Eden memeluk Engan punggung Ailee sedang kan tangan kanannya mendekap erat kepala Ailee. Seolah-olah takut jika gadis seusia Belle itu ikut terjatuh dan terhempas ke lantai.


Seretan panjang menggesek kasar tubuh itu, membawanya persis seperti skateboard yang meluncur tanpa batasan, hingga akhirnya terhenti seketika tanpa alasan.


"Akhhhhh"


Teriakan Belle jelas memecah keadaan, dia menatap sosok sang kakak tumbang dengan cara mengerikan


Belle jelas melihat darah segar mengalir dari seluruh anggota tubuh sang kakak, berlumuran dimana-mana, bahkan Ailee yang awal nya dalam posisi dipeluk oleh Eden, seketika spontan mendongak, mencoba duduk sambil berteriak histeris.


"Daddy..no..maafkan aku"


Belle jelas melihat kepanikan dan ke histerisan di wajah Ailee.


Di satu sisi, Hera secepat kilat melompat ke kap depan mobil yang menabrak Eden dan Ailee, dengan posisi persis seperti Spiderman yang beraksi membentangkan kaki kanan nya kesamping dengan kaki kiri tertekuk sempurna, tangan kiri Hera menahan kap mobil dan tangan kanannya mengacungkan pistol tepat mengarah ke kepala O'Hara.


Dalam sekali tarikan.


Dooorrrrr


Sebuah hantaman peluru tepat mengenai kepala O'Hara tanpa ampun.


Eve dan Winda secepat kilat menyambar tubuh para pengawal didalam sana tanpa basa-basi, saling menghantam antara satu dengan yang lainnya.


Dan seketika Winda menyeret Karl untuk membawanya agar di buat setersiksa mungkin oleh para kawanannya.


Aland dengan panik meraih tubuh Eden, mencoba mengguncang tubuh laki-laki itu beberapa waktu.


seketika dia memundurkan tubuhnya, baru sadar jika laki-laki itu terluka parah tepat di Perutnya.


"Oh shi..t"


Umpan Aland penuh dengan kemarahan.


Laki-laki itu fikir kapan Eden mendapatkan tembakan itu, kenapa mereka sama sekali tidak menyadari nya.


Dari Pintu depan terdengar mobil sirine polisi yang memecah kegelapan malam, Winda sudah memperkirakan jika mereka akan tiba dalam beberapa waktu.


Bola mata Belle seketika kembali membulat saat dia melihat aries mencoba mengarahkan pistol nya ke arah Bern yang tampak berusaha membantu kakak nya Eden menuju ke arah mobil untuk dibawa ke rumah sakit.


Seketika Belle panik, berusaha mencari seseorang untuk bicara, tapi bola mata Belle tanpa sengaja melihat sebuah pistol yang tergeletak di depannya, dalam gerakan cepat Belle mengokang nya dan mengarahkan nya pada aries.


ingatan kilas balik saat Eden mengajari dirinya menggunakan senjata dan menembakkan senjata itu pada papan sasaran, seketika Belle menarik pelatuk nya berkali-kali.


Dorrrrrrrrr


Dooorrrrr


Doorrrrrr


Gadis itu tidak paham berapa kali dia mengokang dan menarik pelatuk senjata itu, yang dia ingat betapa wajah laki-laki itu begitu menjijikkan bagi dirinya.


Di ujung sana Sepersekian detik kemudian tiba-tiba Ailee berdiri dan


Bruuggggg


Tubuh ailee itu tumbang seketika.


Dorrrrrrrrr


Doorrrrrrr


Belle terus menarik pelatuk nya dengan gerakan tanpa henti, seperti orang yang hilang kesadaran nya ingatan kejadian malam itu ketika aries ingin memperkosa dirinya memenuhi seluruh isi kepalanya, dia merasa begitu jijik, benci, muak, marah dan entah apalagi yang ada di harinya saat ini.


Bern menyadari kondisi Belle, dia fikir gadis itu mulai kehilangan akal fikiran nya, trauma di masa kemarin membuat gadis itu hilang kendali, secepat Kilat Bern berlari ke arah Belle, mencoba menyadarkan Belle yang terus menembak ke arah aries padahal selongsong peluru pada pistol itu telah habis sejak tadi.


"Belle, Belle"


"Akhhhhhh"


Belle terus berterbangan histeris, menatap penuh kebencian ke arah aries.


Bern mencoba meraih wajah gadis kecil itu dengan kedua telapak tangan nya, mencoba menyadarkan Belle dari keadaan nya.


"Belle, lihat mata ku, Belle"


Bern jelas merasakan betapa tubuh kecil itu bergetar hebat, menangis histeris tanpa bisa berhenti.


Secepat kilat Bern membuang pistol dari tangan Belle, lantas Bern memeluk erat tubuh Gadis itu sekuat tenaga nya.


"Semua baik-baik saja, semua baik-baik saja, Belle"


Ucapannya pelan sambil terus mencoba menenangkan belle, hingga akhirnya hanya tersisa isakan tangis yang melepuh bersama bisingnya suara orang-orang dan sirine polisi yang saling bersahutan.