
Masih di masa lalu
Setelah Jessica menukar minuman milik nya dan Sean.
Jessica berjalan terseok-seok kearah salah satu kamar hotel dimana seharusnya dia dan Tiffany tinggal, mereka mengadakan pesta hingga pagi, Noura sengaja membawa ketempat tersebut karena hotel itu memang milik keluarganya, meminta para teman-teman untuk tidak kembali pulang hingga keesokan hari agar semua orang merayakan ulang tahunnya dalam kebahagiaan mengingat dia juga akan melepaskan masa lajang nya tidak lama lagi. Apalagi Tiffany juga akan menikah dalam waktu dekat karena itu mereka berkata mungkin ini malam ini akan menjadi pesta malam aja terakhir untuk mereka bersama.
Gadis tersebut mencoba untuk melangkahkan kakinya yang terasa begitu berat di mana Jessica berpikir saat ini dia benar-benar tidak bisa mengendalikan matanya yang mengantuk, dia mencoba untuk melangkahkan kakinya mencari kamar mereka, tangannya berusaha untuk bergerak berpegangan pada dinding hotel tersebut dari ujung hingga ke ujung, di mana bola matanya mencoba untuk mencari nomor kamar yang dia inginkan.
"Berapa nomornya?!."
Jessica bertanya-tanya didalam hati nya, dia berusaha mencari nomor kamar sembari berusaha untuk menghubungi Noura, berharap gadis tersebut membawa Tiffany secepat nya menjauh dari Sean.
"Kamu sudah membawa Tiffany?" dia masih sempat bertanya di balik headset handphone nya, bertanya pada Noura di ujung sana.
"Aku sudah membawa nya ke kamar ku" dia lega selalu mendengar apa yang diucapkan oleh Noura di ujung handphone nya.
"Syukurlah" Jessica menghela nafas nya.
"Kamu dimana? aku akan menyusul mu" Noura bertanya khawatir di seberang sana.
"Aku kembali ke kamar yang seharusnya aku dan Tiffany tempati, aku hampir menemukan nya...aku pikir aku menemukan nya" entahlah dia tidak bisa meyakinkan apakah dia benar-benar menemukan kamarnya, tapi dia pikir itu nomor yang benar. dia merasa apa yang dilihatnya kini terlihat berbayang-bayang di depan, dia merasa angka yang ada di pintu di hadapannya itu seolah-olah berubah.
"katakan padaku apa yang terjadi pada Sean?" dia berharap Noura sudah mengirimkan seorang perempuan untuk menggantikan posisi Tiffany, sebab dia tidak bisa menggantikan posisi Tiffany saat ini.
Noura dan dia sudah menyusun skenario se apik mungkin, tidak terbesit didalam rencana agar dia menikah dengan Sean, dia hanya ingin menekan Sean agar membatalkan pernikahan nya dengan Tiffany tidak lebih, awalnya mungkin dengan alasan dia kehilangan masa depan karena Sean agar laki-laki tersebut merasa bersalah dan menjauh dari keluarga Hillatop.
Namun saat di hari H beberapa jam sebelum nya tadi, dia dan Noura memutar rencana, menyewa Perempuan lain untuk melakukan nya, orang amatiran seperti mereka sangat tidak bisa untuk menyusun rencana kelas kakap untuk menjebak seseorang.
Tapi siapa sangka semua berada di luar rencana mereka.
"Miss Jee?" Tiba-tiba suara seseorang memecah keadaan.
"Miss Jee? siapa?" Jessica mengernyit kan dahinya saat 2 laki-laki berbadan kekar berdiri dihadapan nya .
Dia agak terkejut, mencoba mengedipkan bola mata nya untuk beberapa waktu, hingga akhirnya tiba-tiba seorang laki-laki muda yang lumanyan tampan berdiri dihadapan nya.
"Kami menunggu anda sejak tadi, Miss" laki-laki dengan tubuh kekar dan perut kotak-kotak tersebut mengembangkan senyuman nya kearah Jessica.
mendengar apa yang diucapkan oleh laki-laki di depannya itu seketika membuat Jessica mengernyit kan dahi nya.
"Ya?" dia bertanya.
"Kita akan melakukan prosedur surogasi nya, ini sudah cukup terlambat"
Jessica masih bingung, dia berusaha menekan kesadaran nya di tengah tubuh nya yang semakin melemah atas kantuk yang menghantam dirinya.
"Surogasi? aku pikir kalian salah, aku bukan miss.."
belum pula dia selesai bicara dia merasa kepala nya jadi pening, dan perempuan dihadapan nya mendekatinya sembari dia menaikkan Jemari tangan nya, memberi perintah pada 2 laki-laki kekar tersebut agar membawa dirinya.
Tunggu dulu.... Jessica panik, dia ingin memberontak tapi sepertinya dia kehilangan kesadaran nya, sebab dia pikir seluruh syaraf tubuh nya melemah saat ini juga.
"Ada apa? ada apa dengan surogasi mother? oh ya Tuhan, ini salah besar"
*******
Rumah sakit xxxxxxx
Ruang khusus.
Dalam keadaan tidak sadar nya, Jessica masih bisa mendengar samar-samar suara orang-orang disekitar nya, bahkan dia masih bisa melihat wajah blur juga samar seseorang yang berdiri di ujung sana.
Meksipun Jessica sudah nyaris tidak bisa membuka bola matanya atas rasa berat di sekitar bola matanya, dia masih bisa melihat sosok laki-laki yang berdiri di ujung sana dan tengah bicara dengan seseorang yang lainnya.
"Kenapa dia tidur?" Suara laki-laki tersebut terdengar samar-samar.
"Seperti nya dia baru mengkonsumsi obat tidur, itu bukan masalah sir, kita akan melakukan proses nya sekarang juga"
Jessica berusaha untuk melihat dengan seksama laki-laki tersebut, di mana samar-samar bisa dia lihat bola mata indah laki-laki itu untuk beberapa waktu.
Bukankah bola mata nya mirip dengan bola mata seseorang?!.
Jessica pada akhirnya memejamkan perlahan bola matanya.
"Kita akan melakukan nya sekarang, sir"
"Bukan masalah, bisa jangan terlalu lamban? aku harus segera pergi secepat nya"
"Yes sir"
*******
Keesokan harinya
Sebelum matahari terbit
Rumah sakit xxxxxxx
Jessica berusaha untuk menggerakkan jemari-jemari indah nya ketika dia merasa mendengar beberapa suara berisik disekitar nya.
"Dia bukan gadis pilihan Hafsah, oh ya Tuhan, kita salah mendapatkan anak perawan orang" satu suara terdengar di balik ruangan dimana Jessica berada, sekat kaca yang membatasi mereka yang tertutup gorden mendominasi berwarna hijau mampu membuat Jessica sedikit mengintip siapa saja yang ada di sana.
"Kita menanam benih pada gadis perawan baik-baik, ini benar-benar kacau, jika tuan tahu aku yakin dia akan menghancurkan semua nya" Lagi terdengar suara orang yang berbeda.
Jessica sejenak menegang saat mendengar apa yang diucapkan oleh beberapa orang diluar sana.
"Menanam benih? pada gadis perawan? apa itu...?" Jantung nya menjadi tidak baik-baik saja.
Jessica buru-buru menggerakkan tubuhnya, menatap jarum infus di lengan kirinya untuk beberapa waktu hingga pada akhirnya gadis tersebut mencabut selang infus itu dengan sedikit memaksa, terdapat darah di sana di mana dia memaksa untuk mencabutnya dari bagian tangan nya.
Dengan keadaan bersusah payah dia berusaha untuk beranjak dari sana, tidak dia dapatkan sandal untuk dia gunakan saat ini, alih-alih peduli soal sandal, dia lebih peduli soal bagaimana cara nya melarikan diri dari tempat itu. sebenarnya dia belum tahu di mana dirinya apakah dia bisa keluar dari sana atau tidak tapi setidaknya dia punya sedikit bakat untuk melarikan diri dalam kondisi darurat atau di tempat tergelap sekalipun. dulu kak Khan nya beberapa kali mencoba untuk mengajarinya soal itu semua.
dalam banyak perjuangan gadis tersebut berusaha untuk melarikan diri dari sana, dan nyata nya memang tidak mudah, dia harus melakukan beberapa trik bahkan untuk mencoba mencongkel pintu seperti seorang pencuri handal dengan menggunakan ujung jepit rambut kecil milik nya.
"Oh ya ampun". Jessica merasa menegang, seolah-olah dia baru saja berada pada episode film pencurian kelas kakap dilayar televisi.
kletakkkkk.
Bayangkan bagaimana riang nya Jessica saat dia berhasil membuka pintu tersebut.