The Betrayal

The Betrayal
Kesenangan Rayyana


Bandar Udara,


Charles de Gaulle,


Paris.


Begitu tiba di Paris, Dru menggenggam erat telapak tangan istrinya sembari melangkah kan kaki mereka keluar dari bandara internasional tersebut. Mereka berencana untuk langsung bergerak menuju ke arah Mansion mereka dan melepaskan rasa lelah yang menghantam.


"Lelah?." laki-laki tersebut bertanya kepada istrinya, memilih menyeret koper menggunakan tangan kirinya dan menggenggam erat telapak tangan istrinya dengan tangan kanannya.


"He em." Tiffany bicara pelan.


Dru sebenarnya cukup merasa bersalah karena jika dia tahu keadaan Tiffany yang tengah hamil, mungkin dia memilih untuk tidak bergerak melewati bulan madu ke luar negeri bersama mengingat kondisi istrinya yang hamil muda jelas akan sulit untuk ke sana kemari. Hanya saja mereka memutuskan untuk pergi bulan madu kemarin di mana belum ada yang tahu jika hamil.


Karena itu Dru memutuskan untuk tidak melakukan perjalanan apapun hingga kelahiran sang buah hati mereka. Lebih memilih untuk di rumah atau sekedar jalan-jalan tidak jauh dari tempat mereka saja mengingat ketakutan-ketakutannya tentang ibu-ibu yang tengah hamil muda.


Apalagi saat ini dia belum tahu apakah kondisi istrinya cukup fit atau tidak sama sekali, bahkan dia belum tahu apakah bukan menjadi masalah yang besar untuk istrinya hilir mudik naik pesawat mengingat kehamilannya di usia muda. meskipun mereka sempat melakukan pengecekan terlebih lebih dulu mereka mengecek kesehatan dan memastikan jika Tiffany baik-baik saja untuk pulang ke Paris dengan menggunakan pesawat, nyatanya tetap saja dia khawatir dengan keadaan.


"Mungkin mobil jemputan sudah ada di depan, kita akan langsung pergi kembali ke mansion, kamu bisa membersihkan diri dan aku akan pesan makanan online, untuk mempercepat waktu kita nanti." laki-laki itu kembali bicara sembari melirik ke arah jam tangannya dia pikir ini sudah sedikit larut malam dan memang begitu sampai sebaiknya Tiffany mengkonsumsi makanan yang cukup sehat setelah itu memilih untuk beristirahat kemudian besok baru memeriksakan kandungan Tiffany kembali.


"Jangan terlalu cemas, aku baik-baik saja." seolah-olah tahu kegelisahan suaminya perempuan itu berkata dengan cepat kepada Dru, agar suaminya tidak terlalu mengkhawatirkan keadaannya.


Dru hanya mengulas senyuman sembari mengelus lembut tangan istrinya yang digenggam olehnya, mereka bergerak secara perlahan menuju ke arah depan dan mencoba mencari mobil jemputan dan sopir mereka.


"Mister Gustave Dru De Pearl?." dua orang laki-laki berpakaian kepolisian mencegah pihak di depan sembari bertanya kepada Dru.


"Yeah." Dan Dru menjawab sembari menaikan ujung alisnya.


*******


Disisi lain,


The Jourdan company,


Paris.


Rayyana bergerak perlahan dari posisi duduknya, dia memilih untuk menghentikan seluruh pekerjaan nya dan pulang. Raut wajah wanita tersebut terlihat puas saat bawahan nya berkata jika orang-orang kepercayaannya dan juga keseluruhannya telah menangkap laki-laki yang menjadi musuh terbesarnya tersebut.


"Jadi mereka telah menangkap nya?" Rayyana bertanya melalui headset bluetooth-nya kepada seseorang di seberang sana.


"Itu membuatku sangat bahagia mendengarnya," hujan perempuan wanita itu sembari melangkahkan kakinya secara perlahan menuju ke area parkiran, senyuman puas terlihat dari balik wajahnya.


"Pastikan dia mendekam di jeruji besi tanpa ada yang bisa mencoba untuk melepaskan." lanjut wanita itu lagi kemudian.


Setelah berkata seperti itu dia masuk ke dalam mobil secara perlahan dengan penuh kebahagiaan.