The Betrayal

The Betrayal
Menikmati liburan bulan madu


Roemerberg, Frankfurt, Jerman.



Tiffany terus melangkah kan kakinya dengan riang, menyusuri jalanan roemerberg, Frankfurt, Jerman. Malam ke dua sengaja pergi keluar untuk menikmati jalan-jalan ala backpacker, bulan madu kali ini direncanakan dengan matang, tidak ada handphone, tidak boleh melihat dunia luar meskipun dari layar televisi dan benar-benar membebaskan diri dari berbagai macam urusan pekerjaan dan lain sebagainya. Mereka sepakat hanya memberikan kabar melalui pesan singkat ditambah foto perjalanan mereka hingga bulan madu usai.


Mommy Ayana yang memberikan ide seperti itu sebelumnya, tidak ingin mereka terganggu terhadap banyak hal hingga membuat mereka harus tidak konsentrasi dan tidak menikmati bulan madu mereka. Jadi pada akhirnya kesepakatan tersebut diambil dan dibuat secara bersamaan dan mereka setuju untuk tidak peduli dan mengabaikan soal hal-hal di luar sana selama mereka melewati bulan madu berdua.


"Kak, kemarilah," Tiffany memanggil suaminya, mengulurkan tangannya dengan cepat dan membawa laki-laki tersebut duduk di bagian kursi panjang di sepanjang Roemerberg, Frankfurt.


The Romerberg merupakan alun-alun umum dengan pemandangan paling cantik di Frankfurt. Terdapat berbagai bangunan dengan desain mengagumkan yang mengelilinginya. Terdapat pula Air Mancur Keadilan di tengahnya.


Tempat ini menjadi salah satu zona kota tersibuk di kota ini yang memiliki kompleks 11 bangunan tua artistik yang dibangun antara abad ke-15 hingga ke-18. Museum dan gereja juga meramaikan suasana kota.


Dru menurut, mengikuti langkah istrinya untuk duduk di salah satu kursi yang ada di hadapan mereka kini. Begitu mereka telah duduk di sana laki-laki tersebut berkata.


"Ini cukup dingin sayang, malam hari bukan pilihan bagus untuk keluar seperti nya hmmm, aku ingin kita pergi di siang hari, itu bisa mengurangi rasa dingin di jam seperti itu," Dru bicara, membenahi topi dingin istri nya, meletakkan pelindung telinga kemudian memperbaiki syal Tiffany dengan gerakan yang begitu lembut serta penuh cinta.


Tiffany terlihat mengembangkan senyumannya dia menatap bola mata suaminya untuk waktu yang cukup lama.


"Ini tidak dingin sama sekali,ada kakak disini jadi aku tidak perlu khawatir," dia menjawab ucapan dari suaminya sembari mengembangkan senyuman terbaiknya sama sekali tidak ingin menampilkan kekhawatiran di balik wajah sang suami.


Nyatanya dia memang tidak berpikir ini terlalu dingin, mengingat mantel yang dia gunakan jelas sudah sangat tebal ditambah topi musim dingin juga penutup telinga yang mampu menghangatkan dirinya belum lagi,ada syal yang dililitkan oleh Dru di bagian lehernya. Belum lagi sarung tangan yang melindungi dirinya dari rasa dingin yang menyergap.


"Tetap saja aku khawatir." Protes Dru pelan.


Tiffany terlihat terkekeh, dia kemudian langsung berdiri dari tempat nya lantas dia berkata.


"Kak ayo cari makanan hangat, aku tiba-tiba merasa lapar." Dia sengaja berkata seperti itu untuk mengalihkan pembicaraan karena dia tahu saat laki-laki tersebut cemas pada dirinya, Dru akan terus memikirkan nya.


"Berikan tangan kakak." Ucap Tiffany lagi sambil mengulurkan tangannya.


Dru terlihat mengembangkan senyuman nya, dia menatap Tiffany yang terlihat mengembangkan senyuman terbaiknya, menunggu dirinya menyambut uluran tangan nya secara perlahan.