The Betrayal

The Betrayal
Mereka tetap anak-anak


Mansion utama tuan Tristan Xavier dan Lana lan,


Kamar tidur utama.


Nyonya Lana Lan menatap punggung suaminya untuk beberapa waktu di mana laki-laki itu masih duduk di atas sebuah kursi mendominasi berwarna hitam yang biasa digunakan oleh suaminya untuk melanjutkan pekerjaan yang tersisa menghadap sebuah meja berukuran cukup besar yang terletak di bagian sisi bagian sebelah kiri kamar mereka.


"Sayang, aku pikir harus sudah cukup malam." wanita tersebut mencoba untuk mengingatkan suaminya soal waktu karena dia tahu suaminya seringkali lupa waktu jika sudah berurusan dengan pekerjaan.


"Ini sedikit lagi, setelah itu aku akan pergi istirahat. Kamu bisa pergi istirahat lebih dulu jika mau." Tuan Tristan bicara dengan cepat pada istrinya berkata jika pekerjaannya tinggal sedikit lagi dan cukup tanggung jika harus ditinggalkan dan dilanjutkan di keesokan harinya.


"Tapi ini sudah terlalu larut sayang, kesehatanmu tidak dalam keadaan yang cukup baik, itu membuatku sedikit resah." istrinya kembali berkata pada laki-laki tersebut sembari membiarkan tubuhnya berbaring menghadap ke arah suaminya.


Tuan Tristan pada akhirnya diam untuk beberapa waktu, kemudian laki-laki itu menghentikan gerakan tangannya dan menyingkir laptop yang ada di hadapan tersebut secara perlahan kemudian dia membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah istrinya sejenak.


"Maafkan aku sayang, karena selalu lupa waktu setiap kali fokus pada pekerjaan." laki-laki tersebut menampilkan gurat sesal di wajahnya, bicara pada istrinya sembari menatap dalam bola mata wanita selama berpuluh-puluh tahun tersebut mendampingi nya dengan penuh kesabaran dan kesetiaan.


Tidak kenal lelah atau bosan, mengabdikan diri berusaha menerima segala macam kekurangan yang dia miliki bahkan mencoba untuk menyatukan 2 pemikiran yang selalu berbeda antara satu dengan yang lainnya, di mana sang istri selalu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan sabar tanpa mementingkan egonya.


Nyonya Lana Lan terlihat menatap balik suaminya dengan tatapan hangat, dan didetik berikutnya wanita tersebut mengembangkan senyumannya sembari berkata pada suaminya.


"Itulah fungsi seorang istri bukan?, mengingatkan sang suami jika dia lupa dengan banyak hal. Saling mengingatkan antara satu dengan yang lainnya agar tidak keluar daripada batasan nya."


Mendengar ucapan istri laki-laki tersebut pada akhirnya beranjak dari posisinya secara perlahan, dia bergerak melangkahkan kakinya menuju ke arah kasur dimana istrinya berbaring saat ini. Setelah tiba di samping kasur dengan gerakan lembut laki-laki tersebut naik ke atas sana dan membaringkan tubuhnya tepat disisi kiri istrinya tersebut.


"Kemarilah." Tuan Tristan bicara, menepuk-nepuk lengannya dan meminta sang istri untuk tidur di atas lengan tua nya tersebut.


Nyonya Lana Lan terlihat terkekeh kecil, dia membenahi posisinya dan membiarkan diri tenggelam di atas lengan kokoh suaminya yang selalu menjadi tempat paling nyaman untuk nya bersandar selama berpuluh-puluh tahun ini, melewati suka duka bersama dalam banyak hal.


"Kita sudah sejauh ini melangkah bersama." Ucap tuan Tristan sambil memeluk istrinya, membiarkan nyonya Lala lan tenggelam dalam dekapan nya, dia membiarkan dagunya berada di puncak kepala istrinya dimana salah satu tangan nya punggung istrinya.


"He em, sudah sejauh ini, tidak terasa anak-anak sudah sangat dewasa memiliki keluarga mereka sendiri dan sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing." Ucap wanita itu pelan.


"Dulu aku sering berpikir, mungkin kita akan tetap bersama dengan anak-anak hingga akhir. Tapi seiring berjalannya waktu aku menyadari soal sesuatu jika anak-anak pada akhirnya memiliki kehidupannya sendiri, mereka memiliki masa depan dan cerita mereka sendiri-sendiri." Lanjut nyonya Lana Lan lagi.


"Tapi anehnya meskipun anak-anak telah hidup dengan cara mereka, sebagai orang tua kita tetap menganggap mereka anak-anak dan selalu saja mengawasi mereka dalam diam, ikut andil dalam urusan mereka meskipun tidak pernah terlihat, anak-anak sedewasa apapun mereka, pada akhirnya di mata orang tua mereka tetaplah anak-anak yang belum banyak makan asam dan asin nya kehidupan."


Setelah berkata begitu, nyonya Lana Lan terlihat diam, tuan Tristan masih mengelus lembut punggung istrinya hingga pada akhirnya laki-laki tersebut berkata.


"Karena kenyataan hidup memang seperti itu, anak-anak tetaplah anak-anak, pada akhirnya sehebat apapun mereka, mereka tetaplah seorang anak yang tidak akan pernah bisa hidup hingga sedewasa dan sesukses sekarang tanpa bantuan orang tua." ucap laki-laki itu sembari membiarkan satu tangannya menyentuh lembut rambut istrinya.


Nyonya Lana Lan mencoba untuk membenahi posisinya, membiarkan mereka saat ini berbaris secara sejajar di mana bola mata mereka menatap antara satu dengan yang lainnya.


"Dan pada masa ini aku cukup khawatir dengan Dru." Nyonya Lana Lan bicara pelan.


"aku khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi padanya karena persoalan pelik keluarga Heidi." lanjut wanita tersebut lagi kemudian.


Tuan Tristan belum nyahur ucapan istrinya hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh nyonya Lana Lan.


"Dan Rayyana." Nyonya Lana Lan pada akhirnya menghentikan kata-katanya dan tidak melanjutkannya kembali.


"Mari lihat sejauh apa dia akan menyeret Dru, jika kali ini dia melampaui batasannya maka akan aku pastikan dia akan kehilangan kesempatan nya untuk bertahan didalam keluarga Jourdan." Ucap laki-laki tua tersebut kemudian.