
Kembali ke kediaman Utama Dru dan Tiffany
Pagi.
Tiffany terlihat sibuk berkutat di dapur, dia menyiapkan makan pagi sang suami dan untuk diri nya sendiri sejak tadi, bibi pelayan terlihat menemani nya, menyiapkan beberapa bahan makanan.
Dru sama sekali belum terlihat, Tiffany pikir seperti- nya sang suami masih terlelap didalam tidurnya, semalam laki-laki tersebut kesulitan tidur, dia harus menggunakan jurus dan trik jitu untuk membuat Dru terlelap karena rasa khawatir dan trauma yang memicu terganggu nya tidur laki-laki tersebut.
Dia belajar banyak soal trauma di masa lalu, karena itu Tiffany mampu mengatasi trauma pengkhianatan Sean pada dirinya lebih cepat dari yang dipikirkan oleh orang lain.
Tiap orang yang memiliki trauma mendalam, untuk bisa tidur baik dan menghilangkan keadaan sulit tidur malam, mereka harus membuat seseorang yang mengalami trauma menjadi lebih rileks saat malam, membiarkan mereka minum segelas air hangat, melakukan massage, membiarkan mereka mendengarkan senandung lagu atau apapun yang mampu membuat mereka menjadi nyaman, menciptakan keredupan pada area lampu dan menciptakan kondisikan kamar agar jauh lebih hening dan nyaman.
Dia menciptakan suasana terbaik untuk Dru, memastikan mata nya yang bertahan untuk terus membuat Dru merasa rileks dengan keadaan hingga pada akhirnya sang suami perlahan tidur juga dengan nyenyak.
Meskipun tidak dipungkiri Tiffany pada akhirnya menjadi kurang tidur karena keadaan.
"Bi kurangi kafein untuk Dru"
Tiffany membuka suaranya, meminta sang pelayan tidak membuat kan kopi untuk suami nya pagi ini.
Mendengar perintah nona nya, membuat Wanita paruh baya tersebut agak mengerutkan keningnya, dia pikir biasanya tuan nya minum kopi di pagi hari.
"Kafein kurang bagus untuk Dru, belakangan dia agak sedikit kurang tidur, itu akan memicu stress semakin tinggi dan Dru akan semakin sulit untuk bisa terlelap baik di malam hari"
Tiffany mencoba menjelaskan, tidak mesti bercerita soal suami nya tapi sedikit penjabaran untuk dapat dipahami oleh pelayan mereka kenapa dia mencoba mengurangi konsumsi kafein pada suami nya.
Pelayan tersebut seketika mengangguk kan kepala nya, dia paham sedikit atas ucapan sang nona nya.
"Baik nona"
Ucap wanita itu pelan.
Tiffany terlihat mengembangkan senyuman nya, jemari-jemari dan tangan nya kembali bergerak serius dalam pekerjaan nya.
Ditengah kegiatan nya, Dru tahu-tahu bergerak turun dari kamar atas, laki-laki tersebut sudah mandi dan berpakaian rapi, siap pergi ke perusahaan nya saat ini.
Begitu tiba di meja makan, laki-laki tersebut mendekati Tiffany, mencium pipi istri nya sambil berkata.
"Pagi Tiff"
Laki-laki tersebut bicara seolah-olah lupa ada bibi pelayan disana, membuat sang pelayan yang melihat adegan tersebut agak memerah karena malu.
Tiffany menjawab cepat, menghentikan gerakan tangannya, menyerahkan sisa nya pada bibi untuk membereskan sisa pekerjaan nya untuk membersihkan barang-barang sisa memasak, makanan telah di tata sedemikian rupa di atas meja makan.
"Berikan dasi nya pada ku"
Dia tersenyum manis, menatap suaminya sembari mengulurkan tangannya, menunggu laki-laki tersebut memberikan dasi nya.
Dru memberikan dasi di tangan nya secara perlahan, membiarkan Tiffany merapikan nya untuk dirinya.
"Hari ini tidak minum kafein bukan masalah hmmm?"
Tiffany bertanya pelan sembari mulai memasangkan dasi di kerah pakaian Dru.
Mendengar ucapan istrinya, Dru terlihat mengerutkan keningnya.
"Agar tidur jauh lebih nyaman, kafein kurang bagus untuk kakak saat ini"
Ucap Tiffany dengan suara yang lembut.
"He em"
Dru pada akhirnya mengangguk, seakan-akan mengerti apa yang di maksud oleh istrinya.
"Jangan pulang terlalu malam, mari pergi ke tempat yang kita bicarakan semalam"
Ucap Tiffany kemudian.
Sang suami langsung mengangguk kan kepalanya.
"Itu membuat ku sedikit khawatir dan gugup"
Dru menjawab, menatap dalam bola mata istrinya.
Alih-alih menjawab, Tiffany menepuk-nepuk lembut kedua bahu Dru setelah selesai memasang dasi pada suaminya.
"Ada aku disini, dalam keadaan seperti apapun, InsyaAllah tidak akan meninggalkan Kakak hmm"
Jawab Perempuan tersebut sembari menatap dalam balik bola mata suaminya, melebarkan senyuman paling tulus nya dan Seolah-olah berkata dia akan selalu menggenggam erat telapak tangan Dru dalam segala situasi hingga akhir.