
Kembali ke masa kini
Jajanan kaki lima
Pada sisi Tiffany.
Dia masih menikmati es krim miliknya dengan membuang sisa rasa sedih karena mengingat Jessica, berusaha menarik nafasnya beberapa waktu dalam kerinduan, rasanya terlalu sakit jika ingat bagaimana kebersamaan dia dan Jessica di masa kemarin.
Dia tahu soal kenyataan baru-baru ini tapi masih tidak berhasil atau tidak kunjung menemukan Jessica meskipun telah meminta orang khusus untuk mencari tahu dimana keberadaan saudara nya tersebut. Tiffany tahu dia salah karena kemarahan dan emosionalisme nya kemarin dia meminta Jessica pergi dan tidak lagi kembali ke keluarga Hillatop. Mungkin siapapun yang ada di posisi nya pasti akan melakukan hal yang sama jika merasakan dan mengalami kejadian sama seperti dirinya.
"Seperti nya cuaca mulai terlihat tidak baik-baik saja" Dru bicara, menatap kearah langit yang terlihat tidak baik-baik saja.
Tiffany ikut mendongakkan kepalanya untuk beberapa waktu dia menatap langit sejenak dengan bola mata indahnya, seperti ucapan suaminya itu benar nyatanya, langit terlihat tidak baik-baik saja sepertinya akan turun hujan saat ini.
"makan es krim di cuaca seperti ini tiba-tiba membuatku meremang" Dru bicara sambil tertawa kecil, dia menyentuh lembut puncak kepala istrinya untuk beberapa waktu.
"Aihhhh kakak tidak tahu? es krim begitu nikmat untuk disantap ketika kita merindukan seseorang meski dalam cuaca apapun dan rasa yang kuat mampu membuat perut mual menghilang dengan cepat" Tiffany menjawab, mengulum senyuman nya untuk beberapa waktu.
"bahkan beberapa orang meyakini es krim juga bisa mengatasi stres yang tinggi" Lanjut Tiffany lagi.
"setiap kali aku merasa memiliki masalah atau bahkan dulu setiap kali aku berpikir hari-hari yang kujalani cukup berat karena ujian sekolah atau urusan kuliah yang tidak kunjung habis nya, aku akan menikmati es krim di pojok jalanan sambil duduk di bagian kursi taman sembari menatap langit atau bahkan air laut yang menarik gelombang hingga kebagian pinggiran pantai" Dan sejenak Tiffany menghela nafasnya, dia menikmati es krim terakhirnya untuk beberapa waktu, mengunyahnya kemudian menelannya secara perlahan.
"Dan ketika aku mengingat Jessica aku pasti mencari es krim, duduk di kamar seharian sambil mencoba meredam kerinduan ku atas diri nya" Lanjut Tiffany lagi, dia mencoba kembali mendongakkan kepalanya secara perlahan dan bisa dilihat bola matanya tampak berkaca-kaca saat di mana dia pikir mungkin sebentar lagi air matanya akan jatuh tumpah.
dia berusaha untuk menarik nafas yang berkali-kali dan tidak berharap air matanya jatuh saat ini, terlalu cengeng untuk dirinya jika itu terjadi lagi, tadi dia telah menumpahkan air matanya cukup banyak sangat memalukan sekali jika dia melakukan hal itu lagi.
Dru menatap Tiffany untuk beberapa waktu, mmbiarkan istri nya untuk melegakan perasaannya terlebih dahulu hingga beberapa waktu, pada akhirnya setelah dia memastikan Tiffany baik-baik saja laki-laki tersebut secara perlahan menyentuh lembur ujung kepala istrinya.
"Tiff..." dan kali ini dia bicara dengan hati-hati.
Tiffany terlihat menghela nafasnya kembali kemudian dia menatap kearah Dru Secara perlahan.
"Hmmmm?' perempuan itu bertanya sembari membiarkan netra mereka bertemu antara satu dengan yang lainnya.
"katakan padaku dengan jujur, apa kamu begitu merindukan Jessica?" dia bertanya dan membiarkan bola matanya menatap bola mata istrinya untuk berapa waktu, menunggu jawaban dari perempuan di hadapannya itu dengan seksama.
Tiffany tampak diam saat dia mendengar apa yang dipertanyakan oleh sang suaminya, dia memilih tidak menjawab secara langsung seolah-olah Ada hal berat yang dia pikirkan untuk beberapa waktu, hingga pada akhirnya perempuan itu berkata.
"tidak ada sedikitpun kerinduan seorang saudara yang tidak meledak-ledak saat dia telah lama tidak bertemu dengan saudara lainnya " jawab perempuan tersebut sambil memejamkan bola matanya sejenak, dan di detik berikutnya Tiffany meraih pinggang Dru, memilih untuk memeluk laki-laki tersebut secara perlahan.
laki-laki tersebut membiarkan istrinya memeluk dirinya erat, dia pikir perempuan itu akan menangis lagi namun nyatanya Tiffany sama sekali tidak mengeluarkan tangisannya, sepertinya Tiffany hanya berusaha untuk meredam keadaan hati nya yang jelas tidak baik-baik saja.
"Bagaimana jika seandainya, kita bertemu Jessica di sini?" dan tiba-tiba Dru bertanya pada istrinya sembari dia mengelus lembut rambut Tiffany.
Mendengar apa yang diucapkan Dru, Tiffany terlihat diam, dia berusaha mengembangkan senyuman nya dibalik rasa sedihnya.
"Seperti abracadabra?" Tanya Tiffany masih sambil memeluk Dru.
Ditengah lautan manusia yang berlalu lalang disekitar mereka, menikmati berbagai macam makanan di jajanan kaki 5, melihat adegan kedua orang yang saling berpelukan seolah-olah bukan hal yang aneh, semua orang terlihat abai dan tidak mempedulikan mereka.
"Hmmm seperti abracadabra" Jawab Dru pelan, tangan kanan nya masih mengelus lembut rambut istri nya.
"aku tidak akan bisa mengungkapkannya dengan kata-kata jika aku bertemu dengan dirinya saat ini, aku bisa meluapkan air mataku yang paling banyak hari ini tanpa bisa aku kendalikan " Tiffany menjawab pelan, dia melepaskan pelukannya secara perlahan.
"Seperti nya akan turun hujan, mari pergi dari sini dan pulang" Ucap Tiffany kemudian, dia menggenggam erat telapak tangan Dru kemudian mencoba membawa laki-laki tersebut untuk pergi dari sana.
namun nyatanya laki-laki itu langsung menghentikan gerakan Tiffany, dan dia kemudian berkata.
"aku benar-benar serius atas ucapanku, sayang" laki-laki itu bicara dengan cepat.
hal tersebut sontak membuat Tiffany menghentikan langkahnya, perempuan itu langsung mengerut kan keningnya untuk beberapa waktu lantas dia menatap suaminya itu dengan tatapan yang sedikit bingung.
"Maksud kakak?" dan percayalah ketika dia mempertanyakan hal tersebut, seketika detak jantung Tiffany terasa tidak baik-baik saja.
"katakan padaku apa maksud dari ucapan kakak?" dia kembali menanyakan barisan tanya kepada laki-laki yang ada di hadapannya tersebut dengan jantung yang berdetak begitu kencang juga tidak beraturan.
*******
Disisi lain.
Jessica dan Yavuz.
Gadis tersebut menatap warna langit yang mulai berubah, dia memperhatikan barisan awan ☁️ yang mulai berubah warna dengan perasaan gelisah, setelah itu dia menatap Yavuz di sudut sana yang tampak memperhatikan beberapa makanan yang ada dihadapan nya.
antrian mereka sepertinya cukup panjang tapi laki-laki yang kini ada di ujung sana masih fokus mengantri untuk mendapatkan makanan yang di inginkan Jessica.
"Yav?" Jessica bergerak mendekati Yavuz, bicara pelan dan membiarkan bola matanya menatap kearah Yavuz.
"Hmmm?" Laki-laki tersebut menjawab pelan, dia menoleh kearah Jessica kemudian kembali melirik kearah barisan antrian.
"Seperti nya akan turun hujan" Jessica bicara dengan sedikit gelisah, dia cukup takut hujan akan turun, tidak keburu untuk mendapatkan makanan yang diinginkan dan itu akan membuat Yavuz kebasahan.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Jessica sejenak membuat laki-laki itu mendongakkan kepalanya, dia menatap ke arah langit yang rupanya memang mulai menggelap.
"ini sedikit lagi" dia pikir antriannya sudah tidak lama lagi, sudah cukup panjang menunggu sejak tadi ditambah lagi dia tahu Jessica menginginkan makanan tersebut. Kata nya baby diperut bisa mengeluarkan liur nya jika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Bukankah kamu menginginkan nya?" Tanya Yavuz lagi kemudian.
Jessica buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Bukan masalah kita membatalkan nya, sebentar lagi hujan, kamu bisa kebasahan di bawah atap langit" Gadis tersebut bicara dengan cemas.
Dan melihat ekspresi Jessica yang menatap nya cemas, membuat laki-laki tersebut sejenak diam, tidak tahu kenapa, diperhatikan seperti itu rasanya begitu manis dan membuat nya sedikit berdebar-debar.
Yavuz pada akhirnya Berkata.
"Duduklah di bawah atap, aku akan menunggu sebentar lagi" Dia berbisik, menyentuh lembut wajah Jessica dan meminta gadis tersebut untuk jujur dibawa barisan atas yang ada di sisi kirinya tidak jauh dari penjual.
"Ini akan hujan" Jessica masih menggeleng kan kepalanya, dia secara perlahan menggenggam erat telapak Yavuz, kemudian kembali melanjutkan ucapannya.
"Cari tempat lain yang tertutup, aku bisa mengganti makanan nya" Ucap gadis tersebut lagi.
Yavuz terlihat diam untuk beberapa waktu sembari dia melihat Jessica menggenggam orang telapak tangannya, dan percayalah lagi-lagi dia merasa jantungnya tidak baik-baik saja.
"Oh god." batin laki-laki tersebut gelisah.