
kembali pada saat Yavuz menatap seseorang di sisi kanan nya
jajanan kaki lima.
"Kau....?"
Dan seketika bola mata Yavuz bertemu dengan bola mata laki-laki yang ada di sampingnya tersebut, di mana laki-laki itu juga ikut menoleh ke arah Yavuz. Mereka menatap antara satu dengan yang lainnya dalam keterkejutan, jangan ditanya bagaimana perasaan Yavuz begitu juga sosok tersebut.
"Gustave Dru De Pearl" Yavuz terlihat mendengus tidak percaya.
setelah sekian lama dia tidak melihat laki-laki yang pernah bergelut pada dunia hitam tersebut dimana lalu pada akhirnya dia bertemu dengan laki-laki tersebut di sini, ya cukup mengejutkan baginya adalah laki-laki itu tengah bersama seorang Perempuan.
"aku cukup terkejut melihatmu di sini, Yav" ucap Dru pada akhirnya.
laki-laki itu jelas cukup tidak menyangka jika di bertemu dengan Yavuz di sana, padahal mereka baru saja membicarakan soal Yavuz ketika dia ada di rumah sakit. seketika bola mata laki-laki tersebut menatap ke arah sisi kiri dan kanan Yavuz, kemudian dia menatap ke arah belakang nya, jantung Dru jelas tidak baik-baik saja karena dia ingat jika saat di rumah sakit teman nya berkata laki-laki yang kini berada di hadapannya itu ada bersama Jessica.
Nyatanya saat bola mata Dru mencari keberadaan Jessica, dia tidak menemukan sosok gadis itu di sana sama sekali, hal tersebut jelas saja membuat Dru mengerutkan keningnya, barisan pertanyaan menghantam dirinya, di mana gadis tersebut?!.
"kebetulan ingin datang kemari untuk membeli sesuatu" Yavuz menjawab ucapan Dru tapi dia menghentikan kata-katanya gimana dia melihat perempuan yang ada di samping Dru saat ini.
"aku dengar kau telah menikah?" dia pada akhirnya bertanya sembari menaikan ujung alisnya ke arah Dru.
Tiffany menatap laki-laki dihadapan nya untuk beberapa waktu, menelisik penampilan sosok dihadapan nya dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya, dia pikir sosok itu seperti mirip dengan seseorang. rasanya sedikit tidak asing, seperti pernah melihat nya atau bertemu tapi lupa dimana.
"He em, dia istri ku" Dru bicara cepat, melirik kearah Tiffany.
Sang istri buru-buru kembali menoleh kearah pedagang es krim, bicara pada laki-laki tersebut serta mengabaikan Dru juga laki-laki yang dia pikir teman suami nya itu.
"Aku dengar kau akan menikah?" kini Dru bertanya balik pada Yavuz.
mendengar pertanyaan Dru seketika membuat laki-laki itu menaikkan ujung alisnya.
"aku cukup terkejut kamu mendapatkan kabar nya jauh lebih awal dari semua orang?" jelas saja dia bertanya bingung, karena sampai sejauh ini dia belum pernah bicara pada siapapun rencana soal pernikahan dirinya dan juga Jessica.
dia pikir bagaimana bisa Dru mengetahui rencana pernikahannya.
"Aku bertemu untie, dia bilang kalian akan menikah" melihat bagaimana ekspresi dari Yavuz, Dru berusaha untuk berkilah dan menjelaskan sesuatu namun secara tidak real.
Dia tidak ingin menyebutkan perihal soal rumah sakit saat ini, ada beberapa alasan membuatnya berat untuk mengatur hal tersebut, terutama saat dia menyebutkan kata rumah sakit dia takut Tiffany akan mendengarkannya, dan memungkinkan mereka bicara soal anak-anak, dia belum ingin bicara soal kehamilan Tiffany saat ini.
Mendengar Dru berkata bertemu dengan mommy nya, hal tersebut cukup membuat dia terkejut.
"Aku pikir mommy begitu antusias menyambung pernikahanku dan juga Issi" Dan laki-laki itu bicara dengan cepat.
"Issi?" Dru bertanya pelan.
Dan saat Yavuz berkata begitu, sejenak Dru diam. Laki-laki tersebut menelisik bola mata Yavuz untuk beberapa waktu. Issi, kehamilan besar? jadi Jessica mengganti nama nya menjadi Issi? dan kehamilan pada masa itu sudah membesar rupanya.
"kamu membawanya kemari?" Dru pada akhirnya bertanya ingin tahu apakah mungkin laki-laki itu membawa Jessica bersama nya.
karena sejak tadi di mencoba untuk mencari keberadaan gadis tersebut nyatanya dia tidak melihat Jessica sama sekali.
"dia ada di ujung sana" Dan Yavuz menjawab seadanya, gini dia membuang pandangannya dan dia mencoba untuk bicara ke arah pedagang es krim tersebut.
"Coklat vanilla, dua" mungkin itu adalah insting di mana dia memilih rasa yang sama persis seperti apa yang dipesan oleh istri Dru. memutuskan memesan dua es krim karena dia pikir menemani Jessica bukan hal yang buruk untuk menikmati es krim tersebut.
Dan saat Yavuz mulai fokus pada es krim yang ada di hadapannya, Dru menatap punggung Tiffany untuk beberapa waktu, memperhatikan istri nya yang mulai meraih es krim dari sang penjual, Tiffany langsung berbalik menatap diri nya, menyerahkan satu es krim kepada dirinya.
Dru menerima pemberian Tiffany, membiarkan tangan kanan nya memegang es krim tersebut dan tangan kiri nya merapikan lembut poni Tiffany.
"Apa kamu merindukan dia?" Tanya Dru pelan.
Dan pertanyaan laki-laki tersebut seketika membuat Tiffany mengernyitkan keningnya.
"Ya?" Dia bertanya dengan perasaan tidak mengerti.
"Merindukan saudara yang selalu ada untuk mu?" tanya Dru lagi kemudian.
Dan Seketika pertanyaan tersebut membuat Tiffany terdiam, dia membiarkan bola matanya dan terus saling bertemu antara satu dengan yang lainnya untuk waktu yang cukup lama di mana kini pemikirannya berkacamuk menjadi satu.
dibelakang nya Yavuz terlihat sibuk menerima es krim dari sang penjual, dia hanya melirik kearah Dru sejenak kemudian tanpa basa-basi laki-laki tersebut mulai melangkahkan kakinya beranjak pergi dari sana, menjauhi sepasang suami istri tersebut secara perlahan.
dia bergerak menuju ke arah sisi kirinya di mana di ujung sana Jessica menunggu dirinya, duduk di atas kursi besi ukir dalam cuaca yang akan mendekati musim salju, dimana hari mulai mendingin sejak tadi tapi masih menampilkan matahari yang ditutupi awan di atas sana.
laki-laki itu menggenggam dua es krim di tangan kiri dan kanannya, melangkahkan kakinya dengan pasti menuju ke arah sana calon istri dan juga calon buah hati mereka, mengabaikan apapun dan siapapun yang ada di sekitarnya, di mana hatinya diliputi rasa bahagia karena ini untuk pertama kalinya dia membawakan seseorang sesuatu yang tidak pernah dia lakukan selama 32 tahun lebih usianya.
Di ujung sana, Jessica terlihat mulai gelisah dalam pandangan nya, dalam balutan cuaca yang tidak terik tidak pula dingin, dia menunggu kedatangan Yavuz yang akan membawa es krim kesukaannya dengan perasaan gelisah, dia bertanya-tanya apakah mungkin laki-laki itu memesan apa yang menjadi es krim favoritnya.
Dan saat dia mulai bisa menatap bayangan Yavuz di ujung sana, seulas senyuman Jessica seketika mengembang dengan sempurna, dia melambaikan tangan nya dengan cepat, berdiri dari posisi nya dan langsung berlarian berhamburan mendekati Yavuz.
Rona bahagia terlihat jelas dibalik bola mata sendu sehabis menangis tadi, menyambut es krim dari tangan Yavuz dengan tatapan berbinar-binar, kini dia menatap kearah Yavuz, terlihat senang laki-laki tersebut membelikan nya es krim coklat vanila kesukaan nya.
"Bagaimana kamu tahu aku suka coklat Vanila?" Dia Bertanya, membiarkan bola mata mereka bertemu di iringi senyuman ceria Jessica, dia membiarkan es krim tersebut perlahan masuk ke dalam mulutnya secara perlahan.
Dan tanpa disadari, di ujung sana sepasang bola mata menatap diri nya.
"Ohhhh?" Seorang wanita paruh baya seketika langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan nya, bola mata nya terlihat berkaca-kaca menatap kearah Jessica, kerinduan yang membuncah selama berbulan-bulan seolah-olah menipis saat melihat Jessica nya terlihat baik-baik saja.