The Betrayal

The Betrayal
Jangan khawatir soal apapun


Mereka diam untuk beberapa waktu, saling tidak bicara dan menatap antara satu dengan yang lainnya, Dru menelisik bola mata istrinya, membiarkan netra mereka bertemu antara satu dengan yang lainnya di mana pada akhirnya laki-laki tersebut membiarkan sembari-jembari tangannya terus mengelus lembut pipi istrinya.


"Hanya sedikit persoalan tentang Heidi dan ibu tirinya." pada akhirnya laki-laki tersebut mulai membuka suaranya.


"Ada satu urusannya sangat rumit yang menyeret kepada standar yang tidak terduga saat ini." Kali ini Dru bicara dengan tatapan yang begitu serius juga ekspresi yang sangat serius kepada istrinya.


Tiffany sejenak membenahi posisinya sembari mengernyitkan dahinya.


"Maksud nya?," perempuan tersebut bertanya dengan rasa penasaran yang begitu tinggi.


"Mungkin saat kembali ke Paris kehidupan kita akan sedikit berubah seandainya ini agak terlambat untuk diselesaikan." Dru kembali bicara, nada suaranya terdengar pelan, dia berusaha untuk tidak membuat Tiffany takut dengan informasi yang akan diberikannya.


"Katakan pada ku, mungkin kita bisa menyelesaikan semuanya secara bersama tanpa harus menimbulkan rasa takut di dalam segala hal yang ada, ceritakan padaku hal buruk apa yang terjadi saat ini?." Feeling seorang istri seolah-olah bergerak dengan lancar di mana dia benar-benar berpikir satu hal buruk benar-benar pasti sudah terjadi saat ini tanpa sepengetahuan dirinya.


"Daddy Heidi mengalami tragedi mematikan di Jepang." ucap laki-laki tersebut kemudian.


Hal itu jelas membuat Tiffany terkejut mendengarnya.


"Apa?!," bayangkan bagaimana ekspresi wajah Tiffany saat ini di mana dia menatap suaminya dengan pandangan tidak percaya.


"Tragedi?," perempuan itu bertanya untuk memastikan.


"Seseorang berusaha membunuh tuan Jourdan di dalam sebuah kecelakaan besar, kondisinya saat ini tidak bisa dikatakan baik-baik saja karena Tuhan Jourdan terus masuk pada masa kritisnya."


dan seketika netra mereka berdua bertemu antara satu dengan yang lainnya di mana Tiffany terus menurunkan keningnya.


"lalu bagaimana dengan Heidi?." perempuan itu jelas bertanya khawatir soal Heidi.


"dia ada di Paris bersama Sean." jawab suaminya cepat.


"Istri tuan Jourdan melaporkan kepada polisi dan mengatakan jika aku yang melakukan pembunuhannya."


"What?." dan seketika kembali lagi-lagi Tiffany terkejut mendengar ucapan suaminya.


"Bagaimana bisa?." jelas saja perempuan tersebut mengernyitkan dahi nya.


"Bagaimana bisa dia berpikir itu adalah kamu?." tanya Tiffany dengan tatapan tidak percaya.


"Seseorang membuatku menjadi tersangka dan sopir yang terlibat berkata dia mendapatkan perintah dariku untuk menabrak tuan Jourdan."


Tiffany jelas saja menghela kasar nafasnya dan mendengus tidak percaya.


"Apa bibi Rayyana gila?." Tanya nya kemudian.


sejujurnya Tiffany cukup terkejut dan sedikit panik tapi dia berusaha untuk menetralisir perasaannya saat ini dan dia juga berusaha untuk bersifat jauh lebih warah dalam memikirkan tentang sesuatu atau memutuskan tentang sesuatu.


"kita masih melewati bulan madu beberapa hari lagi, aku pikir -," Tiffany baru saja ingin bicara tapi suaminya buru-buru menyela.


"Nikmati sisa liburan kita tanpa memikirkan semuanya, Khan dan kak Nyx sudah mengatasi semuanya, mereka punya rencana sendiri untuk menyelesaikan segalanya." Dan Dru buru-buru bicara dan menyela ucapan dari istrinya.


Ketika laki-laki tersebut berkata begitu, Tiffany kembali mengernyitkan keningnya.


"Kakak menghubungi mereka?." Tanya nya tidak percaya.


Alih-alih menjawab, Dru memilih untuk menaikkan ujung bibirnya.