
di sisi lain
rumah sakit yang berbeda
Swiiss.
"Bisakah kita menunda pemeriksaannya?" Tiffany bertanya pada Dru dengan perasaan ragu-ragu, tidak tahu kenapa tapi rasanya pergi memeriksakan diri ke dokter cukup membuat dia tegang dan sedikit takut.
Nyatanya sejak dulu dan sekarang dia tidak pernah ingin berurusan dengan dokter atau tinggal di rumah sakit karena dia tidak pernah menyukai hal tersebut sama sekali, baginya jarum-jarum suntik terasa sangat mengerikan, dan dia selalu berusaha untuk menghindari istilah sakit agar tidak pernah berhadapan dengan yang namanya rumah sakit, dokter atau jarum suntik hingga hari ini.
Baginya mereka merupakan satu barisan paling mengerikan dalam hidupnya dan yang membuatnya cukup tidak tenang.
"Kita mana mungkin menunda pemeriksaan Tiff, ini tidak akan lama jangan khawatir soal apapun" laki-laki itu berbicara sambil menyentuh lembut kepala istrinya, mencoba untuk meyakinkan jika pemeriksaannya tidak akan berjalan lama.
"Antriannya sangat panjang sekali kak" Tiffany berusaha untuk mencari alasan.
Seketika ucapan sang istrinya membuat Dru mengulum kan senyumannya.
"tidak lama, karena kita telah menghubungi dokternya dari penthouse, hanya menunggu satu pasien di dalam kemudian langsung berganti pada urutan kita" dan laki-laki tersebut selalu saja memiliki jawaban atas apa yang diucapkan oleh sang istrinya, membuat Tiffany hanya mampu menghela pelan nafasnya.
"Baiklah Mlmari kita menunggu" pada akhirnya perempuan tersebut kehilangan alasan juga kehilangan kata-katanya, dia hanya bisa pasrah dan membiarkan mereka menunggu giliran setelah ini.
Tiffany sebenarnya berharap semua akan baik-baik saja karena dia pikir tubuhnya yang kelihatannya mulai membaik namun nyatanya saat dia memikirkan tidak perlu lagi ada yang dikhawatirkan terhadap dirinya, tiba-tiba saja dia kembali merasa perutnya begitu mual dan dia ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya saat ini juga.
"Oh ya Allah" seketika perempuan itu menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya, kemudian dia tanpa berpikir panjang langsung bergerak dengan cepat dari posisi duduknya dan melangkah pergi dari sana untuk mencari kamar mandi.
"Sayang?" laki-laki itu buru-buru langsung dengan cepat menyusul langkah Tiffany.
Sejuta kekhawatiran kembali menghantam dirinya saat dia kembali berfikir Tiffany pasti akan memuntahkan seluruh isi perutnya, dan benar saja saat perempuan tersebut bergerak menuju ke arah kamar mandi Tiffany benar-benar mengeluarkan seluruh isi perutnya saat ini dan hal tersebut tentu nya membuat Dru panik setengah mati.
Ingin sekali rasanya dia masuk ke dalam kamar mandi tersebut tapi nyatanya dia ingat itu adalah kamar mandi khusus perempuan jadi sangat tidak mungkin dia masuk ke sana mengingat ada beberapa perempuan yang hilir mudik ke kamar mandi tersebut.
Suara kepayahan Tiffany memuntahkan seluruh isi perutnya benar-benar membuat Dru merasa perasaannya menjadi kacau balau, pada akhirnya karena dia bingung tidak bisa membantu Tiffany, Dru mencoba untuk berbicara dengan salah satu wanita yang akan masuk ke dalam toilet teraneh juga.
"bisakah Anda membantu ku nyonya?" dia bertanya pada seorang wanita berusia sekitar 40-an lebih yang baru saja akan masuk ke dalam kamar mandi tersebut.
wanita itu seketika langsung menghentikan langkahnya sembari mengerutkan keningnya dan menatap ke arah Dru.
"Ya?" tanya wanita tersebut cepat.
"istriku ada di dalam sana, ada yang salah dengan kesehatan ya, sejak kemarin dia terus memuntahkan seluruh isi perutnya, hari ini kembali terulang,aku juga kesulitan untuk masuk ke dalam membantu dirinya. Karena itu bisakah anda membantuku untuk memberikannya sedikit minyak di bagian tengkuk dan leher nya?" laki-laki itu bertanya penuh permohonan mengeluarkan sebuah minyak angin dan menyerahkannya pada wanita tersebut.
Mendengar apa ini ucapkan oleh laki-laki dihadapan nya itu seketika membuat wanita itu mengulumkan senyumanmu dia mengambil minyak angin yang diserahkan oleh Dru sembari dia berkata.
"Pada trimester pertama memang seperti itu ada perempuan yang mengalami morning sickness, biasa nya ada yang berlangsung lama dan ada yang berlangsung sebentar, istrimu hanya mengalami morning sickness, aku harap bukan type yang berlarut-larut dan juga sebentar" ucap wanita itu dengan cepat kemudian dia bergerak pergi meninggalkan Dru yang terlihat kebingungan atas apa yang diucapkan oleh wanita tersebut.
"Dia bilang apa? trimester pertama?." laki-laki itu bertanya di dalam hatinya sembari mengerutkan keningnya untuk beberapa waktu.