
Masih di masa lalu
Sebelum malam kejadian
Kediaman keluarga Futtaim.
Nyonya Reck Futtaim menaikkan ujung alisnya, menatap perempuan dihadapan nya itu untuk beberapa waktu.
"Kau tidak ingin bicara jujur padaku, Hafsa?" wanita paruh baya tersebut bertanya pada perempuan cantik di hadapannya, dia menampilkan gaya elegan yang meskipun usianya tidak mudah lagi bertanya pada perempuan cantik di hadapannya untuk tahu apa yang dilakukan oleh putranya di belakang mereka semua.
Hafsa merasa kepalanya saat ini benar-benar berdenyut-denyut, tidak habis pikir bagaimana caranya dia harus hidup di antara keluarga besar Futtaim di mana Yavuz meminta kepada nya untuk dicarikan seorang gadis perawan guna melakukan surogasi mother untuk menanam benih super nya, meskipun dia telah menolaknya berkali-kali nyatanya paksaan itu berhasil membuat dia mau tidak mau menerima kesepakatan yang dilakukan oleh Yavuz kepada dirinya karena sedikit banyak laki-laki itu selalu tahu bagaimana cara untuk menekan dirinya namun dengan cara yang sedikit elegan dan manis.
setelah memenuhi keinginan Yavuz nyatanya hidupnya tetap tidak baik-baik saja kali ini orang tua laki-laki itu yang memanggil dirinya dan mempertanyakan tentang rencana putra mereka.
"Oh Tuhan, ini benar-benar gila." Hafsa membatin sembari menari kasar nafasnya.
"Kamu tahu aku bisa melakukan apapun untuk mencari informasi soal Yav, dan jika kamu memenuhi kemauannya atau keinginannya kau juga tahu bukan apa resiko terbesarnya?" mommy Yavuz bicara kepadanya dengan nada yang begitu tenang tapi yakinlah ucapannya sebenarnya sangat mematikan.
Hafsa berusaha untuk mengembangkan senyumannya kemudian dia menjawab dengan tenang apa yang diucapkan oleh wanita di hadapannya tersebut.
"tentu saja aku tahu risiko besar akan aku alami jika aku berurusan dengan untie" dia menjawab tidak kalah tenangnya dengan wanita di hadapannya tersebut.
dia jelas saja tahu kekuasaan wanita di dalam keluarga Futtaim, karena itu untuk berurusan dengan salah satu diantara mereka bukanlah hal yang mudah.
mendengar jawaban Hafsa seketika membuat wanita itu tertawa kecil kemudian dia berkata.
"aku dengar dia sedang merencanakan sesuatu yang licik, pertama dia berharap untuk bisa melakukan nikah kontrak dengan seorang gadis yang disewanya tapi aku bersyukur dia meminta membatalkan pernikahan tersebut karena dia takut aku tahu dengan rencananya" Lagi wanita paruh baya tersebut bicara kali ini dia meraih gelas minuman yang ada di hadapannya, wanita tersebut menggoyang gelas minuman tersebut secara perlahan kemudian dia mulai menikmati minuman itu teguk demi teguk.
setelah menikmati beberapa teguk minuman tersebut wanita itu kembali berkata.
"Selanjutnya aku dengar dia sedang mencari seorang gadis untuk melakukan surogasi mother kemudian dia ingin kembali melakukan nikah kontrak dengan gadis tersebut, bukankah putraku selalu punya rencana yang ada di luar logika orang tuanya?" wanita itu meletakkan gelas minumannya secara perlahan di atas meja kemudian dia menatap Hafsa dengan tatapan yang begitu tajam.
sebenarnya tidak mudah untuk wanita tersebut berhadapan dengan Hafsa atas ulah putranya, laki-laki itu selalu melibatkan orang-orang di sekitarnya untuk bisa menghindari pernikahan tanpa tahu apakah itu akan beresiko atau tidak.
sebenarnya menekan hapsah bukan gayanya karena dia tahu harusnya juga berada dalam kondisi yang cukup tertekan karena putranya, tapi dia terpaksa melakukan ini untuk bernegosiasi dengan perempuan cantik di hadapannya itu guna menyelesaikan segala urusan dengan putranya tersebut.
Dia mengirim seseorang untuk menyelidiki putranya dan betapa terkejutnya dia saat tahu laki-laki itu berencana untuk menipu seluruh keluarga dengan pernikahannya dan juga bayi surogasi.
sebenarnya ini bukan masalah miskin atau kayanya seseorang yang akan dipilih oleh Yavuz, tapi yang dia inginkan adalah seorang gadis baik yang duduk dari keluarga baik-baik dan di mana gadis tersebut memiliki karakter yang baik juga pantas menjadi pendamping putranya.
dia bisa saja memilih sembarang gadis yang dia inginkan tapi bukan kah mencari ibu untuk anak-anak yang baik juga untuk laki-laki sekeras kepala putra juga yang memiliki sifat pemberontak seperti Yavuz harus bener-bener di pilah dengan baik karena dia tahu betul bagaimana sifat putranya tersebut.
sembarang mencarikannya seorang gadis jelas bukan keputusan bijaksana apalagi menikah secara kontrak dengan seseorang itu jelas sangat mengerikan untuknya, ini zaman modernisasi dan bagi yang tidak ada lagi kontrak pernikahan mengerikan seperti itu pada zaman ini.
siapa tahu perempuan itu hanya akan memanfaatkan misalnya ada hal yang lain yang dia inginkan dari jauh bisa jadi perempuan itu ingin berkuasa di keluarga Futtaim dan lupa status pastinya jika dia perempuan yang kebetulan beruntung dipilih putranya
tidak sedikit perempuan yang tiba-tiba naik ke atas merasa menjadi sombong dan juga seolah-olah dia adalah penguasa di dalam rumah suaminya, berusaha untuk mengendalikan bahkan merebut apa-apa yang dimiliki oleh sang suaminya tersebut.
Dia jelas tidak berani membayangkan hal seperti itu di dalam hidupnya.
"dan orang yang ditunjuknya untuk mencari garis perawan tersebut juga gadis pilihannya adalah kamu" Dan wanita tersebut kembali melanjutkan kata-katanya, dia menatap Hafsa sambil menaikkan ujung alisnya.
Percayalah Hafsa bisa memijat-mijat kepalanya yang terasa sakit tiba-tiba.
"katakan padaku kapan dia akan melaksanakan rencananya kemudian katakan padaku siapa gadis pilihan nya?" mommy Yavuz bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi, dia ingin tahu kali ini siapa gadis yang akan dipilih oleh putranya tersebut.
Hafsa pada akhirnya berkata.
"aku pikir persoalannya cukup rumit di antara untie dan Yavuz" dia mulai membuka suaranya dan berkata dengan cepat pada wanita dihadapan nya itu.
Mendengar hal tersebut membuat mommy Yavuz ke kembali menaikkan ujung alisnya, wanita itu memajukan tubuhnya dan mencoba untuk mendengarkan kelanjutan ucapan dari Hafsah.
"Sangat sulit sekali berdiri diantara untie dan Yavuz, aku harus ditarik ulut ke sana ke mari untuk mematuhi kalian berdua" sebenarnya kalimatnya lebih pada protes yang terjadi tapi dia tidak ingin menganggap kalimat itu seperti sebuah protes yang tidak berarti.
"Aku punya saran yang cukup bijaksana yang mungkin ini akan menjadi jalan keluar terbaik diantara untie dan juga Yavuz" dan saat perempuan tersebut berkata seperti itu yakinlah dia punya rencana yang begitu luar biasa dia tidak akan pernah bisa ditebak oleh siapapun.
"Katakan pada ku, apa untie dan uncle punya rekomendasi gadis khusus yang ingin kalian berikan pada Yavuz?" dan saat Hafsa bertanya seperti itu, kini bola matanya menoleh ke arah sisi kirinya di mana terdapat tuan Reck Futtaim yang hanya menjadi pendengar pembicaraan mereka berdua sejak tadi.
Ketika Hafsa bertanya percaya hal yang itu membuat laki-laki paruh baya tersebut langsung menaikkan ujung bibir kemudian dia berkata.
"Aku selalu suka berbisnis dengan orang sepertimu, Hafsa" ucap laki-laki tersebut sambil menatap senang kearah Hafsa.