
kembali ke masa kini
Rumah sakit xxxxxxx.
"Ngomong-ngomong apa kamu tahu, Dru?" tiba-tiba saja sang dokter bicara sembari dia mencatat beberapa resep untuk Tiffany.
dan ketika dokter dihadapan nya berkata begitu, Dru tidak berniat benar-benar mendengarkan nya, dia fokus pada istrinya yang ada di dalam kamar mandi.
"Yavuz dan calon istrinya baru saja memeriksa kehamilan nya tadi" Ucap perempuan tersebut cepat tanpa melirik kearah Dru.
Mendengar apa yang diucapkan oleh dokter perempuan tersebut seketika membuat Dru langsung menoleh ke arahnya.
"Bayi mereka laki-laki" tambah perempuan itu lagi kemudian.
Dru terlihat diam untuk beberapa waktu,memilih tidak mengeluarkan suaranya sama sekali. Seolah-olah pikirannya berkelana entah ke mana, hingga pada akhirnya laki-laki tersebut berkata.
"Kapan mereka akan melaksanakan pernikahan?" Tanya Dru kemudian tiba-tiba.
Perempuan tersebut selesai dengan resep nya, dia menoleh kearah Dru sambil mengembangkan senyuman nya.
"Yav sepertinya terlihat cukup galau karena istrinya tengah hamil besar, sepertinya mereka akan melaksanakan pernikahan secara tertutup lebih dulu khusus untuk keluarga, setelah kelahiran putra mereka, baru akan menyelenggarakan pesta pernikahan besar-besaran, aku pikir ini pasti besar karena untie dan uncle begitu merestui Yavuz dan gadis pilihan nya" perempuan itu akhirnya menjawab apa yang dipertanyakan oleh Dru.
Laki-laki tersebut diam, mengangguk kan kepalanya secara perlahan, satu ingatan Menghantam nya pada masa kemarin.
"Apa yang kamu lakukan Jess?" Dia menatap Jessica yang menggeleng kan kepala pada dirinya agar tidak mengatakan pada semua orang soal kenapa dia bisa bersama Sean.
gadis tersebut merapatkan kedua belah telapak tangannya sembari menggeleng kepala nya.
"*apakah benar-benar tidur dengan Sean atau ini hanya tipu muslihat?* Dru kembali bertanya dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam*.
Tidak menyangka jika dia dan Khan harus kecolongan sesuatu, dia baru ingin menghubungi Khan tapi Jessica menghentikan gerakan tangannya dan memohon agar dia tidak melanjutkan apa yang dipikirkan nya.
"Jangan lakukan itu, please ...kak aku takut aku hamil, jangan lakukan itu, tunggu hingga beberapa bulan kedepan, aku janji pernikahan Tiffany akan batal dan kakak pasti akan berganti posisi dengan Sean" Cara bicara Jessica terlihat kacau.
Kata hamil membuat Dru semakin mengernyitkan dahi nya.
"Apa?"
"Khan aku pikir ada yang salah dengan Jessica? apa kamu dan uncle Gao....?"
'semua ada di luar rencana, malam itu aku tidak tahu bagaimana semua bisa menjadi kebetulan, Jessica mengandung benih dari putra uncle Reck Futtaim, Yavuz" Dan saat Khan berkata begitu, bayangkan bagaimana ekspresi Dru.
"Apa?"
"Aku dan daddy akan menyelesaikan semuanya, saat ini cukup fokus pada pernikahan mu dengan Tiffany, Dru" Dan ucapan Khan beberapa Minggu kemudian membuat Dru sejenak diam.
Dan semua nya kacau balau saat Jessica memilih pergi dari rumah.
"Oh shi..t" Khan terlihat gelagapan.
"Aku akan mencari titik lokasinya Khan, mungkin dia butuh waktu sendiri, aku akan menggiring orang-orang Yav untuk menemukan Jessi secepat nya"
Dan percayalah karena fokus pada urusan Jessica dia hampir melupakan soal Heidi hingga akhirnya satu hal terjadi, Tiffany bergerak lebih dulu menyelidiki hubungan Sean dan Heidi.
"Dru?" Saat dokter tersebut memanggil nama nya, Dru seketika membuyarkan lamunan nya.
"Kalian bisa menebus resepnya setelah ini" Ucap Perempuan itu lantas menyerahkan sebuah kertas resep pada Dru.
Dru secara perlahan menerima kertas tersebut.
"Kamu akan berkunjung ke kediaman Yavuz?" perempuan tersebut bertanya pelan.
"secepat nya, aku pasti akan mengunjungi nya" Jawab Dru dengan suara tenang nya.
Didalam kamar mandi, setelah berhasil memasukkan air urine nya pada botol kaca ditangan nya, Tiffany menutup botol tersebut dan mencuci bagian luarnya secara perlahan. sejenak perempuan tersebut menghela pelan nafasnya untuk beberapa waktu.
"Apa sakit nya berbahaya?" Batin Perempuan tersebut gelisah.
Pada akhirnya dia memejamkan sejenak bola mata, memilih merapikan pakaian nya lantas secara perlahan keluar dari sana.
"Sudah?" sang dokter bertanya dengan ramah.
Tiffany pada akhirnya memberikan botol kaca yang berisi urine nya kepada dokter perempuan dihadapan nya tersebut secara perlahan, bola mata nya sejenak menatap kearah dokter tersebut.
Sejujurnya dia agak bingung karena pemeriksaannya harus sampai ke air urine, tapi karena dia bukan type perempuan yang terlalu banyak bertanya pada akhirnya Tiffany hanya menurut dan mematuhi apa yang diminta oleh sang dokter.
"dan kami akan mengabarkan hasilnya secepat nya" perempuan di depannya itu bicara sembari mengembangkan senyuman.
Bisa Tiffany lihat dokter perempuan itu memberikan botol kaca tersebut kepada seorang perawat yang menunjukkan kepalanya ke arah mereka berdua.
"Apa penyakit ku baik-baik saja dok?" pada akhirnya Tiffany membuka suaranya, ingin tahu apakah ada hal buruk yang terjadi.
"jangan khawatir soal apapun, kamu baik dan sehat Tiff" Dru mengembangkan senyuman nya, bicara pada Tiffany yang tampak memiliki berbagai macam tanda tanya di atas kepalanya.
mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya seketika membuat perempuan itu menoleh ke arah Dru, dia menatap laki-laki tersebut untuk beberapa waktu.
"aku jadi sedikit cemas, karena sebelumnya tidak pernah terserang penyakit seperti ini" ucap nya pelan.
"beberapa perempuan mengalaminya setelah menikah lebih awal daripada perkiraan, jangan khawatir soal apapun ini anggap saja sebagai sindrom setelah pernikahan" dokter tersebut bicara sambil tertawa renyah, mencoba untuk menghibur Tiffany atas pertanyaannya.
"Ahhh seperti ketakutan setelah menikah?" perempuan itu bertanya sembari menaikkan ujung alisnya.
"bisa jadi seperti itu" bisa-bisanya dokter tersebut menjawab apa yang dipertanyakan Tiffany dengan tenang dan santai, hal tersebut membuat Dru mengulum senyumannya. cukup geli mendengar obrolan kedua orang tersebut.
"kak kamu mau menertawakan ku diam-diam?" Tiffany terlihat protes saat dia menatap wajah suaminya.
"tentu saja tidak, sayang beberapa hari ini kamu terlihat begitu sensitif hmmm" dan jurus penuh kelembutan serta kehangatan muncul dari Dru saat ini.
"terkadang mereka akan menjadi lebih sensitif atau bahkan sedikit lebih cengeng setelah menikah dan memasuki fase tersebut, jangan khawatir salah apapun Dru dan nikmatilah" dokter perempuan itu bicara dengan cepat saat mendengar pembicaraan kedua orang tersebut, dia ikut mengeluh senyumannya dan memastikan jika Tiffany memang benar-benar masuk pada fase trimester pertamanya.
"aku Akan mengirim kamu pesan Dru, untuk laporan kesehatan istri mu secepat nya" dan dokter tersebut bicara ketika kedua orang itu siap untuk pergi dari sana.
Dru langsung menganggukkan kepalanya.
"sekarang katakan padaku kita akan pergi ke mana?" begitu mereka berada di luar ruangan dokter tersebut, Dru bertanya sambil menyentuh lembut telapak tangan Tiffany.
"aku tiba-tiba memikirkan untuk mendapatkan makanan" Tiffany menjawab dengan penuh semangat dan dia pikir dia butuh makanan yang membuat dia berselera.
"misalnya makanan kaki lima" lanjut Perempuan tersebut lagi kemudian.
"Bukan masalah" Jawab Dru sambil mengembang kan senyuman nya.
mereka melangkah menuju ke arah depan secara perlahan diiringi suara handphone Dru m yang tiba-tiba berdering, sebuah pesan masuk di sana dan laki-laki tersebut membuka handphonenya guna melihat pesan apa yang diberikan kepada dirinya.
seketika dia menghentikan gerakan kaki saat dia melihat sebuah gambar terpampang jelas di layar handphone-nya. dan bayangkan bagaimana degub jantung Dru saat ini ketika dia melihat satu hal yang begitu luar biasa di dalam sana.
CONGRATULATIONS DRU, KAU AKAN JADI SEORANG DADDY.
"oh..." Seketika bola mata Dru terlihat berkaca-kaca, dua garis merah menghiasi layar handphone nya.
"Kak....ada apa?" Tiffany yang rupanya melangkah lebih dulu langsung menghentikan langkah kakinya, dia menoleh ke arah belakang dengan ekspresi bingung nya.
"Bukan apa-apa hanya urusan perusahaan, sayang jangan bergerak terlalu banyak, aku pikir sebaiknya hari ini hindari makanan pedas, Tiff malam nanti mari pergi ke suatu tempat, aku pikir ada yang ingin aku berikan....." Entahlah tiba-tiba Dru jadi sedikit cerewet, dia bahagia, sulit sekali mengatakan perasaannya nya, dia ingin melompat kegirangan saat ini tapi mencoba menahan nya hingga dia membuat kejutan untuk istri nya.
"Kak... bicara satu-satu aku jadi bingung, hmmnn aku pikir kita makan lebih dulu, kaki lima di ujung street......."
"Tiff apa aku harus menggendong mu, aku khawatir kamu terlalu banyak berjalan..."
Dan obrolan mereka hari ini terasah panjang, Dru yang biasanya tidak banyak bicara jadi terlalu banyak bicara karena khawatir dengan keadaan istri nya.
******
Bahagia ini membuat ku tidak ingin mengakhiri nya terlalu cepat.
Dan pada akhirnya didalam kamu dan aku akan ada dia yang akan menambah keceriaan didalam rumah kita.
Gustave Dru De Pearl.