The Betrayal

The Betrayal
Kondisi kesehatan yang tidak baik-baik saja


Penthouse suit presiden Wilson hotel


Pagi.


Dru terlihat berbaring di samping Tiffany, membiarkan pandangan nya tidak berpaling dari sang istri, cukup lama itu terjadi dan dia sama sekali tidak beringsut.


Matahari pagi masih malu-malu menampakkan cahaya nya, di atas sana masih berusaha menyembulkan diri tapi belum benar-benar mau datang menyapa dunia dan seisinya.


Laki-laki tersebut terlihat mengulum senyuman nya, menatap wajah sang istri yang masih tertidur pulas sejak tadi, sesekali tangan Dru mengelus wajah istrinya, sesekali dia membenahi rambut sang istri yang terlihat berantakan karena tidur hingga akhirnya Tiffany menggeliat secara perlahan.


Perempuan tersebut sebenarnya masih ingin tidur tapi ada yang aneh di dalam perut nya, dia merasa sedikit tidak nyaman ketika masuk pada pagi hari, beberapa hari ini selalu begitu, tiba-tiba ingin memuntah kan apapun yang ada didalam sana.


Seketika Tiffany membuka bola matanya secara refleks, kemudian Tiffany menutup mulutnya dengan cepat lantas bergegas bangun dari tidur nya hal tersebut jelas membuat Dru mengernyit kan dahi nya.


"Sayang, ada apa?"


Tiffany ingin menjawab tapi dia tidak punya daya untuk membuka mulutnya, sebab dia benar-benar ingin mengeluarkan semua yang ada didalam sana, alih-alih menjawab perempuan tersebut lebih memilih bergegas lari menuju ke arah kamar mandi.


Dan begitu Tiffany melesat masuk ke dalam kamar mandi dia langsung memuntahkan seluruh isi perutnya ke dalam kloset, hingga matanya berair, bahkan seluruh dorongan yang ada di perutnya memaksanya untuk keluar semua tanpa henti. Membuat Tiffany mengeluarkan suara mengerikan di pagi hari diiringi dengan sesak yang dia rasakan.


"Minyak angin?!." Itu yang terlintas di batin Dru.


Laki-laki tersebut berlarian ke depan, mengacak-acak isi tas dan mencari minyak hangat untuk melegakan Tiffany, bergegas kembali ke kamar mandi dan mengoleskan minyak tersebut ke tengkuk, perut dan sekitar area hidung juga kepala Tiffany.


"Aku pikir aku sedang tidak sehat, kak" Bola mata Tiffany terlihat berkaca-kaca, dia menatap Dru dengan tatapan sayu, dia pikir tiba-tiba saja kesehatan nya menurun drastis saat ini.


"Kita pergi menemui dokter? atau meminta dokter khusus untuk datang? atau mau pergi ke rumah sakit?" Dru kalut, dia kalang kabut, memberikan pilihan pada Tiffany dengan cepat, tidak memaksakan diri karena dia tidak mau Tiffany salah mengartikan ucapan nya, tapi yang jelas Tiffany seperti nya tidak baik-baik saja menurut Dru.


"Aku mengacaukan liburan bulan madu kita" Tiffany bicara penuh penyesalan masih dengan bola mata berkaca-kaca sisa perjuangan dia memuntahkan seluruh isi perutnya.


"Tentu saja tidak, bukankah kita tidak pernah tahu kapan kita sakit, kapan kita sehat? come Tiff, kita memeriksakan keadaan kamu ke dokter, aku benar-benar panik, aku takut sesuatu yang buruk terjadi hmmm? saat pergi semua baik-baik saja, angin diperjalanan, kelelahan diperjalanan atau apapun itu bisa jadi pemicu kamu sakit hmmmm"


Dru benar-benar panik, dia meminta Tiffany agar mau memeriksakan kesehatan nya, menunggu mereka menghabiskan liburan di Swiss dan bergerak ke Jerman bukan pilihan bijak, itu terlalu lama bagi nya, selama dia menunggu balasan cinta nya pada Tiffany.


Melihat rona panik suami nya membuat Tiffany mengulum senyumannya, dia pada akhirnya mengangguk kan kepalanya.


"Mari pergi ke rumah sakit saja kak, hitung-hitung aku bisa melihat-lihat keluar, mencari udara baik ditengah rasa mual yang terus menghantam" Pada akhirnya Tiffany mengalah.