
Kembali ke masa lalu
Beberapa hari sebelum malam kejadian
Ruang kerja Sean.
"Seberapa berat obat nya bekerja?"
Sean menatap wajah perempuan dihadapan nya untuk beberapa waktu, dia kemudian meraih botol kecil yang diberikan Perempuan tersebut secara perlahan.
"Cukup membuat seseorang tidak sadar ketika seluruh tubuh nya di jamah dan di perlakukan tidak adil oleh seseorang lainnya"
"lebih parah dari obat bius?!."
Sean bertanya untuk memastikan.
"yeah kau bisa menebak nya"
Dan saat perempuan dihadapan Sean berkata begitu, membuat laki-laki tersebut langsung menatap lurus pandangannya untuk beberapa waktu, dia menaikkan ujung bibirnya untuk beberapa waktu.
"Kau yakin ingin melakukan hal tersebut?"
perempuan itu bertanya mencoba untuk memastikan, mencoba untuk kembali meyakinkan laki-laki dihadapannya itu soal apa yang direncanakan nya.
"tentu saja, apa kau melihatku sedang melakukan sesuatu dengan cara bercanda?"
Sean bertanya balik ke arah perempuan di hadapannya terus semua, dia duduk di atas kursi sofa mendominasi berwarna hitam menyandarkan tangan kiri dan kanannya dengan gaya yang begitu santai, lagi-lagi tersebut masih menggenggam sebuah botol kecil di tangannya yang diberikan oleh perempuan di hadapannya tersebut.
"kau tahu ini tidak akan mudah, yang kau hadapi adalah putri mantan mafia, kakak nya kelala mafia, dia memang tidak pernah terjung menjadi mafia, tapi kehidupan nya dikelilingi oleh mafia"
ucap perempuan itu dengan gelisah ke arah Sean, dia menelisik bola mata laki-laki itu untuk beberapa waktu, perempuan itu pikir laki-laki tersebut bergerak diambang batas pemikirannya.
"bayangkan ketika kau melakukan hal itu Sean, ada dua kemungkinan yang terjadi, mungkin kau benar mencelakai gadis itu tapi kau tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya atau mungkin kau gagal di tengah jalan karena kau tidak pernah tahu bagaimana kekuatan gadis tersebut sesungguhnya"
kembali perempuan itu bicara, terus berusaha mengingatkan Sean jika ini tidak baik-baik saja.
"aku suka dua alternatif dalam pilihan, membunuh atau dibunuh, menghabisi atau dihabisi, bahkan hidup atau mati"
laki-laki itu berucap dengan penuh keyakinan membuat perempuan di hadapannya sedikit bergidik ngeri.
"tapi kau sedang bermain-main dengan takdir, Sean"
perempuan itu mencoba untuk menghela nafasnya, membenahi posisi duduknya untuk beberapa waktu.
usia perempuan itu lagi kemudian.
"ditambah lagi pada kejadian masa lalu kamu tidak pernah tahu apakah itu benar kesalahan dari orang-orang tersebut atau ada orang lain yang memanfaatkan situasi hanya membuat semua menjadi seperti itu"
dan ketika Sean mendengar apa yang diucapkan oleh perempuan itu, membuat laki-laki tersebut memejamkan bola matanya sesaat.
"semua bukti jelas mengarah kepada mereka, tapi aku harus mencari bukti baru untuk semuanya?"
dan laki-laki tersebut mencoba untuk meyakinkan diri.
perempuan itu terlihat diam sejenak kemudian dia kembali berkata.
"Apa mungkin penerus Xavier bahkan tidak tahu gerak-gerikmu, Sean?"
Percayalah perempuan itu meragukan keadaan dia pikir tidak mungkin penerus Xavier sama sekali tidak tahu soal siapa Sean dan bagaimana kehidupan laki-laki tersebut yang sebenarnya di masa lalu.
Sean sama sekali tidak menjawab dia hanya menggeser sebuah amplop mendominasi berwarna coklat kemudian berkata.
"tetap jalankan rencana seperti semula"
kemudian laki-laki tersebut berusaha untuk membuang pandangannya.
mereka diam sejenak untuk beberapa waktu hingga pada akhirnya perempuan di hadapan berdiri secara perlahan sembari meraih amplop yang diberikan oleh laki-laki tersebut.
"gadis itu tidak salah apa-apa, Sean"
perempuan itu masih berusaha untuk mengingatkan, menggenggam amplop mendominasi berwarna coklat ditangan nya sembari menatap Sean.
Dia pikir rencana laki-laki itu terhadap Tiffany calon tunangannya sendiri jelas melampaui batasannya.
Sean pada akhirnya menatap ke arah Perempuan tersebut kembali.
"dan Heidi ku juga tidak punya salah apa-apa pada mereka"
laki-laki tersebut menjawab dengan cepat sembari menatap bola mata perempuan di hadapannya itu dengan lekat.
dan selama obrolan itu terjadi di balik pintu ruangan tersebut seorang gadis terlihat berusaha untuk menggenggam erat telapak tangannya yang gemetaran, dan di beberapa detik kemudian gadis tersebut berusaha untuk menutup mulutnya dengan cepat, dia takut jika kehadirannya yang tidak disengaja diketahui oleh kedua orang tersebut.
Jessica berusaha untuk menetralisir detak jantung nya.