The Betrayal

The Betrayal
Kemarahan Tuan Xavier


Mansion utama keluarga Xavier.


Brakkkkkkk.


Satu hantaman kasar terdengar dari arah balik pintu depan Mansion tersebut untuk beberapa waktu, hal tersebut membuat seisi Mansion itu seketika terkejut termasuk nyonya Lana lan. Wanita tersebut yang tadi yang tengah menikmati teh hangat sambil menonton layar televisi seketika terkejut setengah mati dan langsung berdiri dari posisinya kemudian menoleh ke arah depan.


Bisa dia lihat suaminya yang baru saja membuka kasar pintu depan begitu masuk ke kediaman mereka, rona api kemarahan dari balik wajah kharismatik sang suaminya saat ini tampak menghiasi wajah laki-laki tersebut di mana tuan Xavier bergerak dengan cepat menuju kearah dalam mansion.


"Sayang ada apa?" Wanita tersebut jelas terkejut setengah mati dan dia mencoba untuk bertanya sembari berusaha bergerak mendekati suaminya.


Dia tahu laki-laki itu merupakan tipe laki-laki yang sangat jarang sekali marah, tapi sekalinya marah bisa dipastikan betapa mengerikannya laki-laki tersebut.


Alih-alih menjawab pertanyaan dari istrinya, bola mata laki-laki itu tampak mencari seseorang yang ada di kediaman mereka untuk beberapa waktu, hingga pada akhirnya ketika dia menantang seorang wanita berusia sekitar 35 tahun berjalan dengan cepat ke arah dirinya bersama dengan pelayan lainnya seketika membuat laki-laki itu secepat kilat mendekati wanita tersebut dan,


Plakkkkkkk.


"Akhhhh."


"Akhhhhhh."


"Sayang?."


Dia berusaha untuk mendekati tuan Tristan, mencoba untuk mengendalikan emosi suaminya.


"Ada apa sayang?, kenapa melakukan hal seperti itu?-," dia menghentikan kalimatnya saat Tristan menyentuh lembut pipi istrinya tersebut dan meminta perempuan itu untuk tidak melanjutkan kata-katanya. Dia berlaku hangat pada istrinya kemudian langsung kembali menatap kearah pelayan yang ditampar nya tadi.


"Kau tahu apa kesalahan yang telah kau perbuat?." Dan laki-laki tersebut bicara sembari memajukan langkahnya, dia menatap tajam ke arah perempuan yang ada di hadapannya tersebut seolah-olah siap untuk menelan perempuan itu hidup-hidup saat ini juga.


Mendengar apa yang di ucapkan tuannya, seketika Perempuan yang ditanyanya tersebut langsung terkejut, ekspresi wajahnya langsung pucat pasi dan dia langsung terlihat gemetaran ketakutan. Seperti mendapat kan berita kematian, dia pikir mungkin ini akan jadi hari kematian nya.


Dan seketika dia menundukkan kepalanya, di mana terlihat dia tidak berani menatap pada laki-laki yang merupakan majikannya tersebut saat ini dan lebih memilih untuk mencoba menenggelamkan dirinya pada satu rasa takut yang sangat luar biasa. Perempuan-perempuan itu memejamkan sejenak bola mata nya.


"Seharusnya kami tidak memperkerjakan seorang benalu dan pengkhianat di sini saat ini." laki-laki itu melanjutkan kata-katanya dan hal tersebut seketika membuat para pelayan lainnya terkejut termasuk nyonya Lana Lan.


Para pelayan terlihat langsung menoleh antara satu dengan yang lainnya, bertanya-tanya arti dari ucapan tuan mereka.


Nyonya Lana Lan tidak kalah terkejut, wanita paruh baya itu seketika terkejut mendengar apa yang diucapkan suaminya itu, dia pikir apa yang dimaksud oleh Tristan atas ucapannya tersebut pada salah satu pelayan di rumah mereka.


"Apa maksud dari semuanya, Kris?." nyonya Lana lan melesatkan tanya nya pada sang suaminya dengan nama kecil nya.


"Kau tidak ingin menjelaskan semuanya pada nyonya mu, Laila?." Dan tuan Tristan kembali bertanya pada pelayan nya.