The Betrayal

The Betrayal
Sayang Oh sayang


Tiffany masih berusaha untuk menetralisir rasa, di memejamkan sejenak bola mata nya.


Dru jelas saja menunggu jawaban Tiffany dengan berdebar-debar, menatap khawatir apa mungkin dia ditolak atau dia akan diterima, membuang semua rasa gelisah dan takut akan penolakan dari gadis yang kini telah sah menjadi istri nya.


Bisa dia lihat bola mata Tiffany berkaca-kaca, takut menebak apakah Tiffany terharu atau takut dengan pernyataan nya.


Hingga akhirnya setelah sekian lama menunggu jawaban laki-laki tersebut melihat istrinya mengangguk kan kepala nya secara perlahan.


"Bukankah aku sudah jadi istri kakak dan kakak sudah jadi suami ku?"


Dalam kondisi serius gadis tersebut bisa-bisa nya sedikit ngelawak dan mengajak bercanda, membuat Dru sejenak membeku dan menebak-nebak maksud Tiffany.


Inj lah rasanya punya suami kaku dan minim ekspresi, di ajak bercanda malah celingak-celinguk bingung sendiri. Pada akhirnya Dru menggaruk kepalanya yang tidak gatal, malu bertanya hingga dia nyaris tersesat di jalan.


"Ishhhh kakkkkk"


Tiffany menghapus air matanya, menatap Dru sambil memunyungkan bibirnya.


"Kita sudah menikah, kakak melamar ku lagi dan menunggu aku menjawab iya? ini benar-benar rumit dan sulit".


Gadis tersebut protes, meraih tangan Dru yang masih menggenggam dirinya, memilih menarik telapak tangan Dru dan mencoba menggigit nya karena geram.


Dru langsung membulatkan bola matanya, menyadari apa yang akan dilakukan istrinya.


"Ohhh sayang jangan gigit lagi"


Refleks dia bicara, menarik tangan nya dan berdiri dari duduknya, menyambar Tiffany dengan cepat dan membuat gadis tersebut kembali berbaring di ranjang mereka.


"Itu cukup menyakitkan sayang"


Dua kali kata sayang refleks dia ucapkan, membuat Tiffany seketika terkejut dibuat nya, begitu manis ketika seorang Dru memanggil makhluk yang dijuluki Perempuan dengan kata sakral seperti itu.


"Sayang....?"


"Itu terdengar begitu manis"


Gadis tersebut kembali bicara, membiarkan wajah nya merona merah, seperti tomat 🍅 masak yang benar-benar merah, dia malu sendiri atas panggilan yang barusan di ciptakan suami nya.


"Katakan sekali lagi, kak"


Sungguh serakah, dia meminta nya sekali lagi, mumpung ada kesempatan, takut Dru tidak akan mengucapkan nya lagi jika sudah masuk di keesokan hari.


Mendengar ucapan Tiffany dan permintaan istrinya seketika membuat Dru mengulum senyuman nya, dia memang refleks menyebutkan kata itu, tapi dia menyukai nya, berniat menggunakan panggilan itu untuk diberikan kepada Tiffany, terdengar begitu manis dan juga membuat jarak diantara mereka terpangkas karena kata sayang tersebut.


Dru seketika menatap Tiffany kemudian dia mencoba kembali mengucapkan kata-kata tersebut.


"Sayang"


Ohhhh terdengar begitu manis, membuat wajah Tiffany kembali memerah karena malu, begitu indah di dengar dibalik telinga nya, rasa nya dia takut Dru tidak memanggil diri nya lagi dengan kata tersebut.


"Lagi boleh? aku menyukai nya"


Dia meminta kembali, menatap netra Dru untuk beberapa waktu.


Dru patuh, memanggil istrinya lagi dengan kata-kata tersebut sembari berkata.


"Sayang...itu terdengar manis kah? aku akan menggunakan itu saat kita bersama"


Dia berniat menggunakan kata-kata tersebut untuk memanggil istrinya tapi tidak didepan orang lain, terlalu malu rasanya dia yang kaku memanggil istrinya didepan orang lain seperti itu, takut di ejek atau....


Dru seketika membulatkan bola matanya saat dia menyadari Tiffany melilitkan kedua tangan nya ke leher Dru dan di beberapa detik kemudian gadis tersebut menyambar bibirnya, Membiarkan bibir Tiffany melesatkan ciuman luar biasa kepada dirinya.


Dru seketika menegang dengan sempurna.