The Betrayal

The Betrayal
Lucu dan menggemaskan


kembali ke Yavuz dan Jessica


Street kaki lima


pusat kota.


Yavuz membiarkan dirinya duduk bertempuh dengan kedua belah kakinya menghadap pada Jessica yang duduk di atas kursi yang ada di salah satu pinggiran jajanan kaki lima, kursi panjang yang terbuat dari besi ukir tersebut mampu menampung beberapa orang tapi tidak ada yang berani mendekati laki-laki tersebut di mana Yavuz menatap Jessica dengan tatapan yang begitu dalam sembari dia sedikit mendongakkan kepalanya.


sisa air mata gadis tersebut masih terlihat di mana bola matanya masih memerah setelah menangis untuk waktu cukup lama di dalam pelukannya tadi, hingga saat ini aku masih tidak paham kenapa Jessica menangis dia pikir itu adalah persoalan karena dia menolak makanan yang diberikan oleh gadis tersebut tapi Jessica berkata bukan itu yang membuatnya menangis.


"katakan padaku ada apa?" laki-laki tersebut bertanya sembari menelisik bola mata Jessica, Yavuz menatap dalam bola mata gadis dihadapannya itu dan ingin tahu apa yang membuat gadis itu menangis tadi.


Alih-alih menjawab pertanyaannya Jessica menggelengkan kepalanya secara perlahan kemudian dia berkata.


"bolehkah aku mendapatkan sebuah es krim?" gadis itu bertanya pelan kepada Yavuz.


"Tentu saja kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu ingin kan di muka bumi ini selagi Kamu bicara padaku, bahkan dunia dan seluruh isinya akan aku berikan padamu juga baby Yav " laki-laki tersebut menjawab apa yang diminta oleh Jessica dengan penuh semangat dan hal itu seketika membuat Jessica tertawa kecil.


"Apa kamu tidak akan bangkrut dan habis jika kamu memberikannya dunia dan isi nya padaku dan baby Yav?" Jessica bertanya sambil menaikkan ujung alisnya, dia menatap ke arah Yavuz sembari menahan senyuman nya atas sisa tangisan nya.


"Oh tentu saja tidak bangkrut dan habis, kamu tahu betapa kaya nya diriku? bahkan ketika kamu mencetak tim kesebelasan aku bisa memberikan harta yang banyak pada para baby kita" dan jelas aja laki-laki tersebut menjawab dengan penuh percaya diri juga sedikit sombong.


Jessica seketika tertawa kemudian dia berkata,


"Baiklah aku katakan cara menghiburmu sedikit membuatku melupakan kesedihanku, Yav kamu begitu lucu dan menggemaskan" gadis tersebut menjawab dengan cepat atas apa yang diucapkan oleh laki-laki di hadapan tersebut sambil terus mengeluarkan tawa kecil nya


Gedubrakkkkkk.


Apa? bercanda? lucu? menggemaskan?!.


Yavuz jelas saja mengerutkan keningnya, dia pikir bagaimana bisa Jessica berpikir dia sedang bercanda?!.


Padahal dia bicara panjang lebar dengan penuh semangat dan tingkat percaya diri yang sangat tinggi, bagaimana bisa gadis tersebut menyimpulkan apa yang di ucapkan nya dengan serius tadi sekedar candaan.


"Apa wajah ku terlihat lucu dan penuh candaan?" Dia bertanya-tanya didalam hati nya, sejenak berusaha menyentuh perlahan wajah nya, seketika dia berpikir dengan begitu keras.


Oh shi..t ketika orang-orang selalu berpikir dia memiliki wajah menyeramkan saat bicara, dan begitu sombong juga angkuh dengan cara nya bagaimana bisa Jessica berkata dia lucu dan menggemaskan?!.


Lucu?! menggemaskan?!.


Dia membayangkan soal badut atau kelinci, dan saat bayangan tersebut menyerupai diri nya, seketika Yavuz menggelengkan kepalanya sambil menghela panjang nafasnya.


"Mau berapa banyak? aku akan membelikan nya" Akhirnya laki-laki tersebut bertanya berapa banyak Jessica mengingin kan es krim nya.


"Satu" Gadis tersebut mengangkat jari telunjuk nya dengan cepat.


Yavuz perlahan menganggukkan kepalanya, dia memilih untuk berdiri secara perlahan dari posisi nya kemudian mencoba mencari es krim yang diinginkan Jessica.


"Tunggu disini, aku akan membawakan nya untuk kalian, jangan kemana-mana hmmm" Yavuz berpesan, mencoba mewanti-wanti Jessica agar tidak berpindah dari posisi nya, dia tidak harus membiarkan Jessica terlalu banyak berjalan karena takut gadis tersebut lelah.


Laki-laki tersebut tahu di beberapa sisi tempat orang-orang nya berjaga mengawasi mereka, berada di luar jelas tidak baik-baik saja, apalagi Ingat bagaimana reputasi nya di dunia gelap. Musuh jelas ada di mana-mana, dia tidak begitu menyukai keramaian di tempat terbuka, kecuali klub malan dia tidak akan pernah mau berbaur dengan orang-orang asing yang tidak dia kenal.


Nyata nya bersama Jessica semua kehidupan nya berubah, gadis tersebut selalu saja memperkenalkan dirinya pada dunia baru yang tidak dia sukai, dan lucu nya dia tidak pernah protes atau keberatan dengan semuanya.


Laki-laki tersebut bergerak menuju kearah gerobak es krim, memesan es untuk Jessica.


"Rasa?" Saat pedagang bertanya, Yavuz terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Dia tidak tahu apa yang disukai Jessica.


"Coklat, Vanila, madu........"


Ah entahlah banyak sekali aneka rasa yang di sebutkan oleh pedagang tersebut, tiba-tiba kepalanya jadi berdenyut-denyut.


"Coklat vanilla" tiba-tiba saja suara seseorang menyeruak masuk di balik telinga sisi kanan nya, membuat Yavuz refleks menoleh.


Awal nya dia melihat seorang perempuan yang bicara pada pedagang es krim di mana dia berdiri, namun di detik berikutnya saat perempuan tersebut kembali bicara pada seseorang di sisi kanan nya.


"Kakak mau apa? coklat, vanila, madu atau...?"


Tatapan mata perempuan tersebut fokus pada sosok laki-laki di sisi kanan nya.


"Samakan seperti kamu" dan saat suara seseorang menjawab ucapan perempuan tersebut seketika Yavus menoleh.


Didetik berikut nya Yavus langsung membulatkan bola matanya saat dia menyadari siapa sosok yang berdiri di sisi kanan perempuan tersebut.


"Kau...?" dan Yavuz mengerutkan keningnya.


Bola matanya bertemu dengan laki-laki yang jelas sangat tidak asing untuk dirinya.