
Tiffany sengaja mengabaikan Dru, cukup kesal karena dalam permainan laki-laki tersebut tidak menjawab pertanyaan nya, dia pikir bagaimana bisa laki-laki tersebut tega tidak menjawab pertanyaan nya. Tidak rumit tinggal jawab ya atau tidak, bukankah terlalu simple dan gampang?!.
kenapa juga model laki-laki seperti itu sangat menyebalkan sekali, hanya mengeluarkan kata-kata kecil seperti itu saja harus membuat dia sedikit merasa kesal tingkat tinggi, apakah laki-laki pendiam memiliki sifat menyebalkan seperti itu pikir nya.
Gadis tersebut menghela kasar nafasnya kesal, mencoba tidak mempedulikan kehadiran Dru di kamar yang mereka tempati. Biarkan saja dia jadi istri durhaka, toh bukan kah yang cari perkara awal Dru sendiri?.
Di baru menyelesaikan sesi mandi nya, baru ingat saking kesal nya lupa bawa pakaian ganti ke kamar mandi, hanya melihat handuk mendominasi berwarna putih saja di bagian gantungan pakaian.
Alih-alih mau memikirkan nya, dia lebih memilih menyambar handuk mandi, menggunakan nya dengan cepat kemudian bergerak keluar dari arah kamar mandi. Masih sempat dia melirik ke arah Dru begitu dia keluar dari kamar mandi, kemudian garis tersebut membuang pandangannya dan didetik berikut nya kembali memilih mengabaikan laki-laki tersebut dan bergerak dengan cepat menuju ke arah walk in closet.
cukup lama Tiffany Mama to di depan walk in closet, gadis tersebut berpikir dengan keras soal sesuatu.
Dimana pakaian nya?.
Tiffany mengerutkan keningnya, menoleh kearah Dru dengan cepat, bisa dia lihat suaminya terlihat gelisah, mencoba mengitari ruangan Seolah-olah sedang mencari sesuatu.
"Kak"
Tiffany pada akhirnya bicara pada laki-laki tersebut.
Dru yang terlihat bingung seketika terkejut mendengar diri nya dipanggil, menoleh kearah asal suara dengan gerakan refleks.
"Hmmm?"
Dia menjawab pelan, menatap gadis di ujung sana yang bergerak mendekati nya, membuat Dru mengerutkan keningnya.
"Mau apa dia?"
Dru membatin, memundurkan langkah nya secara perlahan, menatap penampilan Tiffany yang agak mengganggu dirinya.
"Pakaian ku mana?"
Begitu sudah ada dihadapan Dru, gadis itu bertanya sambil menaikkan ujung alisnya. Dia pikir dia tidak melihat pakaian nya di sana, dimana pakaian nya coba? dia jelas-jelas membawa beberapa pasang pakaian dan memasukkan nya kedalam tas kecil, jangan kan pakaian, dia bahkan tidak melihat tas milik nya tersebut.
Tiffany bertanya sambil menaikkan kedua belah tangannya, menunggu jawaban Dru yang mematung menatap diri nya. Laki-laki tersebut membeku, menatap Tiffany dengan tatapan gelisah, terlalu gelisah hingga membuat Tiffany berpikir ada apa dengan laki-laki dihadapan nya itu.
Rambut basah tergerai indah, tubuh molek sempurna, kulit halus dan lembut serta seputih porselen, bisa dibayangkan bagaimana tangan menyentuh lembut tubuh sang pemilik nya, sembulan dada yang sempurna di balik kain Handuk mendominasi berwarna putih membuat laki-laki dengan iman terkuat nya pun mampu goyah melihat nya. Belum lagi betis indah yang tidak ditutupi apa-apa dimana handuk tersebut hanya menutupi sebagian paha pemilik nya.
"Sikat Dru, halal"
"Jangan, dia belum jatuh cinta pada mu"
"Eksekusi......sat set sut Dru...tarik, peluk, cium sikat"
"Stooopppp jangan dengarkan dia, sungguh terlalu ucapan nya"
Oh demi Allah rasanya kepala Dru ingin pecah saat ini juga, dia laki-laki dewasa ah tidak lelaki yang terlalu matang dan masak, hampir membusuk karena tidak pernah banyak tingkah selama hidup nya, sedikit banyak tahu soal ehem...ehem... pikiran nya saling bertarung untuk beberapa waktu soal sikat atau lepas hingga akhirnya tanpa dia sadari Tiffany terus memanggil nama nya.
"Kakkkk Dru...."
Gadis tersebut melambaikan tangan nya tepat dihadapan wajah nya, membuat Dru laki-laki tersebut seketika mengedipkan bola mata nya karena terkejut.
"Ya?"
"Pakaian ku mana?"
"Ahhhh pakaian?"
Dia gelagapan, mencoba menetralisir otak nya yang akan pecah, ini kali ke 2 dia galau.
Pertama malam pertama pernikahan mereka saat Tiffany mengganti pakaian tepat dihadapan nya dimana dia baru keluar dari kamar mandi, saat itu mungkin ketidak sengajaan, dan kali ke dua adalah malam ini, dia merasa kali ini apakah ketidaksengajaan atau kesengajaan?!.
Dru berusaha bergerak mencari pakaian Tiffany, menuju ke arah walk in closet dengan gerakan terburu-buru.
Dimana? yah benar, dimana pakaian mereka? dia berusaha untuk mengingat-ingat dimana pakaian mereka.
Kamar utama Dru?!.
"Aku pikir di kamar utama"
Dru menoleh dengan cepat, mencoba memberitahukan Tiffany dimana pakaian mereka, rupanya gadis tersebut ada tepat dibelakang nya, membuat Dru seketika terkejut, refleks Tiffany mundur kebelakang nyaris jatuh namun dengan cepat tangan kiri Dru menahan pinggang Tiffany dan tangan kanannya menahan bahu gadis tersebut.
Tiffany yang terkejut seketika memejamkan bola matanya, berpikir dia akan jatuh dan tumbang kebelakang.