The Betrayal

The Betrayal
perempuan yang cukup baik


"Dan kau bahkan belum tahu jenis kelamin anak mu sendiri, Yavuz apa kau ingin mommy menghajar mu saat ini?"


wanita itu jelas sangat marah sekali saat dia mendengar jawaban Jessica, dia pikir bagaimana mungkin kehamilan yang sudah sebesar itu sama sekali belum diketahui jenis kelaminnya oleh kedua orang tersebut?!.


Biasa nya sepasang kekasih atau suami istri sudah mengetahui nya, kecuali masih di trimester pertama dia mungkin memaklumi nya.


"kau benar-benar sudah gila, bagaimana bisa seorang ayah bisa mengabaikan anak nya?"


Rasanya mommy Yavuz merasa kepalanya saat ini mulai ber'asap-asap, dia merasa bahkan rambut nya mulai naik ke atas saking kesalnya, dia langsung menutup ke arah putranya tersebut sembari mencoba untuk berkacak pinggang.


"Kau benar-benar..."


dan seketika wanita itu mengeram dengan perasaan kesal.


Yavuz yang melihat kemarahan mommy nya seketika bingung, dia pada akhirnya mencoba berkata.


"Kesibukan di perusahaan dan beberapa tekanan kerja membuat ku agak bingung mom, ini kehamilan pertama Issi, kami sama-sama tidak begitu paham prosedur nya"


Dia berusaha untuk sedikit membela diri, berharap mommy nya agak meredam kan amarah nya.


Ini benar-benar sial, Yavuz merasa waktu berjalan terlalu lemban hari ini, dia berharap semua berjalan cepat dan dia ingin semua berakhir dengan cepat.


"Aku benar-benar minta maaf, kami akan memeriksa keadaan Issi ke dokter kandungan besok, aku Sudah melakukan janji temu dengan Dokter Eng besok, mom"


Laki-laki tersebut berucap cepat, meminta ibu nya jangan terlalu khawatir dengan semua keadaan ini, dia akan mengatasi semua nya dengan cepat.


"Oh aku merasa darah tinggi ku naik karena anak ini"


Alih-alih tenang dengan ucapan Yavuz, mommy nya jelas merasa sangat gelisah karena keadaan, dia menyentuh kepala nya dengan cepat, beralasan kepala nya berdenyut-denyut karena putra nya tersebut.


"Mommm"


Siapa sangka Jessica merespon dengan cepat, perempuan itu langsung menatap dirinya dengan tatapan khawatir dan gelisah, detik berikutnya dia berdiri dan melangkah ke belakang mommy Yavuz, membuat terkejut semua orang dan selanjutnya kedua tangan Jessica langsung menyentuh kedua bagian tengkuk wanita tersebut dengan cepat dan dia langsung memijat-mijat tengkuk mommy Yavuz.


"Mereka bilang pijatan begini bisa membantu melegakan tensi darah tinggi, untie"


Perempuan tersebut penuh perhatian, memijat tengkuk wanita paruh baya lebih tersebut dengan cekatan, ekspresi wajah nya tampak khawatir, bahkan dia berkata.


"Ini semua salah ku, untie. Jangan memikirkan semuanya dengan berat, itu akan membuat buruk kesehatan, untie"


Karena wanita tersebut memang tidak memiliki anak perempuan dan dia pikir Jessica Bergerak begitu cekatan, seketika membuat dia terdiam untuk beberapa waktu, kemarahan nya jadi meredam, ingin mengoceh lagi rasanya sedikit malu.


suami nya juga cukup terkejut dengan gerakan Jessica, menatap Perempuan pilihan putra nya untuk beberapa waktu kemudian laki-laki paruh baya tersebut memilih menghela nafas nya kasar, lantas dia menatap kearah Yavuz dengan tatapan rumit.


*Apa kamu tidak bisa membuat orang tua tidak risau, Yav?"


Sebenarnya sejak tadi dia berusaha meredam kemerahan nya, mengingat Jesica sedang hamil maka dia pikir membuat keributan dan kemarahan kurang baik untuk bayi didalam sana.


Yavuz yang mendengar ucapan daddy nya seketika diam, keterkejutan nya atas tindakan Jessica berubah menjadi rasa bersalah yang Cukup tinggi.


"Maafkan aku, dad. aku tidak bermaksud...."


"Jangan menunda lagi pernikahan kalian, daddy akan minta Uncle Bern kalian untuk mencari tanggal baik pernikahan kalian, untie Arabella mu akan membantu mengurus Jessi, dia sangat cekatan dalam mengurus orang hamil bersama untie Asha mu"


Dan setelah berkata begitu daddy Yavuz terlihat mencoba kembali menghela nafas nya panjang, dia pikir ini cukup membuat nya lega, setidaknya melihat karakter perempuan yang akan di nikahi putra nya tidak terlalu buruk dan tidak terlalu mengecewakan, Jessica terlihat tidak banyak bicara dan juga merupakan type perempuan yang cukup lemah lembut dan penuh perhatian, dia pikir Jessica cukup pantas mendampingi Yavuz mereka yang keras kepala, sulit di atur dan sekaku kanebo kering yang tidak di cuci puluhan tahun terhadap kaum Perempuan.


Mendengar ucapan daddy nya membuat Yavuz terlihat diam, ketika laki-laki paruh baya lebih tersebut menyebut nama uncle Bern nya seketika dia merasa kepalanya Seolah-olah berdenyut-denyut dengan kencang.


Ini benar-benar buruk.


Batin nya pelan.