The Betrayal

The Betrayal
Rindu itu berat


"Issi....apa ada yang salah dari ucapan ku?" Yavuz terlihat panik, berusaha bicara sambil menatap makanan yang ada di tangan nya.


Dengan gelagapan laki-laki tersebut mencoba meletakkan makanan nya di sembarang tempat, dia mencoba untuk meraih Jessica, karena bingung harus menyentuh Jessica pada bagian mana, wajah, tangan, bahu atau yang mana nya.


Hingga akhirnya saking bingung nya dia mencoba meraih kedua belah pipi gadis dihadapannya tersebut, dia menahan nya dengan kedua belah telapak tangan nya. Gadis tersebut terus menangis terisak, rasanya seolah-olah ada jutaan kesedihan yang menghantam Jessica, Yavuz pikir separah itukah Jessica menanggapi penolakan nya atas ketidak inginan nya menyentuh makanan kaki 5.


"Please, baiklah...aku akan memakan nya, jangan menangis seperti ini" Dia benar-benar terlihat serba salah, berusaha mengambil makanan yang ada di tangan Jessica, menggenggam telapak tangan Jessica yang masih memegang makanan ditangan nya dan membiarkan makanan tersebut masuk kedalam mulutnya.


Sesungguhnya sangat tersiksa sekali rasanya untuk makan sesuatu yang tidak disukai tapi melihat Jessica seperti itu seketika membuatnya terpaksa untuk memakan makanan tersebut, nyatanya di balik rasa tidak sukanya itu tiba-tiba saja ia pun terdiam ketika dia merasakan satu rasa yang cukup unik di balik mulutnya. Yavuz sejenak membeku saat dia merasakan makanan tersebut masuk ke dalam mulutnya di mana dia merasa seolah-olah makanan itu pecah melimpah ruah dengan rasa unik yang belum pernah dia nikmati sebelumnya.


laki-laki itu memejamkan sejenak bola mata nya, dia pikir itu lezat. tapi seketika laki-laki tersebut membuka bola matanya saat dia ingat jika Jessica masih dalam kondisi menangis terisak namun nyaris tidak mengeluarkan suaranya, laki-laki itu seketika langsung berkata kepada Jessica.


"ini enak sungguh aku saja yang bodoh karena tidak tahu jika rasanya seenak ini" Yavuz bicara dengan cepat mencoba untuk berkata pada Jessica JK sungguh makanan tersebut enak dan begitu lezat.


"coba lihat aku baru saja memakan nya, Issi" lanjut laki-laki tersebut kemudian.


jangan ditanya bagaimana bingungnya dia saja suka tidak mau sama sekali menghentikan kami saat ini dan dia merasa bersalah dia menolak makanan tersebut.


dia hanya mampu melihat Yavuz yang terus berusaha untuk menyentuh kedua belah pipinya dan mengatakan sesuatu yang bisa berguna untuk menghiburnya nyatanya hal tersebut sama sekali tidak mampu meredam kerinduannya yang begitu berat.


"Issi...please jangan menangis seperti ini, benar-benar maafkan aku, semua orang melihat kita dan aku merasa seolah-olah aku baru saja melakukan hal yang jahat kepada istriku sendiri" laki-laki berbicara dan memohon agar Jessica menghentikan tangisan.


pada akhirnya karena gadis tersebut sama sekali tidak mau menghentikan tangisannya membuat Yavuz seketika langsung meraih tubuh gadis tersebut kemudian dia memeluknya dengan cepat.


"Please..., maafkan aku" laki-laki itu bicara setelah dia memeluk Jessica, berbisik di balik telinga gadis tersebut untuk beberapa waktu.


Nyatanya Jessica tidak menjawab ucapan nya, gadis tersebut malah balik memeluknya tanpa mengeluarkan kata-katanya. membiarkan dirinya terus terisak di dalam pelukan Yavuz untuk waktu yang cukup lama seolah-olah dia butuh melepaskan beban perasaannya selama berbulan-bulan ini tentang rahasia hatinya yang paling terdalam.


Mungkin kita memang tidak memiliki hubungan darah, tapi dada itu menjadi tempat ku mengadu, punggung itu menjadi tempat ku terlelap dan pangkuan itu menjadi tempat ku bersandar memanjakan diri dan tangan itu selalu menjadi tempat ku menikmati lezatnya makanan yang masuk melewati seluruh aliran darah di tubuh ku.


aku merindukan mu, mom...dad...sungguh.


Jessica.