
Disisi lain
Mansion utama Yavuz
Kamar utama Yavuz.
Setelah dia mematikan panggilan Vidio dari Tiffany, Jessica langsung bergerak dari posisi duduknya, memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Yavuz sendiri memilih membersihkan dirinya saat pulang dan menyapa Jessica yang tengah mengubungi Tiffany tadi.
Jessica mencoba untuk mencari posisi paling nyaman dalam berbaring nya, dia pikir semakin besar perutnya semakin sulit dia mencari posisi lelap dan tidur, telungkup jelas tidak mungkin, terlentang terlalu sesak, menyamping kadang tidak nyaman, seringkali merasa resah dengan posisi nya sendiri dalam berbaring. Sebenarnya ingin bermanja-manja dengan mommy Ayana tapi apalah daya mereka berada di negara yang berbeda, andaikan diperbolehkan pulang ke Indonesia, dia ingin sekali berada di rumah mommy ayana, memanjakan diri dalam kehamilan.
Jessica mencoba mencari posisi nyaman untuk beberapa waktu, bolak-balik sejak tadi pada akhirnya dia memutuskan menghadap ke arah kanan, memeluk bantal guling dengan rasa berat di bagian perut. Berusaha untuk memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu di balik rasa gerah yang menghantam dirinya. Berkali-kali berusaha memejamkan bola matanya hingga akhirnya tanpa dia sadari tiba-tiba sesuatu terasa bergerak dibelakang nya.
Yavuz naik secara perlahan ke atas kasur.
"Tidak nyaman?."Laki-laki itu tahu-tahu ikut berbaring disampingnya,dalam posisi dibelakangi Jessica.
Laki-laki tersebut melingkarkan tangannya ke perut Jessica, membuat Jessica jelas terkejut, belakangan laki-laki tersebut sering tidur di kamarnya dan memeluknya secara mendadak dari belakang atau depan.
Awalnya Jessica risih tapi saat ingat Yavuz laki-laki tidak normal yang menyukai sesama jenis dan berkata,
"Ini bentuk perhatian seorang teman dan suami."
Dengan polos nya dia percaya dan menurut, membiarkan laki-laki tersebut memeluknya hingga terbiasa atau terkadang memperlakukan nya dengan cara yang sedikit berlebihan.
"Yav apakah boleh memeluk ku berlebihan?,"
"Yav apakah tidak aneh mencium perut ku?,"
"Apakah juga harus cium pipi kiri dan kanan?."
Berbagai macam pertanyaan diberikan Jessica dan Yavuz selalu mampu menjawab nya.
"Tentu saja boleh, bukankah kita sudah jadi suami istri? jangan takut, aku kan bukan laki-laki normal."
Dan tetap saja Jessica itu si gadis polos dan gampang percaya pada siapapun, apapun yang dilakukan Yavuz dia percaya percaya saja.
"Kamu mengejutkan ku." Jessica bicara, membuka bola matanya secara perlahan, dia membiarkan tangan laki-laki tersebut melingkar di perutnya.
Yavuz semakin memajukan tubuhnya, merapatkan diri dan membiarkan wajahnya tenggelam kedalam leher Jessica.
Sejujurnya Jessica terkadang agak meremang diperlakukan seperti itu oleh Yavuz, tapi karena dia selalu ingat Yavuz bukan laki-laki normal jadi gadis tersebut berusaha menepis rasa yang diberikan laki-laki tersebut kepada dirinya.
"Sulit tidur? tidak nyaman hmmm?." Yavuz kembali bertanya, meminta Jessica berbalik kearah dirinya.
"He em, aku benar-benar merasa tidak nyaman." Dan satu-satunya dia bermanja-manja memang pada Yavuz, laki-laki tersebut selalu bisa membuat dia merasa diperhatikan.
Yavuz selalu tahu tentang perasaannya selama hamil.
Dia berbalik, menatap bola mata Yavuz sambil mengerucutkan bibir nya, mulai mengeluh soal ketidaknyamanan nya.
"Kemarilah." Yavuz beranjak dari posisi nya, mencoba mencari beberapa bantal dan meletakkan ke bagian punggung, pinggang dan kaki Jessica.
"Nyaman hmmm?." Yavuz berusaha bertanya kembali.
"Hmmmm ini sedikit nyaman." Jessica terlihat berseri-seri, diperlakukan seperti biasa dengan hangat dan penuh kemanjaan oleh laki-laki tersebut.