The Betrayal

The Betrayal
Manis nya obrolan malam ini


di dalam keterkejutan Tiffany, Dru terus memberikan ciuman pada bibirnya untuk waktu yang cukup lama, ciuman tersebut terasa begitu lembut dan bahkan hangat di mana kedua bibir menyatu di kala Tiffany masih dalam keterkejutannya sedangkan grup terus bergerak menyesap bibir indah dan cerewet baginya tersebut.


dia ingin sekali bicara namun Tiffany tidak memberikannya kesempatan mungkin karena gadis tersebut terlanjur kesal dengan cara yang lama untuk mengungkapkan rasa diri sendiri pada gadis yang ada di dalam pelukan dan ciuman tersebut.


Hingga pada akhirnya saat dia melihat gerakan bibir Tiffany yang terus mengoceh di hadapannya membuat Dru lepas kembali dan langsung menariknya kemudian menciumnya. Anggaplah dia sudah gila namun kali ini Dru pikir dia tidak bisa lagi menahan perasaan yang menggebu terhadap gadis tersebut, dia tidak bisa lagi menahan perasaan yang bergejolak di hati nya ketika salah satu malaikat di atas kepalanya berkata Tiffany adalah kekasih halalnya, sudah tidak ada lagi jarak yang memangkas di antara mereka dan dia jelas tidak sepantasnya takut atau malu untuk menyatakan perasaannya saat ini.


Pada titik akhirnya dia memberanikan diri untuk memberikan kepemilikannya pada Tiffany dalam hitungan detik, ciuman yang diberikan cukup lama begitu lembut dan menghanyutkan, dimana Tiffany bahkan sama sekali tidak menolak apa yang dilakukan Dru terhadap gadis tersebut,


yah...melihat tidak ada respon penolakan atau bahkan dorongan dari tangan Tiffany yang mencoba untuk melepaskan diri, laki-laki tersebut semakin memberanikan dirinya untuk memperdalam ciumannya pada bibir gadis tersebut.


Lama, cukup lama, bibir saling beradu, terasa begitu manis dan hangat, perpaduan lembut yang diberikan Dru pada Tiffany membuat gadis tersebut jelas kehilangan kata-kata nya, tidak berdaya pada sentuhan yang diberikan suaminya.


Bagaimana caranya laki-laki tersebut membawa nya pada sisi kasur mereka, menenggelamkan Tiffany keatas kasur mendominasi berwarna putih, dia berbaring di bawah kungkungan Dru, semua refleks terjadi begitu saja, Seolah-olah alam dan langit malam menyentuh perbuatan Dru yang menenggelamkan istri nya pada ciuman memabukkan hingga tangan tersebut bergerilya menjelajahi kulit halus Tiffany secara perlahan.


Gadis tersebut seketika diam, menikmati sesuatu yang tiba-tiba memicu rasa menenggelamkan diri pada gelombang hasrat yang salah namun sesungguhnya itu sah-sah saja untuk sepasang suami istri melakukan nya.


Namun sayangnya kondisi tidak memungkinkan, bisa Tiffany rasakan dia mulai kehilangan cara bernafas nya, mencoba memukul pelan dada Dru dan mendorong nya dengan lembut.


Dru seketika tersadar, melepas kan ciuman nya pada istrinya, berpikir apa mungkin istri nya tidak menyukai ciuman nya atau setelah ini kemarahan Tiffany akan membuncah.


"Tiff...?"


Tiffany tidak menjawab, mencoba meraup nafasnya banyak, dia pikir dia kehilangan nafasnya tadi.


"Maafkan aku ...."


"Kakak membuat ku tidak bisa bernafas"


Dru berusaha untuk kembali bicara namun Tiffany langsung memotong ucapan nya.


"Aku kehilangan nafas ku untuk beberapa waktu"


Tiffany kembali bicara, menatap Dru untuk beberapa waktu, tidak tahu kenapa tapi wajahnya langsung memerah karena malu, ciuman tiba-tiba yang diberikan Dru membuat tubuh nya meremang dan malu menyeruak kedalam dirinya.


Sejenak Tiffany mencoba menetralisir detak jantung nya, mencoba untuk menahan gemuruh riah didalam dada nya.


Mereka berada dalam posisi terlalu indah, dimana Dru berbaring di atas tubuh nya, menahan lengannya agar tidak menindih istri nya, menatap keindahan yang ada dibawah kungkungan nya tersebut.


"Apa itu pernyataan cinta?"


Tiffany memberanikan diri bicara, membiarkan pertemuan dua pasang mata terus beradu didalam keheningan malam.


"Aku terlalu pasif bukan?"


Dru bertanya, membiarkan diri terus menelisik bola mata indah Tiffany, memposisikan diri agar menyamankan posisi istri nya yang berada tepat dibawah tubuh nya.


Alih-alih menjawab, Tiffany lebih memilih mengangguk kan tubuhnya.


"Aku malu mengatakannya didepan orang-orang, menunggu kesempatan untuk bicara, nama Sean mengganggu diri, membuat aku kehilangan kepercayaan diri, ingin bicara tapi saat berhadapan dengan mu membuat ku mati kutu"


Akhirnya dia bicara soal kegelisahannya dalam beberapa waktu belakangan, dia bukan type laki-laki yang mampu menjadi romantisme, juga terlalu kaku untuk berkata cinta didepan banyak orang, bukan soal harga diri yang terlalu tinggi, hanya saja sedikit tidak memiliki kepercayaan diri dan takut perasaan nya berakhir pada penolakan yang mungkin akan membuat dia patah hati.


mendengar ucapan Dru seketika membuat Tiffany mengembang kan senyuman nya, dia menatap bola mata tersebut yang diliputi kegelisahan dan ketidak percayaan diri saat bicara.


"Karena itu aku harus bergerak lebih aktif untuk memancing bukan?"


Tiffany bertanya pelan, menikmati kedekatan mereka untuk yang pertama kali nya, bicara begitu in.tim dalam posisi yang begitu manis dan panas, salah bergerak sedikit mungkin bisa memancing keinginan lebih dari sekedar mengobrol bersama di atas ranjang kokoh mendominasi berwarna putih tersebut.


"Dan itu berhasil"


Dru bicara pelan, membiarkan tangan kanan nya bergerak merapikan anak rambut Tiffany, membuat gadis tersebut memejamkan sejenak bola mata nya.


Gerakan refleks dimana Tiffany memejamkan bola matanya menbuat Dru gelisah, dia berniat mengalihkan pandangannya karena rasa gelisah yang berbeda, namun pemandangan yang dilihat nya kini semakin membuat dia bertambah gelisah.


Dua hal yang menyembul indah tidak tersembunyi sempurna di balik handuk mandi yang digunakan sang istri seketika membuat dia menelan salivanya.


Kepala Dru seketika berdenyut-denyut tidak menentu.


"Tiff"


Satu suara gelisah terdengar dibalik bibir Dru, membuat Tiffany membuka bola matanya secara perlahan.


"Hmmm?"


Gadis tersebut bee hmmm ria, menatap suaminya untuk beberapa waktu.


"Jika aku memintanya malam ini, apakah itu terlalu dini?"


Dengan keberanian diri dia bertanya, menatap wajah cantik dihadapan nya dimana rambut sang empunya wajah masih menampilkan sisi basah nya, membuat Dru semakin gelisah di buat nya.


Dan pertanyaan Dru membuat Tiffany mengernyit kan Kening nya dibalik rasa keterkejutan nya.