The Betrayal

The Betrayal
Sejak awal tahu dia bukan orang baik


Disisi lain


Kediaman Heidi


Kamar Jenna.


perempuan tersebut terlihat sedikit panik saat ia tahu George telah kembali, dalam keadaan gemetaran dan panik dia langsung bergerak cepat dari lantai bawah menuju ke arah kamarnya yang ada di lantai atas, dia harus memasang wajah penuh dengan kepalsuan terhadap laki-laki tersebut, mencoba menghindari pertanyaan demi pertanyaan dan ucapan dari pada George.


Kini Jenna berada di dalam kamarnya tampak modar-mandir dengan perasaan gelisah sembari mencoba untuk menghubungi seseorang di seberang sana melalui handphonenya.


berkali-kali dia mencoba untuk menghubungi seseorang di ujung sana nyatanya dia sama sekali tidak berhasil untuk menghubunginya dan itu membuatnya menjadi semakin gelisah.


"Come.... please" Jenna berguman sendiri sembari dia masih mencoba untuk menghubungi seseorang di ujung sana di mana dia menggigit kuku tangan kirinya dalam jutaan kegelisahan.


cukup lama dia melakukan hal tersebut hingga pada akhirnya perempuan itu menyerah dengan keadaannya, memilih untuk menghentikan menghubungi seseorang di ujung sana dan dia pikir sepertinya dia harus segera pergi dari tempat tersebut dan mencoba untuk menyusul ibu nya.


Ya dia pikir Rayyana harus mengetahui tentang segalanya, kembalinya George jelas akan menjadi satu sandungan besar untuk mereka saat ini, pada akhirnya Perempuan tersebut bergerak dengan terburu-buru keluar dari kamar nya, dia menyambar kunci mobilnya dengan gerakan cepat.


Tapi.... sejenak gadis tersebut menghentikan langkah kakinya, kembali teringat dengan apa yang diucapkan oleh George pada diri nya.


Linna tahu George kembali sudah cukup lama.


Tunggu dulu, jika Linna tahu sangat aneh mommy nya tidak tahu dan jika mommy nya tahu, bukankah sangat aneh jika mommy nya tidak memberitahu kan kepada nya soal hal tersebut.


"Sebenarnya ada apa dengan semua nya?!" Jenna berusaha terus mengerutkan keningnya, menunda diri melangkah kan kaki nya saat ini untuk bergerak pergi dari sana.


*****


Disisi lain


Masih di kediaman Heidi


kamar utama Heidi.


"Maafkan aku karena tidak bicara pada mu lebih awal saat kembali" Sean bicara pelan, membiarkan jemari-jemari indah adiknya meraba dan menyentuh wajahnya untuk beberapa waktu.


Heidi mencoba mengingat bagaimana bentuk rahang kakak laki-laki yang tersebut dan meyakinkan diri jika laki-laki itu benar-benar adalah Sean nya, laki-laki yang terlalu lama menghilang di dalam hidup dirinya.


"aku pikir jika kemarin kakak benar-benar telah meninggalkanku" ucap gadis tersebut lagi hingga pada akhirnya dia berhasil meraba kelopak mata, hidung dan bibir laki-laki tersebut.


pada akhirnya setelah meraba-raba wajah sang kakak, memastikan apakah itu adalah Sean, bisa Heidi rasakan jika laki-laki tersebut benar-benar merupakan kakaknya, ketika dia menyentuh segala bagian daripada wajah laki-laki tersebut dia meyakinkan diri jika laki-laki itu memang benar-benar kakak laki-lakinya, dia mengingat beberapa bagian rahang wajah laki-laki tersebut dengan baik meskipun mereka berpisah terlalu lama karena sebuah tragedi di masa lalu tapi dia bisa mengenal laki-laki tersebut dengan baik.


"aku bukan sengaja meninggalkanmu pada masa kemarin tapi karena ada satu alasan aku tidak bisa menjabarkan semua nya dengan kata-kata" Sean menjawab cepat atas apa yang dipertanyakan oleh Heidi.


"keadaan yang membuatku tidak bisa untuk menemuimu lebih cepat" Lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.


Heidi terlihat diam, membiarkan jemari-jemari nya menyentuh pipi kakak nya. Sean secara perlahan meraih tangan Heidi, merapatkan jemari-jemari mereka dimana Sean pada akhirnya menggenggam telapak tangan tersebut dan mencium nya lembut.


"Apakah semua terasa begitu sulit?" Sean bertanya pelan, dia memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu, menikmati aroma lembut dari telapak tangan gadis tersebut.


Mendengar pertanyaan Sean, Heidi terlihat diam untuk beberapa waktu, dia tampak menghela pelan nafasnya.


"Aku melewati cukup masa berat pada hari kemarin, bahkan aku pikir apakah aku akan sampai pada titik ini pada masa itu" Akhirnya Heidi menjawab pelan, membiarkan telapak tangan digenggam erat Sean.


"Daddy lebih memilih Rayyana dan itu membuat ku kecewa" Ucap Heidi perlahan.


"Kamu tahu kak?" Pada akhirnya Heidi bertanya, membiarkan tatapan nya lurus ke arah Sean, meskipun dia tidak benar-benar bisa melihat laki-laki tersebut tapi dia bisa merasakan keberadaan Laki-laki dihadapan nya tersebut.


"Aku merasa cukup kesulitan berada diantara daddy dan Rayyana, sejak awal aku sudah berkata pada mommy, perempuan pilihan nya bukan orang yang baik" Ucap Heidi pelan.


"nyatanya saat aku mengatakan hal seperti itu, mommy tidak mempercayai nya, dia bilang Rayyana orang yang baik" Dan Heidi menghentikan ucapannya, dia memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu.


"Dan pada malam itu...." Gadis tersebut tidak mampu melanjutkan ucapannya, membuat Sean langsung mengernyit kan dahi nya.


"Apa yang terjadi pada malam itu?" Laki-laki tersebut bertanya sambil menatap kearah gadis dihadapannya tersebut.