
Disisi lain
Beberapa hari sebelumnya
Malam kejadian tragedi kecelakaan tuan Jourdan
Jepang.
Disepanjang jalanan berliku di salah satu puncak pegunungan jepang, terlihat barisan mobil polisi yang terparkir tidak beraturan di sepanjang jalan, tragedi kecelakaan yang baru saja menimpa seorang pengusaha cukup ternama yang sering hilir mudik prancis-jepang mengejutkan banyak pihak.
Tim forensik di tugaskan turun untuk mengecek langsung dan membawa tubuh tuan Jourdan beberapa menit yang lalu untuk turun ke kaki gunung, tim investigasi ikut turun untuk melakukan penyelidikan langsung kasus kecelakaan tersebut.
Siara sirine mobil polisi dan ambulans terdengar saling sahut menyahut memecah keadaan dan keheningan malam, ditengah cuaca yang jelas terlihat tidak baik-baik saja dimana sisa hujan yang terjadi semalaman tersebut masih terus membasahi jalanan aspal yang ada di puncak bukit tersebut.
Para pihak kepolisian saling bicara antara satu dengan yang lainnya, ada yang bergerak dengan cepat memperhatikan beberapa titik lokasi kejadian di mana mobil milik tuan Jourdan dan juga mobil tronton besar dinyatakan saling menghantam antara satu dengan yang lainnya, gambar garis Line polisi terlihat ada di sepanjang jalan tersebut juga bahkan ikon garis kapur tempat dimana tuan Jourdan berada terlihat digambarkan dengan jelas di atas jalanan beraspal.
Suara sahut menyahut dari alat walkie talkie dari pihak kepolisian di mana mereka tampak berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya entah dari arah mana saja. Dan dua polisi terlihat bergerak masuk ke garis Line putih sambil membiarkan tubuh mereka ditopang oleh kedua kaki masing-masing.
"Ada sesuatu yang aneh?" salah satu bertanya tanpa mengeluarkan ekspresi wajah serius nya.
"Aku tidak yakin ini kecelakaan biasa, tidakkah kamu melihat seolah sejak awal tempat ini memang telah dirancang dengan khusus untuk menyambut seseorang?." salah satunya bertanya sembari melirik ke arah temannya tersebut.
"cukup terlalu dingin untuk menyimpulkan, takutnya ini semua kesalahan." jawab temannya lagi dengan cepat sembari mereka mencoba untuk menatap pada bagian-bagian garis line dan juga beberapa sisa serpihan pecahan kaca mobil dan beberapa body mobil yang berhamburan dijalanan.
Di ujung sana seorang polisi bertubuh kekar, besar dan tinggi dengan kumis yang menghiasi bagian atas bibirnya terlihat berjalan dengan gaya yang angkuh di mana dia mencoba untuk bicara dengan polisi yang lainnya.
"perhatikan dengan detail semuanya, terakhir kali dia mencoba untuk menghubungi laki-laki itu di sana, seakan-akan dia sedang membuat janji temu dengan seseorang malam tadi" laki-laki itu bicara dengan gaya yang pongah dan angkuh, menatap kearah bawahan nya dengan cepat.
Dia tanpa berkacak pinggang sembari mencoba untuk memperhatikan bagian sekitarnya beberapa waktu, di detik berikutnya polisi tersebut menatap pada dua polisi yang sejak tadi berjongkok dan bicara bersama, tanpa rasa malu dan canggung dia bergerak mendekati kedua orang itu sembari menaikkan ujung alisnya.
"aku cukup terkejut kau juga ada di sini" mana ada bicaranya terdengar sedikit mengejek karena salah satu laki-laki yang ada di hadapannya tersebut di mana kedua orang itu langsung bangun dari posisi duduknya.
"aku pikir kasus ini aku akan mengurusnya dan kau tidak perlu ikut campur di dalamnya" laki-laki berkomisikan lagi dengan gaya yang cukup arogansi.
Laki-laki di hadapannya sama sekali tidak menjawab hanya menatap laki-laki berkumis itu untuk beberapa waktu.
"Hei kau..." dengan nada suara yang sedikit tinggi laki-laki berkomis tersebut menggerakkan jemari tangannya dan memanggil salah satu polisi yang ada di sisi kanannya.
"Buat surat penangkapan pada Gustave Dru De Pearl putra Tristan, aku yakin dia terlibat dalam perencanaan pembunuhan tuan Jourdan" dan seperti biasa dengan penuh percaya diri laki-laki tersebut bicara seperti itu ke arah salah satu anak buahnya.
hal tersebut jelas membuat kedua laki-laki yang ada di hadapannya itu saling menoleh antara satu dengan yang lainnya dengan cepat.
"aku pikir kamu terlalu cepat menyimpulkan tempat menyelidiki sinyal terlebih dahulu" laki-laki di hadapannya terserah bicara dengan cepat karena tidak setuju dengan apa yang dipikirkan oleh laki-laki berkumis itu.
dan ketika dia bicara seperti itu polisi berkumis tersebut melangkahkan kakinya secara perlahan mendekati laki-laki yang ada di hadapannya itu dengan tatapan tidak suka kemudian dia berkata.
"ini adalah wilayah kekuasaan ku dan apapun keputusan ku itu bukan urusan mu, Charlie " Ucap polisi tersebut dengan nada datar dan dinginnya