The Betrayal

The Betrayal
Sedikit lelah


Penthouse suit presiden Wilson hotel


Hampir pagi.


Tiffany menggeliat pelan dari tidur nya untuk beberapa waktu, tiba-tiba dia merasa sedikit dingin pada bagian ujung kaki nya, mencoba meraba-raba pada bagian sisi kiri dan kanan nya dan mencoba untuk menarik sebuah selimut guna menutupi rasa dingin di bagian kaki nya. Antara masih mengantuk dan tidak dia merasa kan satu tubuh terasa ada tepat dihadapan nya.


Hal tersebut sontak membuat Tiffany langsung mengernyitkan dahi nya, dia membuka bola mata nya secara perlahan dan mencoba untuk memahami soal situasi saat ini, dan seketika bola mata perempuan tersebut membulat saat dia menyadari jika Dru berbaring samping nya sembari menatap dalam wajahnya.


"Kak?"


Gadis tersebut terlihat malu, wajah nya langsung memerah karena malu, tidak sadar jika ada suami nya yang tidur di samping nya.


"Oh ya Tuhan, apakah kita sudah sampai?"


Dan Tiffany tersentak, baru menyadari dimana mereka kini, bukan di pesawat terbang, bukan di mansion mereka tapi di tempat asing yang belum pernah dia tempati sebelum nya.


"Sangat lelah kah? sampai tidak sadar jika kita sudah tiba"


Laki-laki tersebut bertanya, menyentuh lembut wajah Tiffany secara perlahan.


"Hmmm"


Tiffany tidak menjawab, hanya ber hmmm ria. perempuan tersebut pada akhirnya secara perlahan masuk ke dalam pelukan sang suami.


"cukup lelah karena beberapa hari kurang tidur dan lagi di perjalanan cukup menguras tenaga meskipun sebenarnya kita tidak bergerak ke sana kemari"


Ucap Tiffani pelan, dia berusaha untuk menyamankan dirinya ke dalam pelukan Dru.


"belakangan juga sering merasa lelah, apalagi dalam Minggu ini, aku sering merasa perut ku suka kram tiba-tiba"


perempuan itu berusaha untuk menjelaskan jika tubuhnya sepertinya kurang baik dan dia sering merasa kelelahan belakangan ini, belum lagi dia sulit tidur karena memikirkan soal Heidi dan Dru pada kejadian di masa lalu, meminta seseorang menyelidiki soal semua nya sambil menunggu informasi dari seseorang di seberang sana juga cukup menyita pikiran nya.


Mendengar keluhan istri nya membuat Dru mengernyit kan dahi nya.


"kamu tidak pernah menceritakan nya pada ku sebelum nya?"


dia bertanya sembari memperhatikan Tiffany yang menggulung dirinya kedalam pelukan Dru.


Alih-alih menjawab pertanyaan suami nya, perempuan itu berkata.


"Aku dingin, boleh berikan aku selimut kak?"


Dia bertanya sambil mendongakkan kepalanya, membiarkan netra mereka bertemu antara satu dengan yang lainnya.


Dru yang mendengar permintaan dari sang istri buru-buru langsung menarik selimut dengan cepat, menutupi tubuh istrinya dengan selimut tebal mendominasi berwarna putih di dalam kamar tersebut, dia memeluk Tiffany dengan erat sembari mengeluarkan ekskresi khawatirnya.


"apa sebaiknya kita memeriksakan diri ke dokter? ada dokter pribadi di sini yang bisa dipanggil kapanpun kita mau, aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada kesehatanmu hmmm"


"Itu bukan masalah, mungkin aku memang hanya lelah saja, dan mungkin akan kedatangan tamu bulanan jadi seperti itu"


Tiffany menjawab pelan, dia mencoba untuk berpikir, dia menebak mungkin benar karena lelah dan efek kurang tidur membuat dia seperti itu, dan lagi biasanya saat akan kedatangan tamu bulanan perut menjadi tidak nyaman dan temperamental kadang naik turun, meskipun dia agak bingung ini tidak seperti biasanya, dia hanya merasa perut nya beberapa kali terasa kram dan saat terjaga biasa nya dia bisa pergi ke toilet berkali-kali, sejujurnya itu benar-benar tidak membuat diri nya nyaman.


Tapi Tiffany tidak mau memikirkan nya, dia pikir mungkin karena cuaca dan entahlah beberapa faktor yang mungkin membuat kesehatan nya menurun belakangan.


"tapi itu membuatku khawatir, sebaiknya kita pastikan apa yang akan dikatakan dokter tentang kesehatanmu sayang"


Dru mengeluarkan seluruh kecemasan nya, dia yang biasa nya cuek dan sedikit bicara kini jadi agak cerewet, entahlah dia hanya merasa sangat khawatir saja.


Mendengar apa yang di ucapkan suami nya membuat Tiffany sedikit tersipu malu, kata sayang benar-benar terdengar manis,dan perhatian Dru menbuat dia merasa melayang-layang di udara. Demi apapun rasanya sangat istimewa Ketika seseorang yang begitu penting dan spesial memperlakukan kita dengan penuh perhatian dan rasa cemas.


tidak pernah dia bayangkan jika laki-laki dingin dan juga masa bodoh tersebut bisa bersifat seperti itu, penuh dengan rasa cemas dan juga kekhawatiran. Hal itu membuat Tiffany merasa berbunga-bunga.


"biarkan kita menghabiskan bulan madu dulu besok, bukankah ingin mengunjungi beberapa tempat? setelah kita selesai mengunjungi beberapa tempat dan siap untuk memutar ke Jerman, Mari mengecek kesehatanku di sana saja"


pada akhirnya Tiffany memberikan saran kepada sang suami, dia mendongakkan kepalanya dan mencoba untuk menatap netra suaminya untuk beberapa waktu, berharap apa yang dia inginkan laki-laki itu mau mendengarkannya dan mengabulkannya.


dan seperti apa yang diharapkan, Dru menganggukan kepalanya secara perlahan.


"yakin tubuhmu baik-baik saja? aku takut kamu kesulitan melakukan liburan dan berkeliling karena kondisi kamu yang mungkin tidak baik-baik saja"


laki-laki itu bicara sembari terus menampilkan kekhawatiran luar biasanya.


dan Tiffany hanya mengembangkan senyumannya.


"jangan khawatirkan soal apapun, percayalah aku baik-baik saja kak"


pada akhirnya Dru hanya menganggukan kepalanya, kemudian secara perlahan dia membenahi posisi Tiffany membiarkan diri mereka saling mensejajarkan diri dan menetap antara satu dengan yang lainnya.


"kembalilah beristirahat, ini masih terlalu gelap"


ucap laki-laki tersebut sembari membiarkan sembari-jemari tangan kanannya mengelus lembut pipi istrinya.


"Hmmm berikan aku satu ciuman yang manis"


Tiffany mengangguk pelan kemudian dia meminta sebuah ciuman dari sang suami.


Dru langsung mengembangkan senyumannya dan dia pikir semakin kemari semakin Tiffany menampilkan sisi manja nya.


Alih-alih menjawab Dru pada akhirnya secara perlahan memajukan wajahnya kemudian dia langsung menyatukan bibir mereka dengan gerakan yang begitu lembut, membuat Tiffany secara perlahan langsung menutup bola matanya, membiarkan suaminya memberikan sebuah ciuman manis untuk dirinya secara perlahan.


suara deru ombak di luar penthouse yang mereka tempati yang langsung menghadap ke arah pantai membuat suasana malam menjelang pagi itu terasa begitu syahdu, suara angin yang bertiup samar-samar terdengar dari jendela kaca di sisi kanan mereka, lagu remang-remang membuat suasana kamar tersebut tiba-tiba menjadi hangat diiringi dengan ciuman yang awalnya begitu manis dan lembut berubah menjadi sedikit menggebu dan panas.