
Apa kakak mencintai ku?!.
Pertanyaan tersebut jelas membuat semua orang menoleh kearah Tiffany, cukup terkejut saat gadis tersebut melesat kan sebuah tanya sakral yang kemungkinan tidak tahu apakah akan dijawab oleh Dru atau tidak. Karena sejauh ini tidak ada seorang gadis atau perempuan pun yang dimana mereka jelas pernah dan sangat mencintai Dru tapi tidak ada yang berani bertanya tentang perasaan Dru apakah dia pernah mencintai gadis atau perempuan tersebut balik.
Bukan rahasia umum lagi banyak gadis atau perempuan yang mengejar laki-laki tersebut, bahkan ada yang tidak malu meminta kepada orang tua mereka untuk melamar Dru secara langsung kepada daddy Tristan, alasannya jelas sudah sangat pasaran sekali untuk mengikat tali persahabatan agar semakin erat menjadi kekeluargaan dan memperluas serta memperkokoh ikatan bisnis dalam ruang lingkup perusahaan agar berkembang menjadi semakin pesat dan maju.
Namun daddy Tristan jelas bukan laki-laki kolot yang mau menjadi jodohkan putra dan putri nya dengan seenak perutnya tanpa tahu bagaimana perasaan anak-anak nya. Laki-laki yang dikenal dengan julukan Black pearl demon tua tersebut tidak pernah berpikir ingin menjodohkan anak-anak nya tanpa berbekal cinta, dia takut pernikahan anak-anak menjadi gagal, menyerahkan sepenuhnya jodoh pada anak-anak sendiri berdasarkan pilihan mereka.
Dan pernikahan Dru .....
Semua orang terlihat diam, masih menatap kearah Tiffany dengan tatapan yang sedikit rumit, tidak ada yang berani menertawakan pertanyaan gadis tersebut, bagi mereka tentu saja wajar seorang gadis mempertanyakan hati seorang laki-laki yang menikahi mereka apalagi dalam jalur....
"Dru?"
Dan Xia langsung menyentuh lembut bahu adik laki-laki nya tersebut.
Dru terlihat sedikit tersentak, dia dalam beberapa waktu sebelumnya berpikir dengan keras akan jawaban yang harus dia berikan pada Tiffany.
Cukup terkejut atas pertanyaan istri kecil kecil nya, karena dia pikir mungkin Tiffany akan memberikan pertanyaan berbeda dalam permainan mereka. Siapa sangka pertanyaan pertama yang diberikan sangat menekan nya.
Dia gadis yang pintar.
Itu batin Dru.
Cinta kah dia pada Tiffany?.
Jawaban nya terlalu mahal, tidak pernah ada yang tahu bagaimana perasaan sesungguhnya dia terhadap gadis tersebut hingga hari ini kecuali....
dia menoleh kearah Xia untuk beberapa waktu.
Mommy dan Xia yang paling tahu hati nya.
"Kenapa kamu mengalah pada Sean? teman kurang ajar mu mengkhianati kamu Dru, katakan Hades itu kamu bukan Sean, dia laki-laki bajingan"
Kakak perempuan nya terlihat begitu marah pada masa itu, ingin sekali menghajar Sean saat tahu laki-laki tersebut mengkhianati adik laki-laki nya, menyamar menjadi sahabat pena Tiffany dan berpura-pura menjadi Hades adik nya.
"Dia yang memohon pada ku, dia bilang akan membahagiakan Tiffany"
Dru tidak menoleh kearah Xia, hanya menjawab sambil fokus pada laptop nya, dia harus menyelesaikan skripsi nya kemudian pindah ke negara berbeda untuk mulai fokus pada perusahaan dan melupakan Cinta nya.
"Dan kau percaya ucapan nya?"
"Bukankah kakak sendiri yang berkata, terkadang kita harus merelakan seseorang yang tidak bisa kita miliki meskipun sulit tapi itu hal yang terbaik untuk diri kita bukan?"
Dru bertanya sambil menatap dalam bola mata kakak nya, membiarkan gadis dihadapannya tersebut mengingat sendiri pesan yang pernah diberikan nya pada dirinya.
"Ada saatnya kita merelakan seseorang yang kita sayang saat kita tahu kalau dia lebih bahagia bersama orang lain, dan Tiffany bahagia bersama Sean itu cukup membuat ku senang"
"Dan kau percaya Tiffany bahagia?"
Xia jelas keberatan dengan ucapan adik nya.
"Dia mengatakan nya sendiri jika dia bahagia bersama Sean dibalik itu Hades nya atau bukan"
"Dru..."
"Dru..."
Dan lagi suara kakak nya membuyarkan ingatan Dru.
"Tiffany menunggu jawaban kamu"
Xia kembali bicara, menyadarkan Dru dalam pemikiran nya.
Laki-laki tersebut kembali menatap kearah Tiffany, menelisik bola mata untuk beberapa waktu.
Tiffany jelas menunggu Jawaban Laki-laki tersebut dengan detak jantung yang tidak baik-baik saja.
"Boleh aku menjawab nya di akhir permainan?"
Laki-laki tersebut bertanya pada istrinya secara perlahan.
"Biar orang-orang menyelesaikan semua pertanyaan mereka baru aku menjawab nya di akhir permainan"
Dan laki-laki tersebut melesatkan kata yang membuat Tiffany mengerutkan keningnya.
"Ya?"
Gadis tersebut bertanya bingung sambil mengerutkan keningnya.