
Masih kembali ke masa lalu
Mansion Utama Hillatop
kamar Jessica
Jakarta.
Gadis tersebut menggeliat didalam tidur nya saat dia merasa seseorang sepertinya menarik kakinya, Jessica sebenarnya cukup mengantuk tapi dia berusaha untuk membuka bola matanya dengan paksa saat sadar siapa yang mencoba membangunkan dirinya.
"Come.. Jessi bangun.....kamu tahu kita harus mencari gaun untuk pesta ulang tahun Noura besok" Itu suara Tiffany, gadis tersebut terlihat begitu bersemangat, dia mencoba menarik kaki Jessica kemudian menggelitik telapak kaki Jessica.
Gadis tersebut tertawa terkekeh, berusaha menarik kaki nya dan berkata.
"Tiff itu geli... berhenti" Dia masih tertawa, kali ini terdengar begitu lepas.
"Jangan suka bangun kesiangan, kamu tidak akan melihat laki-laki tampan yang sering lewat di jalanan belakang untuk berolahraga pagi, kamu seharusnya bangun lebih awal untuk mengintip otot-otot indah mereka" Tiffany mulai berkicau, dia menunggu Jessica bangun dari posisi.
"Aku tidak tertarik dengan dada dan otot kotak-kotak, aku lebih suka tidur, makan makanan pedas dan berkhayal punya suami seperti kak Khan" Bisa-bisa nya Jessica menjawab seperti itu, dia mengembangkan senyuman nya, berusaha kembali menenggelamkan dirinya ke alam mimpi nya.
"Lupakan saja, laki-laki seperti kak Khan mengerikan" Protes Tiffany cepat.
Mendengar protesan Tiffany, seketika Jessica membuka bola matanya.
"Aku pikir kak Dru tidak" Dia ingat laki-laki tersebut, yang sifatnya tidak kalah datar dengan Khan.
Mendengar Jessica menyebutkan nama Dru, seketika wajah Tiffany memerah.
"Apa-apaan" dia memunyungkan bibirnya, meraih bantal guling dan memukul nya ke arah Jessica.
"Akhhhhh sakit" Dia meringis, nyata pura-pura, bangun dari tidur nya kemudian menatap kearah Tiffany.
"Dia tampan" Ucap Jessica lagi kemudian, dia melirik ke arah Tiffany, tapi sayangnya gadis tersebut pura-pura tidak melihatnya.
"Sayang belum punya kekasih" lanjut Jessica lagi.
"Tidak minta daddy menjodohkan mu dengan nya? aku pikir itu bagus" Tiffany bicara kemudian dia langsung beringsut dari posisi nya , memilih bergerak menuju ke meja hias.
Mendengar ucapan Tiffany, membuat Jessica sejenak diam, dia menatap punggung Tiffany pelan.
"Kamu masih menyukai nya?" Pada akhirnya Jessica bertanya, mencoba mengintip ekspresi Tiffany dari arah balik kaca.
Alih-alih menjawab, Tiffany malah tertawa kecil.
"Pertanyaan mu aneh, sayang aku akan menikah, mana mungkin menyukai orang lain, itu hanya cinta masa kecil dan masa remaja, semua orang memiliki nya" Tiffany bicara kemudian mencoba meraih sisir di hadapannya, gadis tersebut menyisir rambut panjang nya secara perlahan.
"Tapi ada sebagian orang menyimpan cinta mereka didalam hati mereka, kata nya cinta pertama sulit dilupakan bukan?" Jessica kembali bertanya.
"Aku tidak, saat ini bagi ku Sean segala-galanya, dia laki-laki paling tepat yang menjadi pendamping hidup ku, suami ku, ayah dari anak-anak ku" Dan Tiffany menjawab dengan cepat.
"Berhentilah bicara yang tidak-tidak, sekarang pergilah mandi dan bersiap-siap lah, aku ingin mengenalkan kamu dengan seseorang, mommy juga seperti nya mau ikut, kata nya ingin bertemu untie Hayat juga nanti" Tiffany melirik Jessica kearah kaca, menunggu gadis tersebut beranjak dari posisinya.
Jessica terlihat diam untuk beberapa waktu, menatap Tiffany yang kini kembali sibuk mengikat rambut nya.
"Tiff..." Jessica bicara perlahan.
"Hmmm?"
"Seandainya, seandainya Sean tidak benar-benar mencintai kamu bagaimana?" Tanya Jessica kemudian.
Mendengar pertanyaan Jessica, seketika membuat Tiffany langsung mengerutkan keningnya.
"Jika dia mengkhianati kamu bagaimana?" Ulang Jessica lagi.
"Ya?" Tanya Tiffany sedikit terkejut.
******
"Kamu yakin Ingin mengatakan nya pada Tiffany?" Gadis dihadapannya bertanya sambil menggerutu keningnya, menatap kearah Jessica untuk beberapa waktu.
Jessica terlihat meremas telapak tangan nya.
"Ini bukan keputusan yang baik, mungkin pada akhirnya kita akan dianggap iri atau ingin menghancurkan kebahagiaan orang lain, Jess. Terkadang kita belajar hati-hati karena harus tahu diri pada posisi kita" Noura bicara sambil mengehela nafasnya berat.
"Yakin juga Tiffany akan lebih percaya pada kita dari pada Sean? aku pikir tidak, aku tidak mau mengambil resiko untuk bilang pada Tiffany soal itu" Dan Noura terlihat memejamkan sejenak bola mata nya.
"Lalu apa yang harus dilakukan?" Tanya Jessica cemas.
"Satu-satunya cara awasi dia Jess, jangan sampai menyakiti Tiffany, buang kemungkinan buruk dan alihkan semua nya, kita hanya butuh mata jeli untuk menghindar hal buruk terjadi"
Saat Noura berkata begitu Jessica menggelengkan kepalanya.
"dan ketika kesempatan itu hilang dia akan mencari kesempatan lain lagi hingga kesempatan itu terjadi" dia bicara pada gadis di hadapannya tersebut berkata jika, Sean mungkin akan mencoba lagi jika gagal melakukan nya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" Tanya Noura sambil mengernyitkan dahi nya.
"Aku akan mengambil resiko untuk menghentikan semuanya" Ucap Jessica pelan.
"Apa?" Noura jelas saja terkejut.
"Mungkin aku akan di usir dari rumah, aku anggap ini sebagai balas jasa atas kebaikan keluarga Hillatop pada ku"
"Kau gila, Jess"
******
Pesta perayaan ulang tahun Noura
Sahabat Tiffany atau Jessica
Hotel xxxxxxx.
Bola mata Jessica terlihat menatap gelisah minuman yang ada di atas meja yang diberikan oleh Sean kepada Tiffany, ingatan sial pembicaraan Sean dan seorang.
"Seberapa berat obat nya bekerja?"
"Cukup membuat seseorang tidak sadar ketika seluruh tubuh nya di jamah dan di perlakukan tidak adil oleh seseorang lainnya"
"lebih parah dari obat bius?!."
"yeah kau bisa menebak nya"
"Kau yakin ingin melakukan hal tersebut?"
"tentu saja, apa kau melihatku sedang melakukan sesuatu dengan cara bercanda?"
"Tiffany tidak tahu apa-apa"
Barisan demi barisan percakapan tersebut yang tidak sengaja dia dengar kemarin mengganggu dirinya, membuat Jessica tidak tenang. Dia pikir apakah Sean tidak benar-benar mencintai Tiffany? dendam apa yang dimiliki laki-laki tersebut dimasa lalu?!.
"Sean tidak akan pernah mengkhianati ku Jess, kamu mengenal nya sejak kita di sekolah hingga ke masa kuliah" Dia ingat jawaban Tiffany atas pertanyaan nya kemarin.
"Meskipun sifat nya ada yang sedikit berubah ketimbang kita SMP dan SMA dulu, tapi aku yakin Sean tidak akan mampu mengkhianati aku, aku tahu betul bagaimana dia"
Jessica menghela panjang nafasnya, pada akhirnya dia sadar, seseorang yang sudah tergila-gila karena cinta pasti akan membutakan mata nya dan menulikan telinga nya soal apapun di sekitar nya.
Gadis tersebut kini menatap kearah Sean yang memilih duduk disamping Tiffany, sejak awal seolah-olah laki-laki tersebut memang sengaja ingin Tiffany meminum minuman yang dia letakkan di atas meja. jangan ditanya bagaimana perasaan Jessica saat ini, dia terus memantau Sean dan Tiffany karena dia takut saudara nya tersebut menyentuh minuman itu dan meminum nya.
sejenak Jessica berusaha untuk mencari beberapa penjuru dan ingin tahu apakah ada orang-orang Sean di antara mereka, dia menaruh kecurigaan besar pada orang-orang disekitar nya. Gadis tersebut bergerak perlahan dari posisi nya, mencoba mendekati Sean dan Tiffany sembari meraih segelas minuman dingin bersoda di sisi kanan nya.
Jika aku menukar mereka, apakah ini akan menyulitkan diri ku?!.
Dan Jessica benar-benar menukar minuman mereka secara perlahan.