
Disisi lain
Kediaman utama Heidi
kamar utama Heidi.
Suara detak jarum jam terdengar mengalun lembut di balik kamar milik Heidi, setelah seharian memilih untuk tidak bicara sama sekali bahkan mengabaikan semua orang pada akhirnya gadis tersebut memilih untuk meng' istirahat kan dirinya.
tadinya dia cukup senang ketika Dru datang mengunjungi dirinya, dia tidak berharap banyak karena cukup tahu diri, dia bukan gadis sempurna melainkan gadis cacat yang bahkan tidak bisa melihat apalagi berjalan.
dia tahu diri meksipun Dru merupakan sosok laki-laki yang membunuh ibu dan adik nya, tapi dia tidak pernah meminta pertanggungjawaban secara langsung kepada laki-laki tersebut agar menikahi nya, siapa mau menerima gadis cacat dan menjijikkan seperti dia? dia hanya parasit yang selalu menyusahkan orang lain di sekitar nya.
Dia tahu diri bahkan berkali-kali bertanya pada tuhan kenapa tidak mencabut nyawa nya dengan segera, meskipun putus asa berkali-kali tapi masih mencoba menekan akal sehat nya untuk tidak membunuh diri nya sendiri karena ingat pada dosa.
Tapi setidaknya bisakah Dru sedikit saja menjaga perasaan nya? dia bukan wonder woman yang setelah kehidupan nya dihancurkan, kaki di lumpuh kan dan mata dibutakan, apakah dia juga harus di khianati dan di bohongi? àpakah laki-laki itu tidak bisa sedikit saja menjaga perasaan nya?!.
Dia bukan gadis hebat seperti diluaran sana, yang memaki diri nya seolah-olah memanfaatkan Dru karena cacat nya dia.
Katakan pada nya, apakah orang-orang diluaran sana akan tertawa dan bahagia merasa hebat ketika seseorang mengeluarkan umpatan yang sama jika mereka berada di posisi yang sama dengan dirinya?!.
Seolah-olah dia tidak tahu malu bergantung pada laki-laki tersebut selama ini.
Ingin sekali dia berteriak menggunakan pengeras suara, SIAPA YANG SALAH, DIA ATAU DRU? SIAPA YANG LEBIH TERLUKA? DIA ATAU DRU? SIAPA YANG LEBIH DIRUGIKAN? DIA ATAU DRU?!.
setidaknya Dru masih bisa menikmati kebebasan nya, menatap warna dunia dan melangkah dengan angkuh dengan kedua belah kaki nya.
Tapi dia?!.
Heidi jijik dan marah pada orang-orang yang memaki dan mengumpat nya, berharap mereka bertukar posisi barang sehari saja, dan membiarkan mereka menjadi diri nya dan merasakan bagaimana perasaan nya.
Setelah seharian menangis dalam diam, gadis tersebut memilih membaringkan tubuhnya dan memejamkan bola matanya, mencoba membuang semua tekanan yang menghantam dirinya. di mana hingga hari ini tidak pernah ada yang mengerti perasaannya, bahkan tidak ayahnya sendiri atau orang-orang yang ada di sekitarnya.
sisa isak tangis masih terdengar di balik bibirnya, berkali-kali dia mencoba menekan dadanya atau memukul dadanya sembari berkata jika semua akan baik-baik saja.
seperti janji dari untie Lana Lan, dia harus bersabar dalam pengharapan dengan penuh perjuangan dan air mata di mana Wanita tersebut berkata mereka sedang mencari apa yang dia harapkan.
"Untie berjanji akan membuat mu bisa melihat lagi"
itu yang diucapkan oleh wanita tersebut berkali-kali, meskipun beberapa kali uji coba terjadi dan beberapa pendonor pernah datang, tapi sayangnya tidak pernah ada satupun yang memiliki kecocokan dengan dirinya.
dia sudah nyaris putus asa, kadang berpikir ingin mati saja, tapi ada seseorang yang berusaha menguatkan dan berkata semua akan baik-baik saja.
awalnya masih terlihat beberapa gerakan yang terjadi di mana gadis itu mungkin belum tertidur dengan pulas, hingga pada akhirnya setelah beberapa waktu berlalu, Heidi benar-benar mulai tenggelam di dalam tidurnya dimana tidak lagi terdapat gerakan ke kiri dan ke kanan di atas kasur berdominasi berwarna putih tersebut.
Dan pada akhirnya gadis itu benar-benar terlelap dengan sempurna, keheningan terjadi di dalam kamar tersebut.
Entah berapa lama waktu berlalu hingga pada akhirnya tiba-tiba dari arah pintu depan terdengar sebuah gerakan di mana seseorang membuka pintu secara perlahan, terkesan begitu hati-hati seolah-olah tahu jika penghuni di kamar tersebut telah terlelap di dalam tidurnya.
begitu pintu terbuka bisa dilihat sosok seseorang bergerak melangkah masuk ke dalam kamar tersebut dengan gerakan hati-hati dan sosok itu terlihat memperhatikan di sekitarnya untuk beberapa waktu.
Sosok tersebut masuk ke dalam kamar itu secara perlahan, memastikan jika langkah kakinya sama sekali tidak mengganggu tidur Heidi,dimana bisa dia lihat Heidi telah tertidur pulas di atas kasur berdominasi berwarna putih tersebut.
laki-laki itu bergerak mendekati Heidi sembari bola matanya terus menatap ke arah gadis tersebut. hingga pada akhirnya dia sampai tepat di samping sisi kanan Heidi yang jelas telah tertidur pulas, dan hal itu sontak membuat sosok tersebut langsung memilih untuk duduk tepat di sisi kanan Heidi.
Laki-laki tersebut menatap Heidi yang telah terlelap Indah, memperhatikan wajah cantik gadis tersebut dengan seksama untuk beberapa waktu, dia terus menelisik wajah cantik Heidi sembari laki-laki tersebut tengah memikirkan sesuatu.
hingga pada akhirnya secara perlahan laki-laki itu menyentuh lembut wajah Heidi dengan tangan kanan, dia mengelus lembut pipi gadis itu.
entah apa yang dipikirkan oleh sosok tersebut kini, yang jelas sepertinya laki-laki tersebut tengah memikirkan soal sesuatu sembari dia terus mengelus lembur pipi Heidi.
"Semua pasti pasti baik-baik saja hmmm"
Dia berguman, membiarkan jemari-jemari nya kini berpindah ke anak rambut Heidi, merapikannya secara perlahan.
dan tiba-tiba dalam hitungan detik laki-laki itu mencium perlahan kening Heidi, sembari dia menggumamkan sesuatu yang nyaris tidak terdengar. setelah itu sosok tersebut langsung melepaskan ciuman nya, seulas senyuman mengembang di balik bibir laki-laki tersebut.
lantas dalam hitungan beberapa detik, dia beranjak dari posisinya dan bergerak meninggalkan Heidi yang jelas telah terlelap di dalam tidurnya sejak tadi.
sosok itu bergerak perlahan meninggalkan tempat tersebut, begitu hati-hati saat mengunci pintu kamarnya, hingga akhirnya dia menutup pintu itu tersebut secara Perlahan.