The Betrayal

The Betrayal
Rayyana dan dendamnya


Begitu Rayyana masuk kedalam mobilnya, wanita tersebut terlihat mengembangkan senyuman terbaiknya. Dia sangat bahagia saat ini atas seluruh pencapaian yang dia miliki, dia benar-benar berhasil membuat rusak generasi Xavier.


"Bukankah ini cukup setimpal untuk mu, Kris?." Batin Rayyana pelan sambil menatap lurus ke depan.


Yeah ini sangat setimpal atas rasa sakit hati yang dia rasakan selama ini terhadap laki-laki tersebut yang menurutnya telah menyakiti nya di masa lalu. wanita tersebut tiba-tiba mengingat tentang masa lalunya.


******


Kembali ke masa lalu,


Kediaman utama keluarga Rayyana.


"Aku dengar Tristan sudah di jodohkan dengan putri seseorang yang telah dikenal kakek tua Xavier." Suara seseorang memecah keadaan, dia bicara dengan seseorang di dalam ruang keluarga.


Rayyana muda baru saja turun dari arah lantai atas, niat nya bergegas pergi ke rumah sakit dimana dia bekerja tapi mendengar ucapan ayah nya membuat dia menghentikan langkah kakinya. Dia mencoba untuk menguping pembicaraan.


"Aku dengar seperti itu." Sahutan terdengar, dia pikir dia mengenal suara tersebut.


"Keadaan sangat sulit, bisa atur untuk mendapatkan Tristan untuk Rayyana?, aku dengar juga dia tidak menyukai gadis pilihan kakek nya, Tristan menolak karena gadis tersebut dianggap tidak baik. Dia dan Rayyana berteman sangat baik, coba yakinkan agar Tristan bisa memilih Rayyana untuk calon pendampingnya." Kembali suara ayah nya terdengar.


"Jika mereka bisa bersama, ini akan menguntungkan keluarga kita. Perusahaan bisa jadi kembali bangkit dalam kondisi krisis seperti ini."


Rayyana terlihat berdebar-debar mendengar ucapan ayah nya, seulas senyuman mengembang di balik wajah nya.


Tristan Xavier, siapa yang tidak menyukainya?, bahkan Laura teman baiknya tergila-gila pada laki-laki tersebut, berencana untuk mendapatkan nya karena tahu dengan menikahi Tristan dan menjadi salah satu menantu Xavier pasti akan membuat mereka bahagia dan hidup mewah.


Jika apa yang dikatakan ayah nya benar, dia pikir ini seperti jackpot besar untuk dirinya. Rayyana jelas tidak akan menolaknya.


"Aku akan bicara dengan kakek Xavier, mencoba bicara serius soal semuanya." Jawaban kembali terjadi. Itu adalah pàman kedua nya.


"Pastikan jika semua rencana ini akan berjalan dengan baik karena kita benar-benar tua seseorang untuk dijadikan pijakan pada perusahaan."


"Kamu akan pergi?." Tiba-tiba suara pamannya mengejutkan Rayyana yang sejak tadi berusaha untuk menguping pembicaraan.


dengan wajah malu dan memerah dia langsung menganggukkan kepalanya dan buru-buru turun pada sisa tangga lantas bergerak mendekati kedua orang tersebut, begitu mendekati ayahnya dan paman nya juga di situ, buru-buru menyalami kedua orang tersebut dengan wajah malu-malu.


"Aku akan pergi bekerja." dia menjawab perlahan sembari memegang tengkuknya dengan perasaan malu.


"pergilah dan pastikan kamu tidak pulang terlalu malam karena ayah dan bibi ingin mengajakmu untuk menemui seseorang nanti malam." paman nya nya berucap dengan cepat sembari menatap ke arah Rayyana untuk beberapa waktu.


"Kemana?." gadis tersebut mengerutkan keningnya.


"Bibi mu ingin memperkenalkan kamu pada beberapa teman lama, kamu bisa bergabung dengan putra putri mereka dan berbaur dengan mereka nantinya, hitung-hitung agar kamu lebih punya banyak teman di luar sana." paman nya menjawab cepat.


Yah mungkin benar apa yang diucapkan oleh pamannya tersebut terlebih dahulu dengan orang lain dan bahkan Rayyana cukup tertutup, dia lebih suka berada di rumah membaca buku atau dikamar menonton beberapa film. Dia tidak suka keluar jalan-jalan, bergabung dengan teman-teman atau pergi ke club malam atau kemanapun yang rata-rata suka dilakukan oleh gadis seumurnya karena baginya hal tersebut tidak membuatnya cukup nyaman.


Tanpa menolak ucapan dari paman nya gadis tersebut menganggukan kepalanya.


"He em." setelah berkata seperti itu dia langsung bergerak menjauhi kedua orang tersebut dan bergegas pergi menuju ke arah tempat nya bekerja.


*******


Rumah sakit xxxxxxx,


pusat kota.


"Kalian sudah mendengarnya?." suara seseorang memecah keadaan membuat seluruh ruangan kerja di mana Rayyana berada jadi sedikit heboh.


"Apa-apa?."


"Katakan."


"Aku sudah."


"Ada apa?."


berbagai macam jawaban atau respon dari pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu orang yang ada di sana cukup heboh terjadinya membuat semua orang terpancing untuk ingin tahu.


"Beberapa malam kedepan ada perayaan pesta ulang tahun putra Xavier, mereka bilang Tristan mengundang semua orang tanpa terkecuali untuk ikut dalam perayaan ulang tahun nya."


"Benarkah? dimana?."


"Hahhh benarkah?."


"Benar,hanya saja ada undangan resmi yang dibuat oleh Tristan, katanya jika dapat undangan resmi maka bisa berada didalam satu ruangan dengan nya."


"Aku dengar ada yang mendapat kan undangan resmi malah, tapi orang-orang pilihan yang dekat dengan nya."


Semua orang terlihat begitu antusias saat ini sedangkan Rayyana yang mendengar pembicaraan orang-orang terlihat diam sembari mengembang kan senyuman nya, dia melirik ke arah ponselnya, dimana disana tertulis barisan pesan yang membuat jantung nya berdebar tidak baik-baik saja.


Aku dan paman akan menjemput mu.


Joyce Xavier.


*******


Masih di rumah sakit xxxxxxx,


pusat kota.


Rayyana terlihat celingak-celinguk mencari mobil yang menjemput nya sejak tadi, dia sudah cukup lama menunggu dan seperti biasa sudah bisa dia tebak keponakan dan paman yang itu pasti datang cukup telat untuk menjemput dirinya.


Gadis tersebut melirik kearah jam tangan nya untuk beberapa waktu, kemudian dia kembali melirik kearah jalanan. Seulas senyuman seketika mengembang di balik bibirnya, saat dia melihat sebuah mobil mendekat dan berhenti tepat di hadapan dirinya.


begitu mobil itu berhenti secara perlahan pintu terbuka dan dengan buru-buru gadis tersebut langsung masuk ke dalam.


"Sudah kubilang bukan kita terlambat bukan, paman?." seorang gadis terlihat menyambut dirinya, mengeluarkan jurus ocehannya kepada laki-laki yang membawa mobil.


Joyce Xavier, salah satu putri keturunan Xavier, terlihat mengoceh kearah paman nya yang tidak lain adalah Tristan.


"Sorry kalian tahu sendiri aku cukup sibuk belakangan ini, Rayyana apa kamu tidak masalah menunggu tadi?." Laki-laki tersebut bicara dengan cepat menjawab ucapan keponakan nya kemudian melirik kearah Rayyana yang mulai naik ke atas mobil miliknya tersebut.


Mendengar ucapan dari Tristan, Rayyana dengan cepat langsung menggelengkan kepalanya.


"Itu bukan masalah, kak." Jawab nya cepat.


"Ckckckck memangnya ada gadis yang akan bilang ini masalah serius, kalian bla bla bla.".Dan Joyce terlihat bicara mengejek.


Rayyana terlihat terkekeh mendengar perdebatan diantara kedua orang tersebut.


"Dua malam lagi ulang tahun ku, pastikan untuk datang hmmm." Tristan terlihat fokus pada jalanan, membiarkan bola matanya menatap lurus ke arah depan dan dia bicara pada gadis yang ada di belakangnya tersebut dimana Joyce dan Rayyana berada.


"He em, aku tahu kak." Jawab Rayyana cepat sambil menatap dalam wajah Tristan dari balik kaca tengah mobil untuk beberapa waktu.


Jangan ditanya bagaimana perasaan nya, yang jelas kemanapun dan bagaimana pun itu jika bersama Tristan dia jelas menyukainya.


*******


Restoran xxxxxxxx,


pusat kota.


"Aku cukup terkejut kami dipertemukan di sini." Tristan bicara sambil mengerutkan keningnya menatap ke arah sepasang suami istri yang ada di hadapannya juga ke arah bibi Xavier, kemudian bola matanya tertuju para Rayyana.


"Keluarga Rayyana mengundang untuk melewati makan malam bersama." Bibi Tristan bicara sambil mengembang kan senyuman nya.


Tristan terlihat diam, memilih duduk dan menatap kembali kearah Rayyana.


"Kau tidak pergi bekerja?." Tanya nya kemudian.


*******


Masih di restoran tersebut xxxxxxx,


pusat kota.


Tristan terlihat bicara dengan bibinya dibelakang sana, terlihat sangat tidak suka dengan pertemuan yang dibuat oleh wanita tersebut saat ini seolah-olah dia sadar jika bibinya tengah merencanakan sesuatu di belakang semua orang termasuk kakeknya.


"jangan katakan Bibi menggunakan pertemuan ini untuk menjodohkanku dengan putra Zafar, seolah-olah aku tidak tahu apa yang Bibi pikirkan dan bagaimana jalan pikiran bibi." Tristan jelas mengeram dengan kesal menatap wanita di hadapannya tersebut.


"dia adalah teman dari Joyce, aku menganggapnya persis seperti adikku sendiri jadi jangan pernah menghancurkan hubungan kami dengan perjodohan konyol ini."


"Tris aku hanya memperkenalkan kalian, tidak memaksamu untuk menyukainya atau menerimanya, kamu bilang tidak ingin menikah dengan Lana Lan jadi-,"


"Berhentilah melakukan hal seperti itu, aku tidak menyukai pertemuan ini karena aku tidak menyukai Rayyana dan aku hanya menganggapnya sebagai seorang adik."


*******


Beberapa hari setelah nya,


Pesta ulang tahun Tristan,


Club malam xxxxxxx,


pusat kota.


Suara dentuman musik terdengar memenuhi seluruh ruangan di mana mereka berada, lautan manusia berkumpul aduk menjadi satu saat ini di dalam tempat tersebut.


Bola mata Rayyana mencari sosok Tristan sejak tadi bahkan dia juga mencari Joyce di sana. beberapa teman sibuk menyiapkan minuman untuk semua orang bahkan beberapa kali dia ditawarkan minuman juga.


Gadis tersebut terlihat cukup ragu-ragu untuk menerimanya karena dia tidak terbiasa minum minuman keras seperti itu.


"Sedikit saja bukan masalah." seseorang berbisik di balik telinganya sembari mengembangkan senyumannya.


"kau tahu bukan?, untuk bisa dekat dengan nya, mereka berlomba-lomba bisa menikmati minuman disamping Tristan, jadi dengan begitu kamu bisa duduk disampingnya."


"Come baby, ini hanya pesta yang sesekali terjadi, minum sedikit jelas bukan masalah serius." seorang laki-laki berbisik dengan cepat kemudian menyerahkan gelas minuman ke arah Rayyana.


Gadis tersebut hanya menerima gelasnya tapi dia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya juga belum bergerak untuk mencoba meminumnya.


dari arah depan sana bisa dilihat Tristan dan beberapa orang-orang terdekat yang bergerak masuk ke dalam di sambut begitu antusias oleh para perempuan dan gadis, membuat Rayyana cukup kehilangan kesempatan untuk menyapa laki-laki tersebut. Untungnya ada Joyce yang selalu mengutamakan posisinya untuk bergabung dengan mereka.


Pesta malam itu sangat heboh dan luar biasa, di mana para gadis terus menempel pada laki-laki yang disukainya tersebut dan para gadis itu bahkan berlomba-lomba untuk bisa menghabiskan minuman di hadapan Tristan. dia tahu laki-laki itu adalah laki-laki Playboy yang selalu berganti perempuan ketika dia mau, jadi tidak heran jika banyak sekali perempuan berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan hatinya dengan tidur bersama meskipun hanya satu malam.


Rayyana terlena pada keadaan, mencoba menyesap minuman yang ada di tangan nya secara perlahan, cukup kesal menatap para perempuan yang terus menempel dengan Tristan.


*******


Club malam xxxxxxx,


Usai pesta,


pagi.


Rayyana terlihat menggerakkan perlahan tubuhnya dari tidur lelapnya semalam, rasa pening karena minum masih Menghantam nya, dan rasa nyeri dibawah sana jelas cukup membuat nya meringis bukan main.


Dia pikir apa yang terjadi pada dirinya semalam?. Dia mabuk, Joyce dan Tristan mengantar nya ke sebuah kamar dan....


"Aku tidak meniduri nya, kau gila." Suara seseorang memecah suasana pagi ini.


"Kau pikir aku se brengsek itu?, yang benar saja."


"Kau mencoba menghindar dari tanggung jawab?."


"Oh come on, aku mana mungkin menikahi nya, aku bermain dengan banyak perempuan dan aku tidak meniduri nya."


"Kau yang membawa nya semalam, apa kau pikir orang percaya?."


******


Kembali ke masa kini,


Masih di area parkiran.


Rayyana mengeratkan cengkraman nya pada stir mobilnya untuk beberapa waktu, dia mencoba untuk menajamkan bola matanya sejenak.


"Bukankah ini belum seberapa?, yah ini belum seberapa Kris." Batinnya kemudian.